Merawat Budaya

KITA sekarang hidup di era Anthropocene, era ketika aktivitas manusia telah mempengaruhi ekosistem bumi secara global. Istilah ini secara resmi diluncurkan oleh sekelompok peneliti pada Kongres Geologi Internasional di Cape Town, Afrika Selatan, pada akhir Agustus 2016. Menurut mereka, saat ini hampir tidak ada area di planet ini yang tidak bersentuhan dengan aktivitas tersebut. makhluk berkaki dua, berotak, dan berjalan tegak yang disebut Homo sapiens (baca: manusia).

Dalam wawancara yang diunggah di situs solidaritas.net.aupada 21 Februari, Jeff Sparrow penulis buku Kejahatan Terhadap Alam: Kapitalisme dan Pemanasan Global, Tuntutan Peran Kapitalisme dalam Krisis Iklim, bahkan menyebutkan tumpukan timah yang ditemukan jauh di bawah lapisan es di Greenland, sebuah wilayah di Kutub Utara yang secara teori seharusnya menjadi salah satu daerah paling steril yang jauh dari jangkauan tangan manusia. Jangankan Kutub Utara, bulan dan planet-planet di luar Bumi sekarang sedang dieksploitasi. Penulis Australia yang juga aktivis lingkungan ini mengatakan bahwa kapitalisme bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi di dunia ini.

Atas nama pembangunan dan pariwisata, misalnya, tatanan sosial kehidupan masyarakat kerap dirusak. Sejumlah desa dan masyarakat adat, mulai dari Lembah Amazon, di Brasil, hingga Pulau Sumba, di Nusa Tenggara Barat, pun tak luput. Baru-baru ini, World Monuments Fund (WMF), sebuah organisasi independen yang mengabdikan diri untuk melindungi tempat-tempat paling berharga dan bersejarah di dunia, bahkan menyebut kehidupan di Sumba terancam punah.

Dalam situs resmi yang diunggah pada Rabu (2/3), Organisasi yang berbasis di New York itu mengatakan Sumba, bersama puluhan warisan budaya dunia lainnya, patut mendapat perhatian dan perlu direvitalisasi. Pulau Sumba yang berpenduduk kurang lebih 800 ribu jiwa ini memiliki kehidupan yang unik untuk melestarikan tradisi hidup yang tidak ditemukan di tempat lain. Bangunan rumah adat di atas panggung tidak hanya sebagai tempat berteduh dan beristirahat, tetapi juga memungkinkan ruang di bawahnya menjadi tempat memelihara hewan. Beberapa tiang penyangga diikat menjadi satu, membentuk sambungan fleksibel yang memungkinkan rumah tahan gempa.

Namun, kini kemampuan atau keterampilan masyarakat untuk memperbaiki, merekonstruksi, atau membangun rumah seperti ini mulai tergerus akibat minimnya bahan baku, baik akibat perubahan lingkungan maupun tren urbanisasi yang membuat penduduk terutama kaum muda pindah ke kota. Sementara itu, di sisi lain, rumah-rumah tua sangat rentan terhadap kebakaran, seperti yang terjadi di Desa Tarung pada tahun 2017 dan di Desa Bondo Morotuo pada tahun 2018 yang menghanguskan puluhan rumah adat.

WMF mengatakan untuk menghadapi tantangan global, terutama perubahan iklim, diperlukan metode inovatif dan penguatan pengetahuan tradisional untuk mengurangi dampaknya terhadap warisan budaya dan membantu masyarakat beradaptasi. Oleh karena itu, kearifan lokal yang terkandung dalam arsitektur bangunan rumah masyarakat Sumba (dan juga di sejumlah daerah lainnya), harus terus dipertahankan. Strategi berkelanjutan di sektor pariwisata tentunya diperlukan untuk meminimalkan dampak negatifnya sekaligus menjamin pemerataan manfaat bagi masyarakat lokal karena kegiatan tersebut seringkali menjadi ancaman bagi masyarakat lokal dan cara hidup mereka. Belum lagi ekses terhadap lingkungan.

Para pemangku kepentingan, terutama pemerintah daerah, mungkin perlu bekerja lebih keras lagi untuk melindungi warisan budaya di wilayah mereka. Upaya konservasi yang melibatkan warga dapat berperan dalam membangun ketahanan dan regenerasi tatanan sosial, tidak hanya di Sumba, tetapi juga di tempat lain yang terkena dampak krisis. Upaya tersebut penting dilakukan agar kekayaan budaya di nusantara tidak hanya sekedar cerita.

Related Post