Kebiasaan makan

Mari kita bertamasya ke masa lalu. Masa dimana manusia belum menemukan api. Kira-kira, bagaimana nenek moyang kita memenuhi kebutuhan nutrisinya? Makan hewan dan tumbuhan dan menelannya mentah-mentah?

Menurut sejarawan, kemungkinan besar itulah yang umumnya dilakukan manusia. Beberapa dari mereka bertahan hidup, tidak sedikit yang mungkin mati karena kuman atau bakteri seperti ayam, babi, katak, dan berbagai jenis tanaman yang mereka konsumsi. Penemuan api sebagai produk budaya, kemudian secara tidak langsung menyelamatkan peradaban manusia karena dapat membunuh bakteri ketika digunakan untuk mengolah makanan.

Seperti api, minyak nabati yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan, juga merupakan bagian dari produk budaya. Ini adalah bagian dari inovasi selanjutnya yang dilakukan manusia dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dan nafsu makannya. Minyak tidak hanya berfungsi sebagai pembawa panas untuk pematangan, tetapi juga agar makanan yang dikonsumsi enak dan sehat. Maka tak heran jika ada sejumlah produsen yang mengklaim minyak produknya mampu meminimalkan risiko penyakit jantung karena mengandung omega-3 dan sebagainya. Dia juga seorang pedagang.

Kini, para pedagang diuntungkan dengan melonjaknya harga minyak goreng yang dikabarkan naik hingga 30% dalam beberapa bulan terakhir. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh melonjaknya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di tingkat global. Produsen minyak goreng bergantung pada harga CPO. Karena itu, ketika harga minyak sawit mentah melonjak, harga minyak goreng curah dan kemasan sederhana juga ikut naik. Namun, terlepas dari penyebabnya, kenaikan harga ini membuat konsumen resah. Pemerintah juga perlu turun tangan dengan menetapkan harga minyak Rp14.000 per liter, berlaku untuk semua pengecer atau lapak di desa-desa.

Saya bukan seorang ekonom dan tidak ingin membahas masalah ini dari sudut pandang ekonomi, seperti hukum permintaan persediaan dll. Saya hanya ingin memikirkan ketergantungan manusia pada produk budaya yang mereka ciptakan, terutama kebiasaan mereka dalam mengonsumsi makanan. Mengapa mereka rewel hanya karena harga cabai rawit atau cabai keriting yang melambung, misalnya. Tidak bisakah kamu hidup tanpa makan saus cabai? Apakah Anda akan mati jika hanya makan sayuran rebus dan sayuran segar?

Tata krama dan selera makan, apakah bancakan dengan tangan, pisau, sendok, atau garpu, apakah digoreng, direbus, atau dipanggang dengan pasir atau dipanggang, adalah produk budaya yang dibuat oleh manusia. Itulah yang membedakan mereka dengan hewan yang makan begitu saja. Namun, kita sebagai manusia tidak boleh berpuas diri dulu. Semua jenis dimakan. Ini giliran flu burung, flu babi, kekacauan. Bukankah wabah korona yang entah kapan akan berakhir juga dipicu oleh ulah sebagian dari kita yang sering memangsa hewan liar, termasuk kelelawar?

Masa pandemi ini memang akan menjadi momen yang tepat bagi kita untuk memikirkan kembali peradaban. Selamat berakhir pekan dan jangan lupa makan.

Related Post