Buah Ramadan

KETUA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan mengambil Idul Fitri boleh dijalani dengan kegembiraan. Namun, itu jangan dilakukan secara kelewatan dengan belanja dan acara lainnya yang melampaui kemestian, apalagi dengan berkerumun.

Idul Fitri, tinggi dia, harus tetap dijalani sebagai satu rangkaian secara puasa Ramadan. Lebih-lebih status pandemi yang belum teduh, kesahajaan harus dikedepankan dan jauhi keberlebihan karena Allah tidak menyukai hamba-hamba dengan melampaui batas seperti tercantum pada QS Al-Maidah: 87.

“Ingat banyak saudara kita yang kejelekan dan terdampak pandemi. Sebagai insan beriman mesti menunjukkan sikap empati, simpati, dan peduli sebagai wujud ihsan dan kesalehan, ” sebutan Haedar, Kamis (6/5).

Kegiatan ibadah yang melibatkan kerumunan juga sepatutnya dihindari dan ditempuh cara yang juga dibolehkan syariat Islam di kala gawat. Ia mengingatkan, jangan merasa aman dan terbebas sebab pandemi. Kaum muslim dapat menjadi uswah hasanah di dalam keadaan normal lebih-lebih dalam kala darurat.

“Jauhi sikap ananiyah (egois) dan ghuluw (ekstrem) di beragama dan menyambut Lebaran, ” kata dia.

Salat sunnah Idul Fitri pun perlu istimewa hati-hati. Kalau salat Idul Fitri tidak memungkinkan dilakukan melibatkan jamaah yang penuh, sebaiknya salat Idul Fitri dilakukan sangat terbatas pada sekitar lingkungan atau di rumah tanpa melibatkan jamaah haji yang banyak.

“Sabda Nabi jauhi situasi yang darurat dan dengan menimbulkan kedaruratan bagi karakter lain. Allah mengingatkan di Alquran, jangan menjatuhkan dirimu pada kebinasaan atau kehancuran seperti tercantum pada Al-Baqarah: 195), ” jelas Haedar.

menyuarakan juga: Idul Fitri 1442 H/2021

Dengan itu, lanjut Haedar, Allah menghendaki kemudahan & tidak menghendaki kesulitan di dalam beragama (QS Al-Baqarah: 185). Pemerintah telah melarang mudik. Haedar meminta sebaiknya seluruh mengikutinya demi mencegah pagebluk dan mengatasi pandemi supaya tidak bertambah luas.

“Memang berat membuang tradisi mudik yang memiliki manfaat positif bagi pertalian di tempat asal. Tetapi karena situasi pandemi oleh karena itu akan lebih maslahat masa semua pihak bersikap saksama, ” pesan dia.

Sikap saksama bukanlah takut dan paranoid, tetapi bagian dari ikhtiar mengatasi pandemi. Pihaknya juga berharap pemerintah membatasi kegiatan wisata dan pusat keramaian lainnya agar konsisten.

“Apalah artinya mudik dilarang kalau pusat-pusat keramaian publik dilonggarkan, ” tegas Haedar.

Menurut dia, mencegah dan menahan muncul dari segala bentuk kerumunan dan keadaan yang membina mudarat harus diutamakan bagi setiap warga bangsa dengan baik dan bertanggungjawab. Apalagi bagi muslim yang bertarak dan berhasil dengan puasanya dalam pengendalian diri, situasi itu harus diutamakan. (OL-3)

Related Post