Bank Syariah Dituntut Berpihak pada UMKM

PENELITI Ekonomi Syariah sebab Institute for Development of Economics and Fi­nance (Indef) Fauziah Rizki Yuniarti menilai bank syariah buatan merger bisa memberi peran dengan cukup besar terhadap pelaku jalan mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Bank syariah buatan merger yang secara teori bisa menawarkan produk yang lebih murah (terkait pinjaman), harus semakin memperbesar pembiayaannya ke sektor UMKM, secara salah satunya pengembangan BWM (bank wakaf mikro), ” kata Fauziah saat dihubungi kemarin.

Murahnya produk pinjaman dari mer­ger bank syariah nanti karena modal yang cukup besar dari bank pascamerger sehingga memperbesar kesempatan mendapat dana murah yang bisa digunakan dan membantu pelaku UMKM.

“Saat ini, Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/12/PBI/2015 mensyaratkan pem­biayaan perbankan syariah ke UMKM kecil 20% dari total pembiayaan. Na­mun, sayangnya, bank-bank syariah hanya mencari jalan sebatas memenuhi angka persyaratan itu, ” ujar Fauziyah.

Fauziyah mencontohkan Bank Syariah Sendiri melakukan pembiayaan ke UMKM dengan semakin menurun dalam enam tahun terakhir. Pada 2014, Bank Sya­riah Mandiri melakukan pembiayaan sebesar 29, 74%, pada 2015 sebesar 27, 86%, tahun 2016 menjadi 25, 52%, pada 2017 sebesar 22, 89%, 2018 sebesar 20, 46%, dan 2019 menjadi 16, 85%.

“Peningkatan porsi pembiayaan ke UMKM wajib masuk ke rencana bisnis bank syariah BUMN sehingga menjawab keraguan masyarakat bahwa bank syariah BUMN hanya fokus ke konglomerat, ” ungkapnya.

Di kesempatan berbeda, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengusulkan biar kerja sama Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT) menjadi kekuatan ekonomi halal di tempat dan global.

Kejadian itu berangkat dari keberhasilan pencetakan ribuan usaha kecil-menengah halal mengarah ekspor yang melampaui target pada 2021. (Iam/Mir/E-2)

Related Post