Nadiem Diminta Mundurkan Jadwal Asesmen Nasional

Nadiem Diminta Mundurkan Jadwal Asesmen Nasional

PERSIAPAN asesmen nasional (AN) yang direncanakan pada April 2021 mendatang dinilai belum matang. Gajah Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim diminta untuk membatalkan jadwal AN.

Deputi Bidang Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kultur (PMK), Agus Sartono, mengutarakan peristiwa itu, kemarin.

“Kalau saya sarankan realisasinya mundur Oktober 2021 atau di 2022 jika memang belum siap, ” perkataan Agus di gedung Kemenko PMK, Jakarta Pusat, seperti dilansir dari Medcom. id.

SUASANA sedianya akan menjadi pengganti ujian nasional (UN) dan ujian sekolah berstandar nasional (USBN), sebagai salah utama terbosan program Merdeka Belajar pada era Mas Menteri Nadiem.

Namun, menurut Agus, pembicaraan AN antara pihaknya dan Kemendikbud pun belum final. Masih banyak materi pembahasan yang belum beres disepakati. Satu hal yang menahan ialah belum jelasnya pelaksanaan ujian kesetaraan jika kebijakan AN diberlakukan.

“Sekarang ujian paritas bagaimana yang paket A, B, C kan dengan UN tak ada, kita kan kesulitan selalu. Orang yang mau mencalon jadi anggota DPRD perlu ijazah paritas SMA bagaimana caranya? ” ungkap dia.

Setali 3 uang, Ketua Umum Pengurus Gede Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mendukung ditundanya HIRAU. Pasalnya, informasi mengenai AN masih samar bagi masyarakat ataupun guru tunggal.

Sebagian besar umum, sergahnya, masih menyamakannya dengan UN. Unifah menduga itu terjadi karena belum adanya konsep dan sosialisasi yang jelas dari Kemendikbud.

“Jelaskan dulu apa bedanya secara UN, apa bedanya dengan asesmen kompetensi minimum (AKM). Di mana yang beda, kok ada misleading, jangan datang kemudian masyarakat menganggap bahwa SERAGAM sama kayak UN, ” sekapur Unifah.

Ia mengingatkan ketidakjelasan ini sangat berbahaya pokok tak menutup kemungkinan akan lahir pihakpihak yang memanfaatkan situasi. “Di daerah sudah banyak yang memaknakan sebagai pengganti UN, itu harus dijelaskan, apalagi sudah ada yang (menjual) try out (AN). Kan itu berarti balik lagi ke UN, ” ucapnya.

Tak perlu bimbel

Dalam kunjungannya ke Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Mendikbud Nadiem menegaskan BERSERAKAN tidak sama dengan UN. Dia meminta orangtua untuk tidak perlu resah dan memasukkan anaknya ke bimbingan belajar karena hanya membuang kekayaan. “Sekolah juga hanya perlu menyiapkan ruangan untuk AN, ” ucap Nadiem, Rabu (11/11), dikutip dari Antara .

AN, kata Nadiem, hanya untuk pemetaan bukan untuk menghakimi murid dan sekolah. Sekolah tidak dihukum dengan kondisi itu. AN cuma urusan kepala sekolah, pemerintah daerah, dan kementerian. “Dengan AN, kita melihat bagaimana perubahan kualitas madrasah dari tahun ke tahun, ” ujar dia. (H-2)

Related Post