NU, Muhammadiyah, dan Tanggung Jawab Sosial

Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, ada perdebatan metodologis (jalan tengah) di Jerman. Perdebatan ini sangat sengit untuk menentukan apakah ilmu ekonomi merupakan ilmu dengan logika nomologis yang bercirikan ekonometrika atau logika ideografik yang menekankan pada wawasan sosial budaya.

Di tengah ketegangan akademik, Max Weber, sebagai master sosiologi, menyerukan paradigma konvergen. Weber menawarkan semangat ‘untuk membawa metode ilmu pengetahuan alam dan humaniora di bawah satu atap’ sebagai langkah strategis yang memadukan konsep eklaeren dan konsep verstehen dengan harapan, melalui pencampuran eklaeren dan verstehen, para ilmuwan sosial tidak lagi terjebak dalam cara pandang positivistik dalam melihat realitas sosial.

Warisan Weber mempengaruhi banyak sosiolog yang tinggal di daratan Eropa, di antaranya Juergen Habermas. Habermas melakukan rekonstruksi metodologis dengan untuk melampaui epistemologi neo-Kantian. Melalui buku Zur Logic de Sozialwissenschaften diterbitkan pada 1970-an, Habermas mengundang berbagai pihak untuk mendirikan ilmu-ilmu alam (naturwissenchaften), dan humaniora (geisteswissenschaften) bersebelahan.

Roh semipermeabel

Dalam konteks saat ini, ajakan titik temu dan sinergi yang disampaikan oleh para master sosiologi perlu diwujudkan oleh para penggiat sosiologi selanjutnya. Apalagi aktivis sosiologi yang menjadi panutan masyarakat seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dengan tokoh KH Yahya Chalil Staquf (Gus Yahya) dan Prof Haedar Nashir adalah mahasiswa sosiologi lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Selama belajar sosiologi, keduanya akan dibekali dengan banyak konsep dan teori tentang bagaimana memahami masyarakat dan merespon dengan baik setiap perubahan sosial. Oleh karena itu, diharapkan keduanya mampu menjadikan NU dan Muhammadiyah sebagai tanggung jawab sosial yang menginspirasi umat dan lapisan masyarakat lainnya.

Setidaknya, semangat semipermeabel, yaitu kesediaan dua elemen yang saling menembus, saling menyapa, dan bersinergi untuk menghasilkan sikap toleransi dan koeksistensi yang harus dibina sebagai ekosistem organisasi. Seperti diketahui, keberadaan NU dan Muhammadiyah kerap mengalami ketegangan saat berhadapan dengan persoalan ubudiyah atau amaliyah.

Ungkapan sindiran ‘kalau orang NU ke masjid, sandalnya hilang dan kalau orang Muhammadiyah ke masjid, qunutnya hilang’ sepertinya merupakan cerminan konflik horizontal yang berkepanjangan. Yang lebih menyedihkan adalah ungkapan itu semakin ditegaskan ketika paradigma ubudiyah Muhammadiyah yang diselubungi label tahayul, bid’ah, dan takhyul masih berkelanjutan.

Demikian pula paradigma ubudiyah NU yang sangat menekankan unsur fadilah (keutamaan) dalam beribadah sehingga sebagian pengikutnya memandang fadilah sebagai hukum yang prinsip (ushuliyah). Dampaknya, dalam hal ubudiyahNU dan Muhammadiyah seringkali berada di persimpangan jalan, yang keduanya ‘mendiskreditkan’ ciri ideologis satu sama lain.

Potret konfliktual ini seolah meneguhkan tradisi Kantian yang sebenarnya telah ‘dikubur’ oleh master sosiologi klasik seperti Weber dan master sosiologi modern seperti Habermas. Bahkan, potret buram ini harus diatasi oleh dua tokoh aktivis sosiologi yang kini menjabat pucuk pimpinan NU dan Muhammadiyah.

Karena itu, untuk menumbuhkan semangat semipermeabel Di kalangan NU dan Muhammadiyah, Gus Yahya dan Prof Haedar perlu merumuskan sosiologi terapan yang dapat menempatkan platform organisasi NU dan Muhammadiyah yang saling menembus, meresap, dan saling menyapa dalam menyikapi praktik ubudiyah.

Belajar dari sang pendiri

Secara historis, semangat semipermeabel sebenarnya telah ditunjukkan pendirinya. KH Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah menggunakan kebijaksanaan dan kesopanan dalam menyikapi setiap perbedaan ubudiyah. Selain itu, secara paradigmatik, selain menggunakan khazanah Islam, kedua tokoh pendiri tersebut justru menggunakan sosiologi dalam mentransformasikan pendekatan dan metode ibadah warganya.

Sebagai pembelajar agama, yang sama-sama berguru kepada Kiai Shalih Darat di Semarang dan sama-sama berguru kepada Syekh Khatib al-Minangkabawi dan Syekh Nawawi al-Bantani di Mekkah, mereka mengamalkan tata cara ibadah yang sama-sama dianut. memiliki jalur pergerakan yang berbeda, keduanya sama-sama mengabdikan diri untuk kemaslahatan agama dan bangsa serta tegaknya persatuan.

Berkaitan dengan itu, sikap gotong royong, kesamaan, dan pola interaksi yang dicontohkan dua pendiri NU dan Muhammadiyah itu menjadi situs sejarah dan peninggalan yang perlu dilestarikan oleh Gus Yahya dan Prof. ukhuwah islamiyah persaudaraan basyariyah, dan ukhuwah wathaniyah, yang secara sosial bertanggung jawab dan bermanfaat bagi peradaban dunia.

Related Post