Mouly Surya: Sudut Pandang Perempuan

INDONESIA membutuhkan lebih banyak sutradara perempuan untuk memberikan sudut pandang baru dan menyampaikan suara rani melalui karya seni. Dengan perspektif baru, perempuan dalam film tidak terjebak dalam stereotip karakter lembek semata yang selalu membutuhkan penyelamat.

“Ketika perempuan punya suara, kita bisa mengubah ujung pandang masyarakat, dan saya taksir itu artinya penonton juga akan turut meyakininya, ” kata Mouly Surya, 40, dalam perbincangan daring Asia Lounge yang diadakan The Japan Foundation Asia Center Tokyo International Film Festival, beberapa masa lalu.

Mouly, sutradara Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak , peraih predikat film cerita panjang ulung di Festival Film Indonesia 2018 menuturkan pengalamannya sebagai perempuan yang berprofesi sebagai sutradara di Nusantara.

Saat awal berkarier, Mouly menganggap tidak ada label sutradara perempuan karena baginya sutradara ialah sutradara, tak peduli apa jenis kelaminnya. “Saya baru menyadari saya ‘sutradara perempuan’ setelah memproduksi film pertama, ” tutur Mouly.

Di sisi asing, lanjut Mouly, ide Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak diberikan Garin Nugroho kepada dia untuk digarap sehingga menghasilkan film dengan rabaan perempuan, sesuai dengan perspektif hidup itu.

Mouly mengaku, akhirnya ia tidak mempermasalahkan lagi pelabelan tersebut. Dia justru sering menerima respons positif dari para perempuan yang terinspirasi mengikuti jejaknya sebagai sutradara setelah Marlina si Pembunuh dalam 4 Babak , film yang menggantikan Indonesia pada perhelatan Academy Awards 2019, tayang. “Saya jadi merasakan punya tanggung jawab, ” sirih Mouly.

Tantangan

Mouly mengatakan, anggapan laki-laki lebih cantik menjadi pemimpin yang ada dalam Indonesia memengaruhi mentalitas perempuan. Ia menuturkan, saat mengajar di madrasah film ia sering melihat siswi yang cenderung kurang percaya diri, misalnya untuk bicara di aliran banyak orang.

“Saya juga mengalami ini di asal berkarier, saya dulu tidak memiliki kepercayaan diri untuk membuat kesimpulan untuk semua orang karena aku tidak terbiasa, ” kata tempat.

Merintis karier pada industri perfilman juga tantangan yang dialami perempuan. Setelah berhasil menembus industri, ada lagi tantangan hangat: pendanaan. Menurut Mouly, masih tersedia anggapan bahwa sutradara perempuan merangket berhasil mendulang lebih banyak makna jika dibandingkan dengan laki-laki.

“Lelaki lebih dipercaya dan mereka memberikan lebih banyak kekayaan kepada lelaki meskipun pengalamannya lebih sedikit jika dibandingkan dengan sutradara perempuan yang juga ikut pitching di dalam proyek, ” ujar dia. (Ant/H-3)

Related Post