Formula E, Prestasi atau Duri untuk Anies?

Batu sandungan Formula e Anies

Halo sobat. Sampai jumpa lagi di program editor media indonesia.

Jika berbicara tentang DKI Jakarta, tentu bukan hanya kemacetan dan banjir. Dua masalah ini mungkin sudah menjadi rutinitas sehari-hari warga sejak sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Jika kita berbicara tentang Jakarta saat ini, tentu tidak lepas dari sosok Anies Baswedan. Gubernur DKI Jakarta yang akan meninggalkan jabatannya pada 16 Oktober 2022 atau sekitar 11 bulan dari sekarang.

Setelah itu, Anies bisa duduk santai dan menikmati masa pensiunnya dari politik. Atau bisa juga menunggu acara besar yang disebut Pilpres 2024. Apalagi posisi Gubernur DKI Jakarta memang sangat strategis untuk melangkah ke kancah nasional. seperti pendahulunya, Joko Widodo. Atau, bisa jadi Anies kembali dalam Pilgub DKI Jakarta 2024. Toh, Anies masih diperbolehkan mengikuti kontestasi karena baru menjabat satu periode. Yang pasti, Anies harus mangkir dari jabatan publik selama hampir dua tahun jika ingin mengikuti kontes politik. Pasalnya, Pilkada 2022 ditiadakan untuk difokuskan pada 2024 bertajuk Pilkada Serentak.

Potensi, jelas Anies punya potensi. Bahkan, nama Anies termasuk dalam tiga besar calon presiden pengganti Joko Widodo jika merujuk pada berbagai survei. Anies bersaing ketat dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Dari segi prestasi, Anies memiliki latar belakang akademik dan pernah menjabat Rektor di salah satu universitas ternama dan pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Secara akademis, Anies adalah lulusan asing yang tentunya memiliki kemampuan penalaran dan bahasa asing yang baik. Selain itu, Anies juga konsisten tidak terdaftar sebagai kader atau pejabat parpol.

Dan pada kontestasi Gubernur DKI Jakarta 2017, Gerindra dan PKS yakin Anies yang didampingi Sandiaga Uno bisa menang. Terbukti dia akhirnya berkuasa di ibu kota negara. Meski banyak yang mengatakan selama Pilkada DKI, politik identitas menemukan muaranya.

Apakah model ini akan kembali diterapkan untuk ikut bertarung di tingkat nasional? Masih adakah parpol yang berminat menjalin kerja sama dengan Anies mengingat Anies kehilangan momentum dengan kehilangan kursi gubernur?

Jika melihat dua nama lain yang berpeluang paling tinggi pada 2024 berdasarkan survei, Prabowo adalah orang yang paling berpengalaman. Prabowo adalah salah satu peserta konvensi capres Partai Golkar tahun 2004. Saat itu, Prabowo dikalahkan Wiranto.

Pada 2009, Prabowo yang sudah mendirikan Partai Gerindra pernah bekerja sama dengan Ketua Umum DPP PAN saat itu, Soetrisno Bachir. Namun karena tidak memenuhi syarat minimal dukungan, Prabowo beralih dan menjadi calon wakil presiden mendampingi Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. Dalam pemilihan presiden kali ini, Mega-Prabowo kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Pada 2014, Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa dan kalah melawan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Dan pada 2019, Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno dan kembali mengalahkan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Sedangkan Ganjar Pranowo adalah kader PDIP sejati. Sebelum menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah selama dua periode sejak 2013, Ganjar pernah menjadi anggota DPR dari FPDIP pada 2004-2009 dan 2009-2013. Untuk 2024, secara internal PDIP Ganjar harus bersaing dengan putri Ketua DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani. Meski dari berbagai survei, Puan tidak masuk dalam tiga besar kandidat.

Di sisi lain, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini tengah mengkaji dugaan korupsi penyelenggaraan balapan Formula e yang akan digelar di Jakarta pada 2022. Program yang sering digaungkan Anies akan menguntungkan Jakarta dan Indonesia. Rencananya, ajang balapan ini akan digelar pada Juni 2022 sebagai bagian dari ulang tahun Jakarta.

Pj Juru Bicara KPK Ali Fikri membenarkan pihaknya telah meminta keterangan dan klarifikasi dari sejumlah pihak terkait Formula e. KPK telah memeriksa Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Ahmad Firdaus selama tujuh jam. KPK meminta masyarakat aktif membantu mengumpulkan bahan informasi yang dibutuhkan.

Bagi Fraksi PKS DPRD DKI yang merupakan pendukung fanatik Anies, ia menegaskan tidak ada yang aneh dalam penganggaran Formula e. Menurut anggota F-PKS M Taufik Zoelkifli, anggaran dari APBD DKI Jakarta sebesar Rp 560 miliar sebagai biaya komitmen sesuai dengan kontrak dengan tim Formula e Operations atau FEO. FEO adalah manajemen induk dari balapan mobil listrik.

Berbeda dengan Taufik. Anggota Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Anthony Winza Prabowo, sebenarnya mengatakan PSI telah menemukan banyak hal aneh sejak awal. Ia mengaku tidak ikut membahas Formula e karena baru diresmikan pada pertengahan 2019. Saat itu sudah ada penetapan revisi APBD termasuk anggaran biaya komitmen untuk Formula e.

Ia mempertanyakan masuknya rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) yang tiba-tiba muncul dalam APBD. Bahkan biaya komitmen yang dikucurkan pun dinilai terlalu mahal. Keanehan lainnya, kata Anthony, saat PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mengatakan telah berhasil bernegosiasi dengan FEO sehingga komitmen fee sebesar Rp560 miliar yang semula hanya untuk dua musim, menjadi tiga musim, juga patut dicurigai. . Apalagi ada perubahan angka yang sangat fantastis. Jika pada awalnya dana mencapai 20 juta pound per tahun dan setiap tahun meningkat 2 juta pound, tiba-tiba menjadi Rp 560 miliar.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga telah diperiksa sebagai saksi dalam kasus yang juga memeriksa Anies terkait korupsi pengadaan tanah di Munjur, Desa Pondok Ranggon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Juru bicara KPK Ali Fikri menyatakan pihaknya telah menetapkan tersangka dalam kasus ini, yakni Direktur Utama Perusahaan Pembangunan Daerah atau PD Sarana Jaya Yoory C Pinontoan; Direktur PT Adonara Propertindo Tommy Adrian; Wakil Direktur PT Adonara Anja Runtuwene; dan Rudy Hartono.

Dengan demikian, proses hukum di Formula e bisa menjadi warisan dan prestasi bagi Anies. Namun, itu juga bisa menjadi duri.

Related Post