Komunikasi Pembelajaran yang Bermakna

Seiring situasi pandemi membaik, pembelajaran tatap muka kembali berjalan ‘normal’ meski tetap dengan protokol kesehatan yang ketat. Kami berharap gaya hidup sehat yang telah dikembangkan dengan baik selama pandemi dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan di masa mendatang. Pembelajaran online yang selama ini berjalan baik juga dapat dilanjutkan. Jangan sampai pembelajaran tatap muka dilakukan lagi, pembelajaran online dimatikan.

Pembelajaran tatap muka memang dapat memberikan interaksi yang lebih komprehensif. Namun, membolos pembelajaran online sama saja dengan menghilangkan penambahan lauk lezat pada jamuan makan. Pembelajaran online tidak hanya menambah cita rasa, tetapi juga dapat memperkaya sumber belajar. Siswa tidak lagi sepenuhnya menjadikan guru sebagai sumber belajar utama, tetapi memiliki sumber belajar alternatif yang dalam banyak hal terkadang lebih menjanjikan.

Kedua model ini, pembelajaran tatap muka (PTM) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ), harus bisa saling melengkapi. Kelemahan PJJ dapat diperbaiki dengan PTM. Begitu pula sebaliknya, karena satu dan lain hal, kendala lapangan yang tidak memungkinkan PTM berjalan maksimal dapat diatasi dengan PJJ. Kedua model tersebut membutuhkan keterampilan komunikasi, baik dari pendidik maupun warga belajar.

Komunikasi yang bermakna

Komunikasi adalah semacam jembatan yang akan menghubungkan hati para pihak. Kualitas koneksi—apakah kontak kita dengan orang lain, khususnya warga belajar, dangkal atau dalam—tergantung seberapa besar makna yang dihasilkan dari dinamika komunikasi yang dimaksud. Membangun hubungan difasilitasi oleh komunikasi yang bermakna. Kabar baiknya adalah bahwa komunikasi adalah seperangkat keterampilan. Kita dapat mempelajari dan menerapkan strategi yang tepat untuk membangun hubungan yang lebih baik, dan memperoleh makna yang lebih dalam.

Kemampuan berkomunikasi sangat penting untuk menjadi pendidik yang efektif. Komunikasi tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memotivasi, mengubah sikap, dan merangsang pemikiran. Tanpa kemampuan ini, yang berkembang adalah stereotip, pesan terdistorsi, dan kegiatan belajar menjadi sangat tidak menyenangkan. Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi informasi. Di sini kemampuan menyimak memegang peranan penting, di samping kemampuan menyampaikan pesan.

Komunikasi intrapersonal melibatkan perencanaan, pemecahan masalah, self-talk, dan evaluasi diri. Komunikasi internal ini merupakan proses berkelanjutan untuk mempersiapkan diri agar dapat berbicara dengan orang lain secara lebih ringkas dan jelas. Komunikasi interpersonal adalah upaya untuk berbagi makna antara diri sendiri dan setidaknya satu orang lain. Tujuan komunikasi interpersonal adalah untuk mengirimkan pesan yang relevan dan objektif.

Individu berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya secara verbal, tetapi juga dengan tindakan. Oleh karena itu, dalam mengirim pesan, kita perlu memperhatikan penampilan, gerak tubuh, postur, kontak mata, penggunaan ruang, gerakan tubuh, apa yang kita bawa, seberapa dekat kita berdiri atau duduk dengan orang lain, dan ekspresi wajah. Ketika apa yang kita katakan bertentangan dengan perilaku nonverbal yang ditunjukkan, ketidakpercayaan dan kebingungan mungkin muncul karena pendengar lebih percaya pada apa yang mereka lihat.

Pembelajaran dialogis antara pendidik dan siswa dapat menjadi bagian pembelajaran yang menantang dan menginspirasi. Komunikasi yang efektif dapat membantu membangun dan menumbuhkan lingkungan belajar yang aman. Dalam situasi belajar yang kondusif, siswa dapat mengembangkan, belajar, dan membangun mimpi untuk menjadi pribadi yang cakap, percaya diri, dan berguna bagi masyarakat dan negara.

Empat pilar

Finkelstein (2013) mengemukakan empat hal yang dapat membuat komunikasi menjadi lebih bermakna. Pertama, Tambahkan nilai (Tambahkan nilai). Orang selalu ingin mendengar sesuatu yang tidak mereka ketahui. Dalam komunikasi persuasif, kita harus menawarkan informasi atau konsep baru kepada audiens, apa yang belum mereka ketahui. Pendidik perlu memiliki pengetahuan tentang apa yang sudah diketahui siswa sebelum mengajarkan sesuatu yang baru. Hal ini dapat dilakukan dengan penelitian pendahuluan, atau hanya dengan bertanya.

Kedua, relevan (berusaha untuk relevan). Pastikan konten yang kami ajarkan bermanfaat dan bermanfaat bagi warga belajar. Oleh karena itu, pembelajaran juga perlu memperhatikan tingkat kesesuaian dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman siswa. Cobalah untuk mencari tahu apa yang siswa butuhkan dan inginkan. Dalam kebanyakan kasus, berikan mereka informasi yang benar-benar membantu. Sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam hidup. Pembelajaran yang di luar konteks akan terasa membosankan.

Ketiga, akurat (pembelajaran akurat). Kenali komunitas belajar dengan baik. Idealnya, pendidik menyampaikan topik yang dikuasai dengan baik. Jika perlu, lakukan penelitian dengan menggunakan sumber yang dapat dipercaya. Menjadi akurat tidak berarti harus memasukkan semua bagian data dan konten yang ditemukan pada suatu topik. Saring apa yang akan disampaikan, batasi pada substansi. Tak jarang pendidik justru terjebak pada hal-hal yang sebenarnya kurang relevan.

Keempat, menjadi jelas dan terorganisir (usahakan jelas dan terstruktur). Setelah kami memutuskan apa yang akan diajarkan, atur dan jelaskan dengan sangat jelas. Gunakan grafik yang bermakna, ceritakan cerita, buat analogi, dan jangan lupa berikan contoh. Penyampaian yang jelas, terstruktur dan bervariasi akan menghidupkan suasana belajar. Informasi yang dikomunikasikan akan lebih mudah diterima dengan penuh semangat.

Sabar dan empati

Komunikasi pembelajaran yang bermakna membutuhkan kesabaran. Biarkan siswa mengatur kecepatan bicara. Beri mereka lebih banyak waktu untuk berpikir tentang apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya. Pendidik harus lebih berempati. Empati berarti memahami kondisi orang lain dari sudut pandang mereka. Tidak apa-apa jika kita tidak setuju dengan pendapat komunitas belajar. Namun, beri mereka kesempatan untuk secara singkat melepaskan ide-ide yang telah dipikirkannya. Pendidik dapat meningkatkan posisi lebih baik setelah memahami perspektif siswa.

Komunikasi dalam proses pembelajaran bukan sekedar upaya menyampaikan informasi dari pendidik kepada warga belajar. Juga menyangkut proses transformasi nilai yang hanya mungkin terjadi jika pendidik memiliki kedekatan emosional dengan anak didik. Ketika komunikasi pedagogis dilakukan secara mekanis dan murni kognitif, yang terjadi adalah pengajaran dan bukan pendidikan. Pengajaran yang lebih berupa penyampaian informasi ilmu pengetahuan, tanpa memiliki kedalaman, tanpa penyemaian nilai-nilai dasar yang menjadi dasar pengembangan diri siswa di masa yang akan datang.

Related Post