Budidaya Kedelai Mandiri Baru Sesuai Keinginan

KETUA Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin menjelaskan, produsen tempe tahu akan mogok kerja selama tiga hari mulai Senin (21/2). Pasalnya, harga kedelai dilaporkan terus mengalami kenaikan. Dalam tuntutan aksi mogok tersebut, para perajin meminta pemerintah menaikkan harga produk pangan tersebut. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerugian. (mediaindonesia.com, 17/2).

Rencana mogok tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena kondisinya dianggap tidak berpihak kepada mereka. Bukan hal baru lagi jika kedelai yang menjadi bahan baku tempe sering langka. Ketergantungan pada impor membuat para perajin tidak bisa berbuat banyak.

Dalam konteks itu, pemerintah membutuhkan keseriusan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mampu mewujudkan budidaya kedelai. Sudah saatnya membuktikan budidaya kedelai mengingat negara ini sudah 15 tahun mengimpor kedelai. Rentang waktu yang sangat lama untuk ukuran sebuah negara yang memiliki tanah subur dan sangat luas.

Pemerintah memproyeksikan pada 2022 produksi kedelai dalam negeri hanya mencapai 200.315 ton. Sementara kebutuhan kedelai dalam negeri diperkirakan mencapai tiga juta ton per tahun, namun baru dapat dipenuhi sekitar 20 persen. Artinya, kelangkaan kedelai yang sudah berlangsung bertahun-tahun tidak ditanggapi secara serius.

Jika pemerintah benar-benar serius mengatasi kelangkaan kedelai, bukanlah hal yang sulit untuk diwujudkan. Masalah mendasar yang dihadapi petani adalah harga jual hasil panen yang tidak mencukupi untuk biaya produksi kedelai. Jangankan untung, hanya bisa mengembalikan investasi itu bagus.

Harga Kedelai berada di kisaran Rp 5.000 per kilogram (kg) sedangkan petani tidak bisa untung jika harganya di bawah Rp 7.000 per kg. Karena dalam satu hektar (ha) hanya mampu menghasilkan sekitar 1,5 ton kedelai yang bernilai sekitar Rp. 12 juta. Jadi, untuk mendapatkan harga panen kedelai Rp. 7.000 per kg dibutuhkan pengambil alih (penjamin). Bahkan aku sebagai pengambil alih Saya berani membeli kedelai hasil panen petani dengan harga Rp 8.000 per kg asalkan seluruh proses produksi berada di bawah pengawasan atau bimbingan saya. Prosesnya dimulai dari penentuan bibit, pemupukan, nutrisi, pemeliharaan hingga penanaman, dan panen.

Dengan harga Rp. 8.000 per kg, dalam satu ha tanaman kedelai yang menghasilkan 1,5 juta ton, angkanya Rp. 12 juta. Jika ini dilakukan, petani tidak akan ragu lagi menanam kedelai karena menguntungkan. Namun pengambil alih tidak dapat berdiri sendiri. Dibutuhkan banyak rupiah untuk membantu petani kedelai. Salah satu caranya adalah dengan mendukung dunia perbankan. Tidak pribadi. Keterlibatan dunia perbankan sangat diperlukan untuk sirkulasi sistem keuangan.

Butuh kredit usaha rakyat

Jika Kementerian Pertanian berencana menanam 600 ribu ha kedelai tahun ini di seluruh Indonesia, dibutuhkan anggaran minimal Rp 2,4 triliun. Asumsi dasarnya adalah biaya per hektar membutuhkan biaya produksi sekitar Rp. 4 juta, mulai benih, pupuk, pemeliharaan dan sortasi tanaman.

Angin segar mulai bertiup. Berawal dari Direktorat Aneka Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Akabi) Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Doa Agribisnis Bangsa menandatangani nota kesepahaman (MoU), penanaman 600 ribu ha kedelai. Padahal, langkah konkrit telah dilakukan di lapangan, mulai dari survei lapangan hingga pembinaan kepada calon petani dan calon penerima bantuan. Sayangnya, semua tindakan tersebut belum diperhatikan oleh kalangan perbankan. Padahal petani kedelai membutuhkan dukungan anggaran melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pemerintah menganggarkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun ini sebesar Rp 373,17 triliun. Dari angka itu, baru sekitar 30% yang dikucurkan untuk pertanian. Dari 30% tersebut, masih akan dibagi menjadi berbagai varietas tanaman. Akibatnya, bagi petani kedelai, belum ada yang menerima pencairan KUR.

Keinginan besar untuk membuat Indonesia mewujudkan budidaya kedelai, rasanya hanya sebatas ‘keinginan’. Ingin membudidayakan kedelai, ingin menjadi lumbung kedelai, tidak ingin impor, ingin harga tempe murah, ingin kedelai dipasok dalam negeri, ingin petani kedelai sejahtera, dan masih banyak keinginan lainnya. Masalah pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab salah satu pihak saja, mengingat ketahanan pangan merupakan sektor strategis bangsa. Namun, tanpa keseriusan dan perhatian Pemerintah, dunia perbankan, para petani sendiri, semua ini hanya akan ada dalam angan-angan.

Related Post