Esensi Paskah, Mengajarkan Orang untuk Selalu Jujur dan Sederhana

HARI INI, Minggu 17 April 2022, saudara-saudari Kristen kita di seluruh negeri, sekali lagi memperingati dan merayakan Paskah, salah satu hari besar keagamaan bagi umat Kristiani.

Jika dicermati dan ditelaah dengan baik, sejarah atau kisah peristiwa Paskah memberikan banyak contoh dan nilai-nilai kehidupan yang baik, tidak hanya bagi umat Kristiani tetapi juga bagi umat manusia di dunia.

Melalui buku dan cerita Paskah dari beberapa sahabat Kristiani, saya dapat menyimpulkan bahwa peristiwa Paskah erat kaitannya dengan nilai-nilai pemberantasan korupsi.

Dalam cerita Paskah disebutkan bahwa seorang murid Yesus yang bernama Yudas Iskariot, menerima suap 30 keping uang perak dari para imam kepala untuk menyerahkan Yesus agar dinyatakan bersalah melakukan penistaan ​​terhadap Tuhan, hingga ia dijatuhi hukuman mati oleh penyaliban sebagai hukuman biasa bagi seorang penjahat pada waktu itu.

Kematian Yesus tidak berlangsung lama, ia bangkit dan dianggap sebagai obat penyembuh bagi jiwa-jiwa yang terluka oleh orang-orang Kristen.

Dari kejadian ini sangat jelas betapa berbahayanya suap, salah satu praktik korupsi yang dampak destruktifnya tidak hanya merugikan keuangan dan perekonomian, tetapi juga dapat menghancurkan bahkan membunuh orang dan negara.

Bayangkan, hanya disuap 30 koin perak kuno tetradrachm yang saat ini setara dengan 19,2 US Dollar atau jika dikonversikan menjadi sekitar Rp. 250.000, seorang siswa tega mengkhianati gurunya sampai mati.

Namun sayangnya, tindak pidana korupsi yang serupa dengan masa lalu, masih terjadi hingga saat ini dimana praktik suap merupakan jenis korupsi yang paling disukai oleh para koruptor di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data penanganan korupsi yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak 2004 hingga 2021, suap merupakan kasus yang paling banyak kita tangani, yakni 761 kasus.

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu menyampaikan faktor utama penyebab korupsi menurut teori Jack Bologne, yaitu keserakahan, peluang, kebutuhan, dan keterpaparan.

Faktor lain yang menyebabkan seseorang melakukan tindak pidana korupsi adalah karena kurangnya moral, etika dan integritas, serta sistem yang buruk atau lemah sehingga dapat membuka celah bagi tindak pidana korupsi.

Untuk mengantisipasi terjadinya faktor-faktor tersebut, KPK menerapkan strategi Trisula Pemberantasan Korupsi yang menjadi core business KPK, yaitu Pendekatan Edukasi Masyarakat, Pendekatan Pencegahan melalui Perbaikan Sistem, dan Pendekatan Penegakan yang Tegas dan Profesional.

Kami sangat menyadari bahwa pemberantasan korupsi bukan hanya OTT, meskipun perlu dan penting. Namun, langkah sukses mencegah korupsi dengan memperbaiki sistem juga tak kalah pentingnya. Selain upaya pencegahan korupsi, membangun budaya antikorupsi melalui pendidikan publik juga sangat mendasar. Kami menamakannya Orkes Pemberantasan Korupsi, yang merupakan langkah efektif dan komprehensif untuk memberantas korupsi.

Strategi pemberantasan korupsi yang fundamental, sistemik dan holistik serta terintegrasi menjadi semangat baru dalam Orkes Pemberantasan Korupsi. Edukasi masyarakat meningkatkan kesadaran agar masyarakat tidak mau melakukan korupsi. Pencegahan dengan perbaikan sistem menutup peluang dan celah korupsi. Sedangkan penuntutan membuat masyarakat takut melakukan korupsi karena ancaman pemiskinan melalui penyitaan aset dan tindak pidana pencucian uang.

Kembali ke peristiwa Paskah, Yesus ditampilkan sebagai sosok sederhana dalam hidupnya. Begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW, Nabi Besar Muhammad SAW yang juga dikenal sebagai sosok yang sederhana, meskipun beliau adalah pemimpin umat yang besar di dunia.

Kesederhanaan adalah sifat dan kerendahan hati seseorang, yang selalu mengutamakan kesederhanaan dalam menjalani hidup dan hidup di dunia fana ini.

Dalam konteks ini, kita semua memiliki pandangan yang sama bahwa korupsi adalah perbuatan jahat, buruk dan tercela yang dilarang oleh agama manapun di muka bumi ini.

Korupsi jelas bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan agama, sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa koruptor sebenarnya adalah perusak agama, terutama agamanya sendiri.

Sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi di Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentunya membutuhkan peran serta nyata seluruh pemeluk agama dan kepercayaan di republik ini, termasuk umat Kristiani, untuk memberantas penyakit kronis (korupsi) yang telah membudaya di negara Republik ini. dari Indonesia.

Wujud nyata dari peran dan kontribusi umat beragama tidak hanya ikut mengkampanyekan pentingnya budaya ANTI KORUPSI dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga menerapkan pola hidup sederhana dan selalu mengedepankan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, dalam rangka mempengaruhi budaya ANTI KORUPSI untuk membentuk klaster ANTI KORUPSI di masyarakat.

Alhamdulillah budaya ANTI KORUPSI mulai menjadi trend atau gaya hidup baru di Indonesia, sehingga diharapkan ANTI KORUPSI menjadi hal yang lumrah dalam setiap tatanan dan sendi kehidupan sebagai negara-bangsa di muka bumi ini.

Perayaan paskah tidak boleh hanya sekedar perayaan yang identik dengan hari raya keagamaan. Paskah sebenarnya merupakan sarana atau momentum untuk merefleksikan nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, terutama kesederhanaan yang juga diajarkan oleh agama-agama lain.

Selamat Paskah, mari kita tebarkan cinta bersama dan selalu tanamkan nilai-nilai kesederhanaan dan semangat ANTI KORUPSI di hati dan urat nadi seluruh anak bangsa di republik ini, agar Indonesia benar-benar bersih dan bebas dari praktik korupsi.

Indonesia yang bebas dan bersih dari korupsi merupakan prasyarat untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera, maju, cerdas, aman dan damai, dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote, dimana kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat tercapai. terwujud jika korupsi benar-benar hilang dari ibu pertiwi.

Related Post