Guru sebagai Perencana, Pelaksana, dan Pengembang Kurikulum

DALAM bukunya, Sekolah itu membuat ketagihan, Roem Topatimasang (1998) menggambarkan sekolah yang tanpa disadari menjadi racun yang merusak fitrah belajar anak. Menurutnya, selama ini sekolah menjadi tempat yang selalu dianggap benar dan tidak pernah salah. Sekolah hanya mengajarkan dan merekomendasikan apa yang benar. Siswa yang melakukan kesalahan akan dihukum. Begitulah sekolah kami selama ini dijalankan dan ‘disetujui’ oleh sebagian besar dari kami, para orang tua siswa.

Anak dituntut untuk menyesuaikan diri dengan standar yang ditetapkan oleh sekolah, orang tua, bahkan masyarakat di sekitarnya. Standardisasi yang terjadi tanpa disadari menjadi penyebab hilangnya keragaman intelektual dan kreativitas siswa. Mereka dituntut untuk mampu dan menguasai segala bidang ilmu yang diajarkan oleh guru dan—yang lebih disayangkan—kecerdasan akademik selalu menjadi tolak ukur keberhasilan siswa.

Keadaan ini menyebabkan anak dengan kemampuan akademik yang terbatas menjadi malas untuk belajar dan mengembangkan bakatnya di luar jalur akademik. Anak akan tetap dianggap lemah bahkan bodoh meskipun mampu menguasai keterampilan musik, olahraga, tetapi nilai matematika pada rapornya selalu di bawah standar kelulusan. Sekali lagi sekolah selalu benar dan menang. Anak yang salah dan kalah karena tidak bisa mengikuti irama sekolahnya.

Bukan sekolah kita

Anak-anak pada dasarnya adalah pembelajar sejati. Namun, ketika mereka masuk sekolah, banyak dari mereka yang ‘benci’ belajar. Tidak menyukai berbagai pelajaran yang ditawarkan sekolah, bahkan sampai sikap apatis terhadap pelajaran dan gurunya. Faktanya, setiap anak suka belajar sejak mereka lahir. Setiap bayi dengan penuh semangat belajar merangkak sampai mereka bisa berlari. Tidak ada yang takut untuk berhenti berjalan ketika mereka jatuh saat belajar berjalan.

Banyak sekolah yang mengeluhkan tingginya jumlah anak yang mengalami kesulitan belajar, sehingga angka PISA Indonesia tahun 2018 masih berada di posisi 71 dari 77 negara peserta pemetaan. Siswa datang ke sekolah seolah-olah hanya membebaskan kewajibannya, tetapi tidak memahami tujuan sekolahnya sehingga yang terlihat adalah rendahnya motivasi belajar yang berimplikasi pada rendahnya prestasi belajar juga.

Kita perlu merenungkan keberhasilan Finlandia dalam pendidikan. Sekolah-sekolah di sana tidak memaksa anak-anak untuk pintar. Namun, mereka memastikan semua siswa mereka harus bahagia. Seperti yang diungkapkan oleh Haidar Bagir (2019), bahwa memastikan harga diri (harga diri) bagi anak yang harus dipelihara merupakan syarat utama dalam pembentukan karakter yang akan menentukan kebahagiaannya. Sekolah yang bahagia berkorelasi positif dengan prestasi. Hal ini dibuktikan dengan negara-negara dalam keluarga Skandinavia yang selalu masuk 10 besar penilaian PISA.

Apa yang salah?

Anak usia sekolah juga memiliki ruang yang sangat sempit untuk mencoba sesuatu, mengekspresikan diri, dan membuat kesalahan serta belajar darinya. Semuanya diatur dengan sangat ketat oleh sekolah sehingga siswa takut untuk mencoba karena banyak konsekuensi yang mengikutinya. John Holt di Bagaimana File Anak-anak menekankan bahwa kegagalan akademik siswa bukanlah akibat tidak adanya/kurangnya usaha sekolah, melainkan akibat ‘tindakan’ sekolah. Tindakan tersebut dapat berupa penggunaan strategi pengajaran yang kurang baik, menimbulkan ketakutan pada diri siswa, dan pembelajaran yang dangkal, menyimpang, bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Karena itu, sekolah membuat siswa takut, bosan, dan bingung.

Standarisasi kurikulum merupakan masalah terbesar dalam pendidikan di Indonesia. Sekolah membakukan hal yang sama pada semua anak di seluruh pelosok nusantara tanpa memandang latar belakang mereka. Anak-anak pantai, anak-anak pulau, anak-anak gunung, dipaksa belajar hal yang sama seperti anak-anak kota. Mereka dijejali mata pelajaran yang menurut perancang kurikulum nasional penting, tetapi tidak berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, wajar jika anak-anak Indonesia kini sudah pintar dengan ukuran yang sama, seperti mesin manusia. Dapat menghafal logaritma, tetapi tidak dapat menerapkannya dalam kehidupan. Mereka tidak mengerti bahwa dengan logaritma, mereka mampu memprediksi laju pertumbuhan tanaman. Dengan pengetahuan ini, mereka tidak hanya akan menanam pohon seperti orang tua mereka, tetapi juga akan dapat memprediksi dengan lebih kaku kapan harus berbuah atau kapan harus menebangnya.

Indikator pencapaiannya juga seragam antara anak-anak dengan fasilitas canggih dan anak-anak yang masih harus menyeberangi sungai untuk sampai ke sekolah. Berbagai tes standar juga harus diisi oleh anak-anak yang mudah mengakses buku dengan anak-anak yang hampir tidak pernah melihat buku. Alhasil, segala cara ditempuh agar anak-anak bisa lulus dari sekolah dengan nilai bagus. Tidak masalah mereka senang atau tidak, yang penting mereka terlihat pintar.

Otonomi guru

Sekolah harus dirancang khusus sesuai dengan latar belakang masyarakat dan letak geografisnya. Sekolah juga harus diberi kepercayaan untuk mengembangkan kurikulum berbasis kearifan lokal agar anak belajar secara membumi, tidak berkhayal tentang hal-hal yang belum pernah dilihat dan dicicipi karena seperti yang dikatakan Roem Topatimasang, “Setiap tempat adalah sekolah. . Setiap orang adalah guru. Setiap buku adalah ilmu,” sehingga apa yang harus dipelajari anak-anak Kalimantan secara mendalam mungkin berbeda dengan apa yang dipelajari anak-anak pesisir Aceh.

Selanjutnya, guru juga dipersiapkan untuk dapat menggunakan otonominya dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Sebagaimana dijelaskan oleh Terry Lamb (2008) bahwa otonomi guru sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan belajar siswa karena menurutnya otonomi guru tidak membuat guru bebas mengajar, tetapi membuat guru lebih mampu menyelenggarakan pembelajaran dengan cara-cara baru, berdasarkan cara-cara sebelumnya. mengajar pengalaman kegagalan, menggunakan bahasa yang berbeda. , belajar bagaimana mengajar, atau manajemen diri diterapkan di kelas. Oleh karena itu, guru dapat memfasilitasi siswa untuk menjadi pembelajar yang mandiri pula.

Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan perubahan dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan pendidikan secara menyeluruh dalam proses pendidikan. Guru harus benar-benar cerdas dan berwawasan luas. Guru harus benar-benar dipersiapkan dari pendidikan dan rekrutmennya. Kita bisa belajar dari pengalaman Finlandia dalam mempersiapkan guru. Guru direkrut sejak awal pendidikannya yaitu mahasiswa dari fakultas pendidikan.

Mahasiswa fakultas pendidikan merupakan mahasiswa terbaik yang diseleksi secara ketat. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di sana, mereka tidak bisa mengajar secara langsung, tetapi harus menempuh pendidikan magister di bidang pendidikan. Setelah menyelesaikan program master, Anda tidak bisa mengajar langsung sebelum mendapatkan persetujuan dari guru senior yang menjadi mentor. Prosesnya cukup ketat dan panjang, namun sepadan dengan hasilnya, yaitu guru dengan kualitas mumpuni yang tidak hanya pelaksana, tetapi juga perencana, penerjemah, dan pengembang kurikulum untuk kelasnya. Wallahualam.

Related Post

HUT RIHUT RI

<p> PERKEMBANGAN teknologi selalu mendatangkan perubahan signifikan. Tak terkecuali saat pandemi terjadi dua tahun belakangan ini, daerah ekonomi mengalami disrupsi berkuasa dan pengusaha diminta buat segera