Kasus Rachel Vennya Tak Perlu Minta Presiden Campur tangan

Kita harus ingat bahwa pandemi COVID-19 masih jauh dari selesai. Kalau kemudian sekarang ada statistik penurunan kasus, bukan berarti kita lalai, apalagi kalau kemudian kita main aturan demi konten di media sosial, seperti yang terjadi pada selebgram Rachel Vennya.

Rachel dituding kabur dari Wisma Atlet Pademangan, Jakarta Utara, setelah pulang liburan dari Amerika Serikat. Dia tidak sendiri karena ada kekasih dan juga manajernya.

Namun Rachel Vennya melalui akun Youtube Boy William malah mengaku belum pernah dikarantina di Wisma Atlet Pademangan. “Tidak, itu salah. Aku sama sekali tidak menginap di Wisma Atlet,” kata Rachel.

Namun, pengakuan Rachel dibantah oleh Kodam Jaya. “Memang informasinya datang, tapi dia keluar lagi,” kata Kepala Penerangan Artileri Pertahanan Udara Jaya Kolonel (Arh) Herwin Budi Saputra.

Yang menyedihkan adalah isu tidak menyenangkan bahwa perilaku Rachel yang tidak pantas telah membunuh dua anggota TNI berinisial IG dan FS. Mereka dinonaktifkan pada 14 Oktober dari Komando Satuan Tugas Gabungan Terpadu. Polisi Militer juga melakukan pemeriksaan intensif terhadap mereka.

Saya angkat topi atas sikap tegas dan sigap TNI dalam mengeksekusi keterlibatan anggotanya. tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menonaktifkan dua anggota yang diduga terlibat dalam kasus ini. Kasus ini terungkap sejak 11 Oktober 2021, saat beredar screenshot berisi pengakuan petugas di Wisma Atlet terkait kehadiran Rachel.

Yang luar biasa adalah bantuan yang diberikan kepada Rachel itu gratis, tidak ada kompensasi yang diterima oleh anggota TNI tersebut. Jika TNI bergerak cepat saat mendapat informasi buruk, polisi masih mengumpulkan berbagai informasi hingga akhirnya memanggil Rachel dan kawan-kawan untuk dimintai keterangan di Polda Metro Jaya pada Kamis, 22 Oktober 2021.

Tak kurang Kapolres Metro Jaya Irjen Muhammad Fadil Imran menegaskan akan mengusut tuntas pelarian Rachel dari Wisma Atlet. Ia menegaskan, pihaknya tidak sembarangan melanggar aturan protokol kesehatan, termasuk karantina.

Langkah Kapolres Metro Jaya perlu diapresiasi. Pasalnya, jika kasus ini diabaikan atau malah dibuat seolah-olah tidak ada masalah, bisa menjadi preseden buruk. Pasalnya Rachel merupakan seorang selebgram yang memiliki followers segudang. Jika dia bisa bermain dengan aturan sesuka hati, pengikutnya bisa berpikir bahwa mereka bisa berperilaku dengan cara yang sama.

Rachel memiliki beberapa masalah. Pertama, Rachel seharusnya dikarantina selama lima hari di hotel berbayar, bukan di Rumah Atlet. Karena ia dikategorikan sebagai pengusaha yang bepergian bukan karena alasan negara. Wisma Atlet hanya diperbolehkan bagi pekerja migran Indonesia yang baru tiba di tanah air, pelajar atau mahasiswa setelah belajar di luar negeri, dan pegawai instansi pemerintah. Apalagi baru tiga hari di Wisma Atlet, Rachel sempat kabur.

Ancaman pidana terhadap mereka juga tidak main-main, karena dianggap melanggar Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina. Demikian ditegaskan Kabag Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, Senin 18 Oktober 2021.

Pasal 14 UU Karantina menyatakan bahwa setiap orang yang tidak mematuhi pelaksanaan karantina kesehatan dan atau menghalangi pelaksanaan karantina kesehatan sehingga menyebabkan keadaan darurat kesehatan masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama satu tahun dan/atau denda maksimal Rp. 100 juta.

Kemudian pada 13 Oktober 2021, Kepala Penerangan Kodam Jaya, Kolonel Herwin BS, membenarkan lepasnya Rachel dari kewajiban karantina, dibantu anggota TNI. Kemudian, Rabu, 14 Oktober 2021, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi meminta pihak berwenang menjatuhkan sanksi kepada Rachel dan unsur TNI. Baru pada 21 Oktober 2021 Rachel datang ke Polda Metro Jaya untuk diperiksa.

Butuh waktu seminggu untuk memaksa selebgram untuk memenuhi undangan ujian. Hal ini tentunya untuk membuktikan bahwa polisi tidak pandang bulu.

Di sisi lain, publik secara terbuka meminta tindakan hukum terhadap Rachel. Hal ini terlihat antara lain dari pemberitaan di media mainstream dan media sosial. Setidaknya, hingga Kamis (21/10), sebanyak 13.666 orang menandatangani petisi yang meminta proses hukum selebgram Rachel Vennya. Petisi berjudul ‘proses hukum segera untuk rachel vennya berani melarikan diri dari karantina’ dimulai oleh Natyarina Avie di situs Change.org. “Semua orang Indonesia harus mengikuti hukum. Jika Anda dapat melanggarnya maka Anda harus bertanggung jawab,” bunyi petisi dalam bahasa Inggris.

Jangan sampai kasus nyata seperti ini membuat Presiden Joko Widodo harus angkat bicara. Seperti saat seorang sopir truk mengadukan aksi preman di Pelabuhan Tanjung Priok. Presiden langsung memanggil Kapolri. Hanya dalam hitungan jam, petugas bergerak menangkap warga yang diduga preman.

Kemudian dalam masalah pinjaman online yang sangat meresahkan masyarakat, Presiden kembali angkat bicara dan tak butuh waktu lama sejumlah tempat yang diduga markas pinjaman online ilegal digerebek.

Jangan sampai isu pelanggaran karantina ini membuat Presiden buka suara, apalagi jika nanti dia meminta Presiden turun tangan. Sudah sepantasnya dan seharusnya pihak berwajib segera bergerak begitu mendapat informasi tanpa harus menunggu viral di masyarakat.

Menjaga kepercayaan publik adalah modal terpenting. Kami berharap penyelesaian kasus seperti ini dilakukan secara proporsional dan profesional. Jika mereka salah, mereka akan dihukum, dan biarkan pengadilan yang memutuskan. Sehingga hukum benar-benar menjadi panglima. Permintaan maaf yang dibumbui dengan 10 ribu perangko seharusnya tidak menjadi solusi permanen. Apalagi jika Anda hanya memiliki permintaan maaf di akun media sosial.

Related Post

PendapatPendapat

<p> BUKAN rahasia umum bahwa Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund ialah musuh bebuyutan. Persis sesuai Real Madrid dan Barcelona di La Liga Spanyol, begitulah dua klub