Meninjau kondisi agar Jakarta tidak banjir lagi

Kemarin, hari ini, dan lusa, mungkin akan menjadi hari yang mendebarkan ketika kita memandang ke langit. Pasalnya, cuaca sepertinya kurang bersahabat karena langit siap mengucurkan hujan.

Seperti biasa, saat hujan, berarti yang akan datang di hadapan kita adalah banjir dan tanah longsor. Padahal, jika kita melihat sejarah negara ini, hanya memiliki dua musim, kemarau dan hujan. Jadi bencana yang terjadi sebenarnya sudah di depan mata, jika terjadi kekeringan maka akan terjadi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, sedangkan pada musim hujan akan terjadi banjir dan tanah longsor.

Tapi, seperti biasa, kami hanya berteriak ketika semuanya telah terjadi di depan mata kami. Memang, cara termudah adalah dengan mengacungkan jari untuk mencari tahu siapa yang bisa dijadikan kambing hitam.

Yang menarik adalah kondisi di DKI Jakarta. Ibu kota negara yang akan terus dilanda banjir, siapapun yang menjadi gubernur, daerah yang dulu bernama Batavia ini tidak akan lepas dari banjir. Jadi, tidak perlu berkampanye dengan menjanjikan banjir akan hilang dari Jakarta.

Namun tekad untuk mengurangi banjir harus dilakukan seperti yang disampaikan Gubernur Anies Baswedan. Anies menjamin banjir bisa surut dalam waktu enam jam jika aliran sungai dalam kondisi normal.

Selain itu, Jakarta akan terhindar dari banjir jika curah hujan tidak melebihi 100 milimeter per hari. Pasalnya, kapasitas drainase di Jakarta tidak boleh di atas 100 milimeter.

Syarat lainnya adalah kondisi aliran sungai tidak melebihi permukaan bantaran sungai. Kondisi yang tak kalah penting, meski terdengar lucu, adalah hujan telah berhenti sehingga air bisa dipompa keluar dari area tersebut.

Kondisi yang mungkin dianut oleh daerah lain di Indonesia, meski sebagian mungkin menertawakan sejumlah kondisi ala DKI Jakarta.

Apalagi Bung Anies pernah berbicara pada Minggu, 31 Oktober 2021. bahwa banjir tidak surut secara alami melalui gravitasi. Di situlah perlunya penyedotan terus menerus.

Mungkin, Anies lupa mengatakan bahwa hujan harus dikembalikan ke tanah, bukan dibuang ke laut, karena bertentangan dengan sunnatullah.

Berkaca pada fakta-fakta ini, kita tidak boleh menafikan karya pihak lain. Jika kita tidak bisa membuatnya lebih baik, kita tidak boleh mengkritiknya. Anda tidak perlu melakukan hal lain jika sebenarnya dengan cara yang sama.

Yang pasti, dampak La Nina tidak terbatas di Indonesia. Ini menimpa banyak negara. La Nina adalah fenomena alam di mana suhu permukaan laut di tengah Samudera Pasifik turun menjadi lebih dingin dari biasanya.

La Nina terjadi secara berpola dan berlangsung sejak tahun 1998. Artinya, sangat dimungkinkan hal ini disebabkan oleh anomali cuaca akibat efek rumah kaca. Pemanasan global yang membuat suhu bumi meningkat, tidak bisa dipungkiri.

Pj Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BNPB, Abdul Muhari mengatakan, khusus untuk periode 1 hingga 7 November 2021, sebanyak 32 kejadian banjir terjadi di Indonesia.

Dalam konteks ini, kata-kata Anies menemukan jalannya, agar air hujan yang datang bisa dikendalikan. Dikatakannya, hujan dan banjir merupakan fenomena siklus yang kita hadapi, terus menerus. tetapi dapat dikendalikan.

Berbeda dengan gempa yang berada di luar kendali manusia. air hujan dan banjir dapat dikendalikan. Setuju pak, itu bisa dikendalikan dengan aksi nyata dan bukan cerita.

Related Post