Mendasarkan Keuangan Berkelanjutan di Akar Rumput

KETENTUAN keuangan berkelanjutan (keuangan berkelanjutan) telah menjadi topik pembicaraan di kalangan industri keuangan di tanah air. Mewujudkan model keuangan yang menyelaraskan kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan, seharusnya tidak hanya didorong untuk perusahaan besar, tetapi juga untuk usaha kecil di akar rumput.

Segmen akar rumput ini patut mendapat perhatian karena paling dekat dengan masyarakat. Ekonomi akar rumput yang dimaksud adalah para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), petani, nelayan, pedagang dan pelaku ekonomi utama lainnya di lapisan bawah yang secara langsung berhadapan dengan lingkungan sekitar kita. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per Maret 2021, jumlah UMKM di Tanah Air mencapai 64,2 juta.

Dalam konteks pembiayaan dan bantuan ekonomi akar rumput, tekfin pendanaan ke sektor keuangan yang dianggap sebagai media untuk mempercepat perluasan akses permodalan dan pemberdayaan UMKM. Dalam perjalanannya, pendanaan fintech kepada UMKM mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Desember 2021 terdapat 17,28 juta rekening dengan outstanding pinjaman sebesar Rp. 24,8 triliun. Nilai pinjaman telah tumbuh 727% dalam 3 tahun terakhir.

Seiring dengan pertumbuhan pendanaan bagi UMKM tersebut, pihak investor atau pemberi pinjaman yang memberikan pinjaman melalui tekfin pendanaan juga berpotensi meningkat. Terkait dengan keuangan berkelanjutan, permintaan akan produk keuangan ramah lingkungan juga semakin meningkat. Menurut survei BNP Paribas Global, minat investor terhadap produk berbasis lingkungan (lingkungan, berkelanjutan, tata kelola) meningkat 20% sejak pandemi covid-19. Oleh karena itu, keuangan berkelanjutan di tingkat akar rumput diharapkan dapat memenuhi permintaan produk investasi hijau.

Kembangkan perilaku berkelanjutan

Karakter tekfin pendanaan sebagai pembawa inovasi di bidang keuangan, tidak hanya berhenti pada peningkatan literasi dan inklusi keuangan. Sekarang tekfin pendanaan telah melahirkan literasi keberlanjutan sehingga masyarakat dapat menerapkan prinsip menjalankan usaha yang selaras dengan prinsip menjaga lingkungan.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) percaya bahwa kemakmuran dan keberlanjutan di komunitas akar rumput dan UMKM dapat berjalan beriringan. Anggota AFPI telah memberikan pendidikan dan bantuan tentang pentingnya praktik bisnis yang berkelanjutan. Salah satunya terkait dengan pengelolaan dana pinjaman yang bijak dan kewirausahaan yang berkelanjutan. Hal ini dilakukan di mana dana disalurkan kepada peminjam dengan segmen perempuan kuat, pengusaha kecil dan mikro di daerah pedesaan terpencil.

Kemudian memberikan pelatihan kewirausahaan berkelanjutan, mengolah produk secara ramah lingkungan, pengelolaan sampah menjadi produk yang memiliki nilai jual, meningkatkan pendidikan anak peminjam dengan program beasiswa, penanaman mangrove di lingkungan peminjam, hingga program penerangan dengan panel surya di pedesaan. dari Indonesia.

Kedepannya, UMKM membutuhkan pedoman dan pedoman standar pelaksanaan bisnis yang berkelanjutan yang tentunya disesuaikan dengan kondisi UMKM di Indonesia dan tidak membebani usahanya. Sehingga dapat memberikan nilai lebih bagi UMKM untuk mendapatkan pendanaan dengan sertifikasi UMKM yang berkelanjutan. Alhasil, ini bisa menjadi pilihan produk pembiayaan bagi investor atau pemberi pinjaman yang menyukai produk berkelanjutan.

Ekosistem keuangan berkelanjutan

Isu keuangan berkelanjutan juga menjadi salah satu hal penting yang dibahas pada pertemuan kelompok negara-negara G-20 tahun ini. Indonesia telah menyusun rencana kerja 2022 dalam kelompok kerja keuangan berkelanjutan, salah satunya peningkatan instrumen keuangan berkelanjutan, dengan fokus pada aksesibilitas dan penguatan konsep. tekfin dan keuangan berkelanjutan untuk memfasilitasi akses bagi UMKM.

Peran tekfin pendanaan sebagai katalis bagi UMKM Indonesia, melalui layanan keuangan, pendampingan dan pemberdayaan UMKM, sangat strategis untuk terlibat dalam pembentukan ekosistem keuangan yang berkelanjutan di Indonesia. Dengan menjalin kerjasama dengan pusat, daerah, perdagangan elektronikdan startup di sektor keuangan untuk fokus mengembangkanmeningkatkan kapasitas UMKM di Indonesia.

Ekosistem keuangan berkelanjutan perlu diperkuat dengan basis infrastruktur yang kuat, mengacu pada elemen penting seperti taksonomi hijau yang memandu pengembangan ekosistem yang mendukung pembiayaan hijau dan inklusif bagi UMKM di Indonesia. Dari penerapan taksonomi hijau terlihat bahwa sektor usaha UMKM mendukung perlindungan dan mitigasi serta adaptasi terhadap perubahan iklim.

Selain itu, regulasi yang mendukung penguatan juga diperlukan tekfin pendanaan untuk mempromosikan keberlanjutan di tingkat akar rumput. Regulasi baru tersebut berupa RUU Pembinaan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU P2SK) yang memuat sektor-sektor tekfin pendanaan adalah bagian dari itu. Selain itu, peraturan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang tekfin pendanaan juga telah mencakup hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaan operasional tekfin pendanaan.

Kemudian, pembangunan infrastruktur juga sangat krusial dalam membangun ekosistem keuangan yang berkelanjutan. Infrastruktur dalam hal jaringan internet ke seluruh wilayah Indonesia perlu diperkuat dan dapat mendorong digitalisasi. Dengan jaringan yang lebih luas, menjangkau pelosok Indonesia, diharapkan dapat mempermudah akses masyarakat terhadap layanan tekfin pendanaan.

Dibutuhkan insentif

Sebagai sebuah konsep yang masih berkembang, keuangan berkelanjutan tentunya masih menghadapi banyak tantangan. Oleh karena itu, diperlukan insentif dari pemerintah untuk meningkatkan porsi keuangan berkelanjutan, termasuk untuk pengembangan UMKM. Selama ini, pemerintah telah memberikan insentif yang cukup bagi UMKM melalui perbankan, terutama untuk pemulihan ekonomi pascapandemi. Namun demikian, insentif bagi ekosistem juga diperlukan, termasuk upaya mendorong pendanaan tekfin guna mendorong UMKM yang mendukung upaya berkelanjutan.

Insentif bagi pelaku tekfin Pembiayaan juga dapat diberikan dalam bentuk stimulasi pajak, penjaminan kredit hingga dukungan kemitraan agar biaya operasional semakin murah, dengan tujuan melayani masyarakat UMKM di daerah tertinggal, terdepan dan terluar.

Pemberian insentif tersebut tentunya bertujuan untuk meningkatkan inklusi keuangan yang berkelanjutan di tanah air. Harapannya, selain dana lebih dari tekfin pendanaan serta sektor UMKM yang berkelanjutan juga tumbuh secara kompetitif.

Related Post