Menuju Lumbung Pangan dengan Lahan Rawa

Menuju Lumbung Pangan dengan Lahan Rawa

BAGI Kalimantan Selatan, menjadi bagian lumbung pangan nasional sudah berada di depan mata. Salah satu modalnya ialah program optimalisasi lahan rawa yang sudah dilakukan sejak 2019.

“Pemerintah pusat mendukung dengan memberikan alokasi kegiatan optimalisasi lahan rawa seluas 120 ribu hektare di 9 kabupaten. Sudah dilaksanakan di Barito Kuala dan Banjar, serta berlanjut tahun ini di Barito Kuala dan Hulu Sungai Selatan,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat berkunjung ke lokasi optimalisasi lahan rawa di Barito Kuala, kemarin.

Kementerian Pertanian, lanjut dia, mengucurkan anggaran kegiatan optimalisasi lahan rawa di Kalsel sebesar Rp91 miliar. Kegiatan yang didanai berupa pengucuran prasarana dan sarana pertanian, tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan. Khusus untuk Kabupaten Barito Kuala, mereka memperoleh bantuan Rp43 miliar.

Gubernur Sahbirin Noor menambahkan Barito Kuala merupakan salah satu kabupaten penyumbang produksi padi terbesar di Kalsel bersama dengan Banjar dan Tapin. “Kalsel tetap mampu memenuhi kebutuhan beras bagi warganya. Ketahanan pangan aman karena hasil produksi padi selalu surplus. Pada 2020, kami menargetkan produksi padi sebesar 1,7 juta ton,” ujarnya.

Di Sumatra Barat, Kabupaten Pesisir Selatan juga menjadi kandidat lumbung pangan nasional. Seorang utusan dari Kementerian Pertahanan datang untuk mengidentifikasi lahan potensial komoditas padi gogo dan ketela pohon.

“Yang dikunjungi ialah kawasan hutan dan lahan kelompok di Kecamatan Pancung Soal, Ranah Ampek Hulu Tapan, Basa Ampek Balai Tapan dan Lunang,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan Nuzirwan.
Dia berharap ada tindak lanjut dari kunjungan itu. “Kita semua ingin ketahanan pangan tetap terjaga, bahkan produksi bisa terus meningkat.”

Kabar baik datang dari Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Ekspor kerajinan berbahan dasar mendong digulirkan sejumlah perajin dari Kecamatan Purbaratu ke Amerika Serikat.

Mendong ialah rumput-rumput­an yang tumbuh di tanah rawa dan banyak dibudidayakan di Tasikmalaya. Tanaman ini ramah lingkungan sehingga hasil kerajinannya disukai di sejumlah negara.

“Kerajinan berbahan dasar mendong laris di luar negeri karena ramah lingkungan. Saking besarnya permintaan ekspor, kami baru bisa melayani 25%-nya untuk Amerika Serikat,” kata Eje Zainal Muttaqin, eksportir kerajin­an mendong.

Di sisi lain, di tengah keinginan pemerintah memperkuat keta­hanan pangan, petani di Kabupaten Malang, Jawa Timur, dihadapkan pada fakta bahwa stok pupuk subsidi sudah menipis. “Untuk 33 kecamatan, kebutuhan dipatok 43 ribu ton. Kondisi hari ini stok hampir habis,” kata Kepala Seksi Pupuk Dinas Tanaman Pangan, Suwaji. (DY/YH/AD/BN/MY/N-2)

Related Post