Memandang Kondisi Internet di Ibu Tanah air Indonesia Masa Depan

Memandang Kondisi Internet di Ibu Tanah air Indonesia Masa Depan

KABUPATEN Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur menjadi perhatian asosiasi setelah wilayahnya masuk dalam agenda ibu kota baru Indonesia di masa yang akan datang. Wilayah ini dinilai memiliki banyak daya yang dapat dikembangkan untuk menjelma ibu kota negara.

Bupati Penajam Paser Utara Abdul Gafur Mas’ud mengungkapkan daerahnya ialah gambaran dari ‘Indonesia kecil’. Menurutnya, penduduk Penajam Paser Utara berisi atas 60% transmigran dan sisanya pendatang dari berbagai daerah dalam Indonesia.

“Tapi kita bisa berbaur dengan berbagai macam suku di sini. Alhamdulillah Penajam tetap aman dan damai, ” ujarnya saat disambangi Tim Ekspedisi Bakti untuk Negeri Kalimantan, kira-kira waktu lalu.

Wakil Bupati Penajam Paser Utara Hamdan menyebut wilayahnya berkembang cukup cepat jika dibandingkan dengan belasan tarikh lalu. Hal ini antara asing berkat otonomi daerah yang memproduksi Penajam Paser Utara bisa secara mudah membangun infrastruktur.

Menyoal jaringan telekomunikasi, kata Hamdan, dalam tiga tahun terakhir dekat 99% wilayah Penajam Paser Mengadukan sudah dapat menikmati jaringan telekomunikasi. “Mengakses internet bukan sesuatu yang langka di sini. Masyarakat perdesaan juga sudah sangat familiar secara internet, ” katanya.

Dengan luas lima kali lipat dari ibu kota Indonesia masa ini, Jakarta, Penajam Paser Mengetengahkan didominasi kawasan hutan dan pesisir. Sumber daya alamnya pun melimpah ruah, mulai dari hasil bahar hingga perkebunan khususnya sawit.

Dalam sektor perikanan, misalnya, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara mengembangkan budidaya lele dengan sistem bioflok atau kolam terpal. Lupa satunya yang terdapat di Pesantren Hidayatullah, Desa Giri Mukti.

Di tempat ini terdapat delapan galon bioflok yang masing-masingnya berisi 3. 000 ikan lele. Setiap tiga bulan setidaknya 15. 000 ekor lele dihasilkan jambar pesantren ini.

Taat Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Mujiburrahman, kebanyakan pelanggan memesan melalui telepon. “Mereka menelepon apakah ada ikan lele di yayasan, kalau tersedia kami sampaikan dan persilakan muncul, ” ujar Mujiburrahman.

Sama seperti sekolah lainnya, Jambar Pesantren Hidayatullah juga melaksanakan pelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi covid-19. Untungnya, jaringan internet pada desa ini tidak menjadi sekatan bagi guru maupun para santri untuk melakukan pembelajaran.

“Alhamduillah sebagian besar (internet dalam rumah para siswa) tidak ada masalah. Hanya satu-dua orang dengan memang rumahnya di perkebunan sawit tidak ada sinyal sehingga menggunakan metode luring, ” kata Besar Ponpes Hidayatullah Khaeruddin.

Dari pusat kota Penajam, tim ekspedisi Bakti untuk Negeri berjalan ke arah pesisir selatan, tepatnya di Kelurahan Kampung Baru. Sebagai kawasan pesisir, wilayah ini lumrah dengan hutan bakau atau mangrove yang sangat luas.

Selain bermanfaat bagi lingkungan, alas mangrove seluas lebih dari 30 hektare ini juga dimanfaatkan sebagai destinasi ekowisata. Untuk mempromosikan destinasi ini, Kelurahan Kampung Baru memakai jaringan internet.

Sejak dipromosikan melalui internet, wisata mangrove ini berhasil menarik banyak wisatawan, baik lokal maupun luar kawasan. “Dari sebelum dipasang internet perubahannya sangat drastis untuk pengunjung wisata edukasi masngrove ini, ” ujar Sekretaris Desa Kelurahan Kampung Gres Achmad Fitriady.

Sebagai kawasan pesisir, Kabupaten Penajam Jangka Utara juga memiliki potensi sumber daya laut yang kaya. Beberapa masyarakatnya menggantungkan hidup dari buatan laut termasuk kepiting.

Untuk mengatasi permasalahan penghasilan para-para nelayan yang minim, sebuah pelaksanaan digital bernama Aruna dikembangkan untuk meringankan beban nelayan. Antara asing dengan membantu mereka memasarkan hasil tangkapannya.

Lewat pelaksanaan tersebut, para nelayan kecil mampu langsung menjual tangkapannya kepada konsumen akhir sehingga komoditas laut tangkapannya dijual sesuai harga pasaran.

Tim ekpedisi lalu teduh di salah satu desa yang bakal masuk wilayah ibu kota negara, yakni Desa Maridan di Kecamatan Sepaku. Kondisi jaringan internet pada desa ini pun sudah memadai dan bisa dinikmati warga makin menjadi kebutuhan sehari-hari.

Manfaat internet ini misalnya dirasakan salah satu warga Desa Maridan, Asnia, yang menjual berbagai tumbuhan hias dan memasarkannya melalui jalan sosial. “Saya promosi lewat Facebook dan Whatsapp. Alhamdulillah jaringan internet juga lancar, ” tuturnya. (Ifa/S2-25)

Related Post