Melihat Peluang Cuan Era Endemik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pandemi COVID-19 akan berubah status menjadi endemik pada 2022. Pernyataan menteri keuangan terbaik dunia itu berdasarkan instruksi sejumlah ilmuwan. Jika perubahan status terwujud, apakah akan menjadi era keberuntungan bagi sektor bisnis yang mengalami pasang surut selama pandemi?

Meski virus yang konon berasal dari Wuhan, China ini belum sepenuhnya hilang, namun kemungkinan tahun 2022 akan menjadi fase pemulihan ekonomi dan bisnis untuk kembali merambah. Dengan catatan, pola gaya hidup masih sama seperti sekarang, yakni menerapkan protokol kesehatan dan vaksinasi yang dapat diakses oleh semua kalangan. Kunci itu juga menjadi penekanan Sri Mulyani pada peralihan status.

Kebangkitan sektor bisnis dari keterpurukan ke era pascapandemi yang kuat diprediksi, bukan soal membangun seribu candi dalam semalam. Ini membutuhkan persiapan dan analisis yang kuat dan menyeluruh. Tapi jangan pesimis juga. Karena pada prinsipnya memasuki masa endemik, kita akan berhadapan dengan pola perilaku (perilaku) berbeda. Jika Anda jeli, tentu ada uang yang bisa ditambang, jika Anda berangkat dari kebiasaan baru ini.

Sejak kemunculan COVID-19 di awal tahun 2020, karakteristik perilaku tiba-tiba berubah akibat pembatasan sosial. Untuk terhubung satu sama lain, manusia dipaksa pergeseran dengan pemanfaatan teknologi. Semuanya virtual, dan manusia semakin mudah digunakan dengan teknologi.

Seperti Jack Ma, bos Alibaba pernah meramalkan bahwa pada tahun 2030 diperkirakan 85% dari sistem perdagangan global akan beralih ke perdagangan elektronik. Namun, pandemi yang berlangsung hampir dua tahun ini mempercepat transisi sistem tersebut. Kemungkinan besar, perdagangan dunia melalui perdagangan elektronik lebih cepat, jauh sebelum 2030. Karena orang lebih nyaman belanja online dan kebiasaan baru terbentuk.

Tidak hanya teknologi, pandemi telah memperkuat fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup tanpa bersosialisasi. Kepedulian semakin berkembang, terutama perhatian terhadap kesehatan individu termasuk lingkungan. Singkatnya, manusia sadar bahwa aspek kesehatan mulai dari diri sendiri akan berpengaruh pada ruang lingkupnya.

Pola pikir yang kuat

Bagi sebagian orang, pandemi COVID-19 telah meninggalkan cerita yang menyedihkan. Mungkin yang dirasakan oleh mereka pernah menyandang gelar positif dan butuh waktu lama dalam proses penyembuhannya. Atau bahkan salah satu keluarga dan kerabatnya meninggal dunia. Mereka yang memiliki fobia atau trauma dengan COVID-19, akan memiliki kecenderungan untuk memiliki gaya hidup yang lebih menetap sehat dalam menjalani era kehidupan normal pasca pandemi.

Mereka akan memiliki pola pikir sangat kuat, bagaimana hidup sehat dan meningkatkan kekebalan. Belum lagi prediksi virus baru yang berpotensi menjadi pandemi baru di masa depan.

Ini adalah tuntutan baru yang perlu dibidik, dengan menciptakan suplai produk pangan kesehatan. Asupan makanan yang bisa ditawarkan bisa berupa makanan organik yang jauh lebih sehat. Namun perlu diperhatikan bahwa proses pemasaran komoditas ini memerlukan perlakuan khusus, mengingat harganya yang mahal.

Anda dapat melakukan ini dengan memotong rantai perdagangan dengan memanfaatkan media sosial, pasar online atau membuat platform khusus. Tujuannya, agar Pasokan makanan organik yang biasanya dikelola oleh industri rumah tangga, bisa langsung dijual ke tuntutanmiliknya. Dengan demikian akan diperoleh formulasi harga yang kompetitif.

Pusat kebugaran juga akan perlahan mulai dibangun. Akibat pembatasan sosial yang begitu lama, mereka terpaksa menjalani latihan pribadi akibat penutupan sejumlah pusat kebugaran. Seiring waktu akan ada keinginan kuat untuk kembali ke Gym. Temui para pelatih dan lainnya anggota gym.

Peluang ini perlu ditangkap sekaligus menjadi momen bagi para pelaku usaha Gym cadangan. Tinggal bagaimana menciptakan nuansa baru dengan menghadirkan desain interior yang nyaman dan mesin terbaru.

Lihat juga bagaimana perilaku berubah. Secara komprehensif, perubahan perilaku tidak hanya berkorelasi dengan bisnis kesehatan. Tentu ada bisnis lain yang perlu diperhatikan. Pendidikan bisnis, misalnya, karena teknologi semakin dekat dengan manusia. Teknologi menjadi peralatan yang menghubungkan dengan sumber daya eksternal.

Pendidikan masa depan tidak lagi harus berurusan dengan penyediaan aset yang akan meningkatkan biaya operasional. Termasuk beban SDM pengajar yang mumpuni. Dengan metode sumber terbuka, tenaga pengajar dengan segudang kompetensi dapat terlibat langsung dalam proses belajar mengajar online bagi mereka yang membutuhkan.

Sistem Pendidikan sumber terbuka mungkin mirip dengan ramalan Jack Ma mengenai pergeseran perdagangan global ke perdagangan elektronik. Sekali lagi, karena pandemi, sistem pendidikan masa depanjalan pintas jadi kecepatannya lebih cepat. Yang pasti akan menjadi penjualan dengan nilai bisnis yang tinggi.

Bayangkan jika Anda menimba ilmu dari dosen ternama dan berprestasi dari universitas terkemuka melalui mediasi platform digital. Hal ini sangat menarik, karena guru tidak perlu meninggalkan tempatnya, tetapi dapat berkomunikasi langsung dua arah dengan siswa dari seluruh pelosok tanah air.

Untuk pebisnis pendidikan sumber terbuka, ada baiknya untuk memperkuat kurikulum pendidikan yang ditawarkan, sebagai kebutuhan masa depan. Misalnya, peningkatan kompetensi di bidang IT atau pengkodean dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang berdaya saing di era revolusi industri 4.0

Akhir pekan tidak seperti dulu

Sebelum pandemi, masyarakat perkotaan menghabiskan akhir pekannya dengan mengunjungi mal atau pusat perbelanjaan. Pada hari Sabtu dan Minggu sejumlah mall penuh, mulai dari makan di restoran bersama keluarga hingga berbelanja produk fashion. Namun, karena pembatasan diberlakukan melalui bekerja dari rumah (WFH), orang punya banyak waktu bersama keluarga.

Jalan-jalan ke mall tidak lagi dilakukan di akhir pekan. Terkadang pada hari Senin hingga Jumat pengunjung mall ramai. Di sisi lain, pada akhir pekan volume kunjungan berkurang karena sebagian orang menghindari keramaian. Inilah budaya baru yang harus dimanfaatkan oleh para pebisnis yang masih bergelut di sektor ini offline (konvensional).

Jika di masa lalu ada banyak promosi yang dilakukan di akhir pekan, sekarang perlu direvisi. Promosi harus beradaptasi dengan siklus baru, di mana banyak orang memilih kunjungan hari kerja. Mekanisme promosinya juga hampir mirip dengan sektor pariwisata.

Solusi data besar

Merancang strategi bisnis di endemik 2022 membutuhkan analisis yang kuat. Perlu diketahui, teknologi saat ini menawarkan kepada kita peralatan yang bernama data besar. Melalui data besar akan memberikan pemetaan karakteristik berdasarkan demografi termasuk perubahan perilaku akibat pandemi covid-19.

Data besar lebih menarik karena menawarkan manfaat yang sangat mengesankan. Data tersebut digali dari interaksi manusia dengan internet, salah satunya adalah media sosial. Penyajiannya tidak hanya berupa informasi baru dan terkini terkait perubahan perilaku. Data besar sekaligus memberikan referensi baru yang dapat dijadikan acuan dalam menciptakan strategi bisnis kontemporer.

Riset menunjukkan, sejak pandemi tahun lalu, sumber informasi yang paling banyak diakses masyarakat Indonesia berasal dari media sosial. Jumlah tersebut melonjak signifikan, mencapai 76% dibandingkan media online yang memiliki kredibilitas dalam menyampaikan informasi.

Artinya orang cenderung menggunakan media sosial, algoritma internet semakin memetakan data baru yang jauh lebih jujur ​​dan detail. Selain memiliki banyak manfaat dalam merumuskan strategi dan desain bisnis baru yang akurat, juga menjanjikan uang.

Related Post