Ada Slogan Be Metal

Ilustrasi: Maria Worobyova

DI DALAM kehidupan sehari-hari masyarakat baratkebetulan), kebiasaan membaca menjadi perilaku yang dilakukan secara rutin. Tujuannya adalah untuk memahami informasi dan mendapatkan hiburan dari materi tertulis.

Bahan bacaan dapat diperoleh melalui surat kabar, majalah, buku elektronik, kertas elektronik, dan aplikasi elektronik untuk penyedia layanan membaca berbayar. Membaca bermanfaat untuk memperoleh pengetahuan bagi diri sendiri dan mengetahui bagaimana memahami perasaan orang lain.

Untuk komunitas berbahasa Inggris, ada istilah perilaku kebiasaan membaca atau kebiasaan membaca. Sudah menjadi semacam kebutuhan primer. Sama seperti asupan makanan dan minuman ke dalam tubuh.

Saya telah melihat dan mengalami perilaku penumpang di kereta bawah tanah (kereta bawah tanah; transportasi bawah tanah) yang berada di Moskow, Rusia. Pemandangan umum pada jam sibuk, penumpang membaca buku dan koran. Selama di metro, orang jarang berbicara. Masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri.

Melalui membaca, seseorang menjadi lebih bijaksana, lembut, dan berwawasan luas.

Sebagian besar penumpang membaca informasi melalui aplikasi. Kebetulan terhubung di ponsel mereka. Berbeda dengan lansia yang mayoritas berusia antara 50-80 tahun. Mereka memilih untuk membaca Metro (Moskow Gazeta), surat kabar sore gratis. Penumpang dapat mengambil di pintu keluar dan masuk ke stasiun.

Isi rubrik bervariasi. Mulai dari bisnis, politik, lowongan kerja, hingga iklan properti. Sirkulasi cetak harian adalah 310.000 eksemplar. Nomor ini hanya untuk wilayah Moskow, tidak termasuk St. Petersburg dan kota-kota lain di Rusia.

Untuk beberapa siswa asing, surat kabar gratis adalah pilihan. Saya sendiri merasakan pentingnya informasi tersebut. Tidak buruk untuk membaca dalam perjalanan 30 hingga 40 menit di metro atau hanya untuk fasih berbahasa Rusia.

Di London, ada juga Metro (Koran Inggris) di stasiun kereta. Sirkulasi cetak harian mencapai 1.055.819 eksemplar. Surat kabar tersebut didanai oleh perusahaan transportasi lokal. Salah satu cara bagaimana kebiasaan perilaku membaca diterapkan pada masyarakat sekitar. Menjadi budaya membaca (budaya membaca) dari satu generasi ke generasi lainnya.

Saya baru saja menyebutkan dua contoh surat kabar gratis di Moskow dan London. Bagi masyarakat di sana, membaca adalah kewajiban. Saya juga merasakan manfaatnya secara langsung.

Jika Anda tidak membaca, bersiaplah untuk dianggap sinis atau Anda bisa dianggap bodoh.

Baca juga: Tidak Ada yang Baru di Bawah Matahari

Memori yang kuat

Antropolog Inggris Edward Burnett Tylor pernah mendefinisikan budaya (1871). Menurutnya, kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang kompleks. Ini mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, dan adat istiadat.

Tylor mendefinisikan konsep itu 151 tahun yang lalu. Masih bisa diperdebatkan sampai sekarang. Artinya, budaya membaca menjadi pembentukan pengetahuan seseorang. Ada baiknya menjaga moral agar tetap waras dan selalu berpikir logis di tengah padatnya kehidupan kota.

Dalam kehidupan sehari-hari, budaya membaca tidak lepas dari pengaruh budaya Eropa. Mereka tiba di Hindia Timur pada abad ke-16. Dimulai oleh Portugis dengan upaya misionaris oleh ordo Katolik Roma.

Kehadiran Portugis di Hindia Timur, mencapai Malaka (Malaysia), Solor, Flores, Timor, Ternate, Ambon, dan Banda. Orang Portugis menanamkan budaya membaca pada penduduk setempat melalui kegiatan seminar dan gereja. Jangan heran jika seorang pendeta atau pendeta memiliki pengetahuan linguistik lebih dari satu bahasa.

Tak disangka, peninggalan Portugis di Nusa Tenggara Timur dan Maluku, misalnya, begitu kental hingga saat ini. Tradisi belajar di seminari dan gereja berakar pada budaya lokal. Portugis berhasil menanamkan agama Kristen melalui budaya membaca.

Padahal, kebiasaan membaca perlu dimulai sejak dini. Peran orang tua dalam menyiapkan bahan bacaan yang ringan, informatif, dan menghibur sangat penting untuk meningkatkan cara berpikir anak.

Salah satu contohnya adalah rekan penyair Frans Ekodhanto Purba. Ia selalu menyiapkan bahan bacaan ringan untuk putra tunggalnya di rumahnya di Jakarta Selatan. Bagi Frans, mengenalkan buku bacaan bergambar penting dalam membentuk karakter juniornya.

Setidaknya, ada tiga faktor yang mendukung perilaku pembiasaan membaca. Ketiganya adalah peran orang tua, lingkungan tempat tinggal, dan aktivitas sekolah. Sejujurnya, membaca adalah kegiatan yang sama pentingnya dengan menulis. Perilaku membaca awal mengacu pada kebiasaan melahap informasi secara teratur.

Manfaat mantap sebagai peningkatan daya ingat, kedisiplinan, perbendaharaan kata, kreativitas, dan keterampilan. Di tingkat nasional, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan bangsa. Sumber daya manusia juga menjadi handal.

Secara pribadi, saya sebenarnya merasa aneh dengan maraknya penggunaan slogan “budaya membaca” di Republik ini. Bangsa ini seolah bangga menggemakan semboyan yang sebenarnya abstrak. Padahal, budaya masyarakat Timur (oriental) adalah “budaya bicara (kanan)”.

Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan terus mengalami kemajuan di tanah air. Kebiasaan membaca kita dihadapkan pada tantangan, seperti gangguan bahasa, pendanaan pendidikan yang buruk, dan pendapatan ekonomi yang rendah.

Di masa-masa sulit, orang lebih membutuhkan minyak goreng daripada buku. Realitas yang dihadapi hari-hari ini. Buku puisi juga dihargai lebih murah daripada sebungkus kacang goreng. Padahal, melalui puisi ada kehidupan di sana.

Dalam perkembangan dunia literasi, budaya membaca masih perlu ditingkatkan melalui penyediaan bahan bacaan di kafe, terminal bus, dan stasiun. Kampanye promosi pembaca juga penting untuk membuat kota ramah literasi. Buku tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sebuah bangsa yang besar.

Hanya untuk meminjam pandangan Taylor. Saya menerapkannya dalam kehidupan masyarakat kontemporer kita saat ini. Budaya membaca itu kompleks. Termasuk ilmu dan akhlak.

Jika ingin berilmu maka bacalah, sebaliknya jika ingin bermoral maka tulislah.

Penyediaan surat kabar gratis di stasiun kereta api, baik di Moskow maupun di London, adalah kampanye membaca yang benar. Tanpa disadari, budaya membaca sebenarnya sudah mengakar lebih dalam pada masyarakat pengguna transportasi massal.

Namun, Anda harus bersyukur. Budaya membaca telah lama mengakar di sekolah dan perguruan tinggi. Para pendiri bangsa telah memikirkannya sejak Republik terbentuk, bahkan jauh sebelum zaman penjajahan ketika Portugis, Belanda, Prancis, dan Jepang memerintah negara itu.

Seperti logam keras yang dapat dicairkan oleh panasnya api. Demikian juga kebodohan dapat dilenyapkan dengan banyak membaca. Kebiasaan membaca tidak hanya sluagh-ghairm alias slogan. (SK-1)

Baca juga: Siapa Nama Penyair?

Baca juga: Jejak Kartel Minyak Goreng

Baca juga: Sajak Kofe, Toko Puisi Pasca Kontemporer Indonesia

Iwan Jaconiah, penyair, penulis esai, jurnalis Media Indonesia dan Metro TV. Pemenang Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2015) dan Beasiswa Penuh Pemerintah Rusia (2015). Ia adalah penulis Indonesia pertama yang meraih Diploma of Honor Award pada Festival Sastra Internasional X “Chekhov Autumn-2019” di Yalta, Republik Krimea, Federasi Rusia. Buku terbarunya adalah kumpulan Hoi! (Pers Terbit, 2020).

Tags: , ,

Related Post