Jogja Belum Berani Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Jogja Belum Berani Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Gubernur Daerah Sempurna Yogyakarta (DIY), Sri Sultan HB X menyatakan pihaknya belum berani menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Umpama nanti mulai digelar pembelajaran tatap muka, kata Sultan, pelaksanaannya akan dimulai dari perguruan tinggi lalu bertahap ke kelompok pembelajaran dengan lebih muda, yaitu SMA/SMK, SMP, SD, baru kemudian taman bocah.

Menurut Sultan, kalau anak-anak sekolah, saat mulai mengakar sekolah guna mengikuti kegiatan menelaah tatap muka, risikonya terlalu tumbuh.

“Saat ini penelaahan lewat online. Tidak berani risikonya (jika membuka pembelajaran tatap muka). Mengko diunekke. Anake uwong je (Nanti diprotes. Anaknya orang), ” ujar Tuan.

Baca juga: Kegiatan Belajar Mengajar di NTT Berangkat 20 Juli

Plt Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, & Olahraga DIY, Bambang Wisnu Handoyo menyampaikan bahwa pihaknya mewacanakan akan memadukan pembelajaran tatap muka & daring.

“Tatap depan tetap diperlukan, tetapi tatap membuang yang kayak apa, ” logat Bambang. Ia menyatakan komposisi tatap muka dengan pembelajaran daring bisa 30%: 70% atau 40%: 60 persen.

Saat tatap muka, pembelajaran bisa dilakukan besar kelompok, pagi dan sore. Penelaahan pun tidak seperti kelas klasikal yang sampai 36 siswa, tetapi dibatasi jumlahnya.

“Pembelajaran tatap muka berisi informasi pembelajaran yang didaringkan, ” jelas Bambang.

Selain itu, saat pembelajaran tatap muka siswa bisa memperoleh penjelasan dari materi-materi yang belum dipahami saat pembelajaran daring.

Bambang juga mengirimkan bahwa Kemendikbud diminta menyusun kurikulum pembelajaran daring. “Sebab pembelajaran daring tidak bisa disamakan dengan tatap muka dan bebannya pun pula tidak bisa disamakan, ” mengakhiri Bambang. (OL-14)

Related Post