Menebak Akhir Jalan Rachel Vennya

POLISI bertindak cepat ketika menerima sejumlah informasi dan bukti terkait pelanggaran protokol kesehatan oleh program Rachel Vennya. Bahkan judul kasus telah selesai dan polisi menemukan unsur pidana dalam kasus tersebut.

Artinya bukan tidak mungkin Rachel Vennya dan dua rekannya Salim Nauderer dan Maulida Khairunisa bisa terlibat kasus pidana yang bisa berakhir di penjara jika terbukti bersalah. Namun semua itu baru terjawab saat memasuki pengadilan. Andai saja pada 11 Oktober 2021 tidak ada informasi di media sosial akibat tangkapan layar bahwa dia tidak lolos dari karantina di Wisma Atlet, ceritanya akan berbeda. Bahkan, dia harus dikarantina di hotel berbayar dan bukan di Wisma Atlet.

Rachel yang baru saja kembali dari New York, AS, seharusnya menjalani karantina selama delapan hari sesuai SE Nomor 18 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional selama Pandemi Covid-19. Namun baru tiga hari kepergiannya dan itu terungkap dari aktivitasnya di media sosial.

Pada 13 Oktober 2021 Kapendam Jaya Kolonel (Arh) Herwin BS menyatakan Rachel bisa lolos dari karantina karena dibantu oleh anggota TNI yang bertugas di Bandara Soekarno-Hatta. Kedua anggota TNI tersebut telah dinonaktifkan dari satuan tugas dan dikembalikan ke unit masing-masing.

Hari-hari berikutnya tentu bukan waktu yang nyaman bagi mereka, karena polisi sudah menyiapkan surat panggilan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Artinya, pemeriksaan yang sebelumnya dilakukan pada tahap penyidikan ditingkatkan menjadi penyidikan pada Rabu (27/10).

Kabag Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengungkapkan ibu dua anak ini diduga terjerat Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan, dan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984. tentang Wabah Penyakit Menular. Hukumannya adalah satu tahun penjara. (Media Indonesia 28/10).

Bagi sebagian orang, tentu saja tidak masalah apa artinya investigasi atau investigasi. Mengingat kedua hal tersebut sekilas mirip. Dalam Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 8 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik ​​untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya suatu penyidikan. dilakukan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

Dalam konteks ini, polisi memang tengah menggali informasi serta berbagai informasi dan bukti yang dibutuhkan. Ini baru langkah pertama. Karena dari sini nanti statusnya bisa ditingkatkan menjadi penyidikan. Sedangkan penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik ​​menurut dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini, untuk mencari dan mengumpulkan barang bukti yang dengannya alat bukti itu menerangkan tentang tindak pidana yang terjadi dan untuk menemukan tersangkanya.

Jika sudah sampai tahap ini, sangat mungkin status hukum Rachel Vennya dan kawan-kawan akan berubah. Bisa jadi tersangka atau malah sebaliknya. Itu semua tergantung pada informasi dan juga adanya bukti. Jika sudah ditetapkan sebagai tersangka, bukan berarti Rachel berakhir karena proses hukumnya masih panjang.

Ketika proses penyidikan akhirnya selesai dan status tersangka telah ditetapkan karena ada bukti permulaan yang cukup, setidaknya dua alat bukti akan diserahkan kepada penuntut umum (jaksa). Penuntut umum harus memeriksa kembali berkas-berkas dari kepolisian. Benarkah nama-nama tersangka, apa bukti-bukti, saksi-saksi, dan penerapan pasal-pasal yang dituduhkan.

Makanya kita kemudian tahu ada kode-kode yang cukup familiar, seperti P-19 dan P-21. Jika P-19 berarti mengembalikan berkas perkara untuk diselesaikan kembali. Pengembalian dana tersebut dilakukan karena JPU saat memeriksa ternyata masih ada yang belum lengkap. Jadi, sudah menjadi tugas polisi untuk memenuhi apa yang diminta oleh jaksa penuntut umum. Sedangkan jika P-21 berarti semuanya sudah lengkap dan tinggal diajukan ke pengadilan untuk menentukan jadwal sidang. Singkat cerita, inilah kira-kira perjalanan Rachel Vennya dan teman-temannya.

Related Post