Kelakuan Kudeta Mali Menuai Kecaman Global

Kelakuan Kudeta Mali Menuai Kecaman Global

PERSERIKATAN BangsaBangsa bergabung secara kecaman global atas pengambilalihan adikara oleh militer di Mali yang melaksanakan Presiden Ibrahim Boubacar Keïta terpaksa mengundurkan diri.

Dewan Ketenangan PBB menggemakan seruan serupa sebab badan-badan regional untuk segera membebaskan semua pejabat pemerintah dan pemulihan tatanan konstitusional. Menteri Luar Jati Amerika Serikat Mike Pompeo mencuit kecamannya dan Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak kembali ke pemerintahan sipil dengan mengatakan.

“Perang melawan kelompok teroris dan pertahanan demokrasi serta supremasi hukum tak dapat dipisahkan. ” Sementara tersebut, pihak militer mengklaim bahwa mereka bertindak mencegah negara itu anjlok ke dalam kekacauan lebih lanjut.

Mereka mengatakan akan membentuk pemerintahan sipil dan melaksanakan pemilihan umum baru. Laporan dalam Mali mengatakan Kolonel Assimi Goita telah dikukuhkan sebagai presiden junta militer baru yang menyebut dirinya Komite Nasional untuk Keselamatan Anak buah (CNSP).

Dia bertemu para pegawai negeri sipil superior, Rabu (19/8) pagi. “Kami tidak mempunyai ambisi politik, kami ialah prajurit, tujuan kami ialah mentransfer kewibawaan dengan cepat.

Negara akan berlanjut, kami jamin pertolongan kami untuk bekerja dalam ketenangan, saya ingin meyakinkan Anda, ” ujarnya pada para pejabat dalam surat informasi Mali, Journal du Mali.

Uni Afrika telah menangguhkan keanggotaan Mali setelah tentara menggulingkan presiden dan pemerintahannya pada Selasa (18/8). Mahkamah Perdamaian dan Keamanan Pan-Afrika mengucapkan penangguhan akan tetap berlaku datang pemulihan tatanan konstitusional di negara Afrika Barat itu, Rabu (19/8).

Menodong dibebaskan

Mereka juga menuntut agar Presiden Boubacar Keita dan pejabat senior lainnya dibebaskan.

Dalam perkembangan terkait, Nigeria–negara berpenduduk terbesar di Afrika mengutuk kudeta di Mali, menuntut pemulihan tatanan konstitusional segera.

“Pemerintah Nigeria dengan jelas mengutuk kudeta yang terjadi di Mali, kemarin, dan menuntut pemulihan segera tanpa syarat tatanan konstitusional, ” ujar Menteri Luar Negeri Nigeria, Rabu (19/8).

“Kami menyambut tertib aktivasi mendesak kekuatan ECOWAS Standby, ” tambahnya mengacu pada Publik Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat, suatu blok politik dan ekonomi beranggotakan 15 anggota yang berpengaruh. Keita mengumumkan pengunduran dirinya pada Selasa (18/8) setelah ditahan oleh prajurit. Perdana Menteri Boubou Cisse juga ditahan.

Ketegangan meletus pada Mali pada 2012 setelah kudeta yang gagal dan pemberontakan oleh separatis Tuareg yang pada akhirnya memungkinkan kelompok militan yang terkait dengan al-Qaeda untuk mengambil kendali atas bagian utara negara itu.

“Saya ingin tidak ada darah yang tumpah untuk membuat saya tetap berkuasa, ” kata Keita dalam pidato singkat yang disiarkan di televisi pemerintah.

Keita juga menyatakan penyesalan atas jatuhnya korban jiwa saat pertunjukan yang diadakan pada 10-12 Juli. Pada Selasa, Keita dan Pertama Menteri Boubou Cisse dibawa ke Barak Militer Kati yang terletak di 15 kilometer (9 mil) barat laut ibu kota, Bamako, sekitar jam 16. 30 waktu lokal menurut Le Journal du Mali.

Presiden Prancis Emmanuel Macron serupa mengutuk kudeta tersebut dan berbicara melalaikan telepon dengan Keita serta para majikan Niger, Pantai Gading, dan Senegal saat kudeta itu berlangsung. Macron menjanjikan dukungan penuh untuk upaya mediasi ECOWAS, tetapi kantornya mengatakan dia tidak akan berkomentar lebih lanjut sampai setelah pertemuan Dewan Keamanan PBB. (BBC/AA/I-1)

Related Post