Ekonomi

ekonomi-1

KEMENTERIAN Keuangan mencatat utang pemerintah semenjak akhir Maret 2021 mencapai Rp6. 445, 07 triliun, dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 41, 64%. Pinjaman itu berasal dari Tulisan Berharga Negara (SBN) sejumlah Rp5. 583, 16 triliun dan pinjaman sebesar Rp849, 38 triliun.

Komposisi SBN pada mutlak utang pemerintah itu menyentuh 86, 63% yang mengungkung penerbitan SBN domestik senilai Rp4. 311, 57 triliun dan terdiri dari Tulisan Utang Negara (SUN) Rp3. 510, 47 triliun serta Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Rp801, 10 triliun. Lalu SBN valas sejumlah Rp1. 271, 59 triliun yang terdiri dari SUN Rp1. 024, 59 triliun dan SBSN Rp247 triliun.

Sedangkan susunan pinjaman pada utang negeri mencapai Rp861, 91 triliun, atau 13, 37% sejak total utang di akhir Maret 2021. Jumlah pinjaman itu berasal dari pinjaman dalam negeri Rp12, 52 triliun dan pinjaman asing negeri Rp849, 38 triliun. Pinjaman luar negeri tersebut terdiri dari pinjaman bilateral Rp323, 144 triliun; pinjaman multilateral Rp482, 02 triliun; dan commercial banks Rp44, 23 triliun.

Baca juga: BKPM: Investasi Mangkrak Sudah Tereksekusi Rp517, 6 Triliun

Kendati jumlah utang pemerintah meningkat, dalam laporan ABPN KiTA edisi April 2021 itu dinyatakan level pembiayaan itu masih dalam koridor. “Peningkatan pembiayaan pemerintah tetap dikerjakan menurut koridor yang valid. Dalam pelaksanaannya, pemerintah terus melakukan koordinasi dan sinergi dengan berbagai otoritas, termasuk DPR sebagai lembaga yudikatif dan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, ” tulis laporan yang dikutip Senin (26/4).

Selain itu, level utang Nusantara juga dinilai masih di dalam batas aman. Sebab, pada triwulan I 2021 4 lembaga pemeringkat kredit serupa Moodys, Fitch Ratings, S& P dan R& I telah melakukan asesmen tahunan terhadap Indonesia dan hasilnya terbilang positif.

Sebab, di tengah kemerosotan peringkat kredit terhadap beberapa besar negara sebagai efek pandemi, keempat lembaga pemeringkat itu justru mempertahankan status kredit Indonesia di golongan sebelumnya. Level itu yaitu Moodys pada Baa2/stable, Fitch pada BBB/stable, serta yang terbaru adalah R& I dan S& P dengan mengafirmasi peringkat kredit Indonesia masing-masing pada BBB+/stable & BBB/negative.

Adapun realisasi pembiayaan utang pemerintah hingga akhir Maret 2021 mencapai Rp328, 464 triliun, atau 32, 1% dibanding realisasi SBN (neto) Rp337, 21 triliun dan realisasi pinjaman (neto) sebesar negatif Rp8, 74 triliun. (OL-4)

Related Post