Nuklir, Senjata Nuklir, dan Perang Nuklir

BELAKANGAN ini ada kecemasan bahwa perang dunia (PD) III akan terjadi karena ada sengketa serius di beberapa bagian dunia. Pertama, di Laut Cina Selatan di mana ada ketegangan dengan masuknya armada laut dan kekuatan tempur dari AS dan beberapa negara Eropa, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan menghadapi kekuatan Tiongkok yang ingin menguasai Laut Cina Selatan. Menghadapi tantangan AS dan kawan-kawan ini, Rusia dan Korea Utara ikut mendukung Tiongkok.

Di Timur Tengah ada ketegangan antara Iran dan Israel yang saling mengancam dan sudah berlangsung cukup lama. Israel menembakkan rudal beberapa kali di beberapa tempat seperti di Suriah, Libanon karena dicurigai ada konsentrasi pasukan atau senjata yang didukung Iran untuk menyerang Israel. Saling mengancam untuk saling memusnahkan antara Israel dan Iran terus berlanjut. 

Di tempat lain juga terjadi ketegangan antara Rusia dengan Ukraina di mana perkembangan sampai saat ini sudah sangat mengkhawatirkan karena AS, Inggris, Kanada, dan negara-negara lain telah memerintahkan warganya termasuk pejabat kedutaan untuk keluar dari Ukraina. Melalui berbagai pemberitaan Presiden AS Joe Biden dan NATO dengan Presiden Rusia Vladimir Putin saling mengancam satu sama lain. Rusia telah mengirim ratusan ribu pasukan di perbatasan Ukraina dengan berbagai macam persenjataan modern dan disinyalir siap menyerbu Ukraina. 

Menghadapi kenyataan ini, AS dan beberapa negara NATO bereaksi dengan mengirim pasukan serta persenjataan untuk membantu Ukraina. Jika terjadi perang terbuka di salah satu wilayah tersebut, dikhawatirkan akan meluas dan dipastikan akan terjadi PD III yang dapat berimbas pada perang nuklir. Dari catatan sejarah PD baru ada dua bom atom yang meledak dalam situasi perang, di Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945) dalam perang dunia II. 

Pesawat pembom Enola Gay jenis B29 yang dipiloti Kolonel Paul W Tibbets membawa bom uranium yang dinamakan Little Boy menghantam Hiroshima. Daya ledaknya 15 kiloton. Pesawat pembom di Nagasaki juga jenis B29 dengan nama Bockstar dipiloti Mayor Charles W Sweeney. Atomnya jenis uranium dan bomnya dinamakan Fat Man dengan daya ledak 21 kiloton. 

Peristiwa tersebut bukan perang atom karena tidak terjadi Jepang tidak memiliki bom/senjata atom pada waktu itu. Saat PD II hanya Amerika Serikat yang memiliki bom atom. Korban meninggal di Hiroshima sekitar 140 ribu orang dan Nagasaki sekitar 80 ribu orang disamping kehancuran/kerusakan infrastruktur dan lingkungan. Atas tragedi ini, pada 9 Agustus 1945 Presiden AS Harry S Truman menyatakan, “Saya menyadari tragisnya bom atom itu. Bom atom adalah beban mengerikan yang diamanahkan kepada kita. Kita bersyukur bahwa bom atom jatuh di tangan kita, bukan musuh kita dan kita berharap agar Tuhan menuntun kita semua untuk menggunakannya di jalan yang diberkatiNya dan ditakdirkanNya.” Apakah ungkapan/doa Presiden Truman ini berkenan kepada Tuhan? Kita boleh menafsirkan sendiri dengan pemahaman agama masing-masing, tapi Tuhanlah yang memutuskan. 

Sekarang bom atom telah berkembang menjadi bom nuklir bahkan senjata nuklir. Senjata nuklir terdiri dari bom nuklir (dijatuhkan dari pesawat) dan rudal berhulu ledak nuklir yang ditembakan dari darat (tank, dll), udara (pesawat tempur), laut (kapal perang), dan bawah laut (kapal selam). Bagaimana kalau terjadi perang nuklir? Apa dampaknya senjata pemusnah massal ini bagi manusia dan bumi ini? 

Dalam buku yang berjudul Glosarium Ilmu Dan Teknologi Nuklir terbitan BATAN 2002, nuklir, tenaga nuklir, dan senjata nuklir, didefinisikan sebagai berikut; nuklir/nucleus adalah bagian kecil atom bermuatan positif berdiameter 1/10.000 diameter atom, bermassa hampir sama dengan massa atom. Tenaga nuklir/nuclear energy adalah energi yang dibebaskan oleh reaksi inti fisi atau fusi atau oleh peluruhan radioaktif. Senjata nuklir/nuclear weapons adalah senjata yang didasarkan pada peledak nuklir. 

Setelah PD II terjadi perang dingin antara blok Barat yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dibentuk 12 negara pendiri (Belgia, Kanada, Denmark, Perancis, Islandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Norwegia, Portugal, Inggris, dan Amerika Serikat) melalui penandatanganan 12 menteri luar negeri negara-negara tersebut di Washington pada 4 April 1949 dengan pimpinan AS. Blok Timur yang tergabung dalam Pact of Mutual Assistance and Unified Command (PMAUC)/Pakta Warsawa yang dipimpin Uni Soviet pada waktu itu. Sampai saat ini keanggotaan NATO berjumlah 30 negara.

                                                                                                  

Pakta Warsawa didirikan pada 14 Mei 1955 di Warsawa, Polandia oleh beberapa negara blok Timur yaitu Uni Soviet, Albania, Bulgaria, Cekoslovakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia, dan Rumania. Dalam perkembangannya, atas kesepakatan negara anggota pada pertemuan 31 Maret 1991 di Praha, Cekoslowakia, Pakta Warsawa dibubarkan karena terjadi krisis di Uni Soviet dan revolusi demokratik di Eropa Timur. 

Dalam perang dingin ini beberapa negara melakukan uji coba bom nuklir yang mengguncang dunia. Senjata pemusnah massal ini berkembang pesat saat Amerika Serikat dan Uni Soviet didukung bloknya masing-masing. Teknologi hulu ledak nuklir baru berusia 76 tahun. Namun, pengembangan dan pengetesan senjata ini sering dilakukan dan menurut catatan Atomic Archive, telah ada 2.059 ledakan nuklir sepanjang sejarah. AS dan Soviet paling rajin mengetes senjata nuklir pada abad 20, di samping Inggris, Prancis, dan Tiongkok. 

Sejumlah percobaan ledakan pun mencatatkan daya hingga hitungan megaton. Dari catatan sejarah, sebagaimana ditulis Merdeka (20 Januari 2016) dan Kompas (10 Oktober 2021), setelah percobaan pertama bom atom Trinity (dikenal dengan proyek Manhattan) yang diuji coba oleh AS di Alamogordo, New Mexico pada 16 Juli 1945 dengan daya 19 kiloton (uji coba ini dilakukan sebagai persiapan untuk membuat bom bagi pemboman di Hiroshima dan Nagasaki), ada 7 ledakan bom nuklir terbesar yang diuji coba oleh AS dan Uni Soviet yaitu;

       

1. Castle Romeo 

Bertempat di Bikini Atoll, sebuah pulau terpencil di kawasan Samudra Pasifik, Amerika melakukan tes bom nuklir Romeo. Bom ini tercatat sebagai bom nuklir terdahsyat nomor 3 dalam rangkaian bom Castle. Saat uji coba yang dilakukan pada 1954 itu Romeo menghasilkan ledakan 11 megaton. Efek ledakan itu meluluhlantakkan daerah seluas 5 kilometer persegi. Menariknya, Romeo dikenal sebagai bom nuklir pertama yang diledakkan di laut lepas, bukannya kawasan karang atau dekat pantai.

2. Bom Soviet Nomor 123

 

Tidak mau kalah dengan AS, Uni Soviet (yang kini pecah menjadi Rusia dan beberapa negara Eropa Timur lain), melakukan eksperimen bom nuklir 123 di kawasan Novaya Zemlya. Novaya adalah sebuah kepulauan di Samudra Artik (utara Rusia) yang merupakan titik ekstrem di laut Eropa. Uji coba itu berlangsung 23 Oktober 1961 dan bom nuklir yang dipakai berkekuatan 12,5 megaton. Bom ini disebut mampu menghancurkan kawasan seluas 5,5 kilometer persegi dan membakar semua yang ada di radius 3.390 kilometer persegi. Manusia yang ada dalam radius itu bisa mengalami luka bakar parah tingkat 3.

3. Castle Yankee

Setelah Romeo, Yankee adalah bom nuklir terkuat kedua dalam rangkaian uji coba bom nuklir Castle. Bom ini mempunyai daya ledak 13,5 megaton. Eksperimen ini dilakukan ditempat yang tidak diketahui, namun terungkap di ketinggian 40 ribu kaki dan dilaksanakan 4 Mei 1954. Empat hari pascaledakan, jatuhan zat radioaktif dari Yankee sampai ke ibukota Meksiko, Meksiko City, Tidak hanya itu, efek ledakan Yankee juga mengancam kawasan barat Amerika akibat luluhan zat radioaktif yang sangat berbahaya bagi manusia. Efek radioaktif ini bahkan menghantui Amerika dan Meksiko selama berhari-hari. 

4. Castle Bravo

Uji coba bom nuklir ini terdahsyat ‘karya’ Amerika. Bravo diledakkan sebelum Yankee, yakni pada 28 Februari 1954 di dekat Kepulauan Marshall. Kepulauan ini terletak di Samudra Pasifik bagian barat. Kedahsyatan ledakan Bravo ternyata tidak diantisipasi oleh Amerika. Saat mereka berharap ledakan Bravo setara dengan 6 megaton, Bravo justru meledak sampai kekuatan 15 megaton. Bravo bahkan memicu ‘jamur’ sisa ledakan dengan ketinggian nyaris 35 kilometer. Kesalahan perhitungan itu juga menyebabkan keracunan radiasi 665 penduduk Kepulauan Marshall. Bahkan, meracuni dan membunuh nelayan Jepang yang saat itu berada 80 mil dari sumber ledakan. 

Sebagai tambahan, akibat uji coba 3 bom nuklir jenis Castle tersebut yang mengakibatkan beterbangannya radioaktif di kawasan lautan Pasifik dan dikhawatirkan menjalar ke negara-negara di kawasan tersebut, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No. 230 tahun 1954 tanggal 23 November 1954 tentang Pembentukan Panitia Negara untuk Penyelidikan Radioaktivitet, dengan tugas untuk melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan adanya jatuhan radioaktif di kawasan Indonesia akibat uji coba senjata nuklir di lautan Pasifik.

5. Bom Soviet Nomor 173, 174, dan 147

Ketiga bom ini diledakkan di tempat yang sama, Novaya Zemlya mulai 5 Agustus sampai 27 September 1962. Tiga bom ini juga punya daya ledak dengan kekuatan yang sama. Meski tidak ditemukan arsip dokumentasi dari tiga eksperimen bom nuklir ini, diketahui daya ledak bom 173, 174, dan 147 adalah 20 megaton. Ledakan ini diprediksi 1.000 kali lebih kuat dari bom nuklir Trinity, bom nuklir pertama di dunia yang diledakkan Amerika 1945. Ledakan ketiga bom ini diklaim dapat memusnahkan apa saja yang ada di radius 8 kilometer dari pusat ledakan.

  

6. Bom Soviet Nomor 219

 

Bom 219 adalah eksperimen bom nuklir paling dahsyat nomor dua dalam sejarah, dan dilakukan 24 Desember 1962. Tempat diledakkannya bom ini masih sama, Novaya Zemlya. Ledakan dahsyat berkekuatan 24,2 megaton disebut muncul dari bom nuklir ini. Ledakan itu juga mengubah apa saja menjadi debu dalam jarak hampir 10 kilometer persegi. Tidak berhenti di situ, manusia yang ada di radius 5.827 kilometer persegi dari pusat bom juga dapat mengalami luka bakar minimal tingkat 3.

7. Bomstar

Bomstar yang lebih dikenal dan popular dengan nama Star Bomba (Bom Kaisar) diledakkan Uni Soviet pada 30 Oktober 1961. Tsar Bomba adalah eksperimen bom nuklir dengan ledakan paling dahsyat dalam sejarah manusia. Bom ini punya daya ledak 50-58 megaton atau dua kali lipat dari bom Soviet nomor 219. Tak aneh bila ledakan yang dihasilkan 3.000 kali lebih kuat dari bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima. Jamur sisa ledakan Tsar Bomba bahkan terlihat dari jarak 1.000 kilometer, dan diklaim menghancurkan kaca bangunan hingga jarak 900 kilometer. Setiap manusia yang ada di radius 10.000 kilometer persegi dipastikan akan mengalami luka bakar tingkat 3. Apa saja yang ada di jarak 16,5 kilometer dari episenter bom akan hancur tak berbekas. 

Sebagai gambaran, lima negara yang diakui NPT (Nuclear Weapons Non-Proliferation Treaty) memiliki senjata nuklir, telah melakukan uji coba nuklir dengan rincian sebagai berikut; AS sebanyak 1.030 (1945-1992), Uni Soviet (sekarang Rusia) 715 (1949-1990), Prancis 210 (1960-1996), Inggris 45 (1952-1991), Tiongkok 45 (1964-1996). Walaupun dalam perjanjian NPT hanya lima negara yang diakui memiliki senjata nuklir, dalam perkembangan sampai saat ini ada beberapa negara yang telah memiliki senjata nuklir, baik terungkap secara terbuka maupun tertutup. Bahkan mereka sudah melakukan uji coba sesuai pemberitaan berbagai media. seperti India, Pakistan, Israel, Iran, dan Korea Utara. 

Bahkan Korea Selatan melaporkan telah berhasil melakukan uji coba rudal balistik yang diluncurkan dengan kapal selam. Berita ini sebagai imbangan atas berita NBC News bahwa Korea Utara telah menembakkan dua rudal balistik di lepas pantai timurnya pada 15 September 2021. Jepang juga masih tanda tanya apakah telah memiliki senjata nuklir dalam upaya mengimbangi Korea Utara dan Tiongkok yang tidak bersahabat dengan Jepang. 

Sebenarnya Jepang dalam pengalaman dan penguasaan teknologi nuklir, tidak sulit untuk membuat senjata nuklir. Karena negara pertama di Asia yang mengembangkan dan menguasai energi nuklir melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir) adalah Jepang. Mungkin ada juga negara-negara lain yang telah memiliki senjata nuklir, namun tetap merahasiakannya secara ketat demi kepentingan keamanan dan pertahanan serta keselamatan negaranya.

Kepemilikan senjata nuklir dari negara-negara pemiliknya dapat dirinci sebagai berikut; SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute) per 2020 menginformasikan bahwa total senjata nuklir di dunia ada sekitar 13.500 hulu ledak nuklir. Lebih dari 90% jumlah tersebut merupakan milik Rusia dan AS. Terdapat tiga kategori kepemilikan senjata nuklir di berbagai negara di dunia; pertama, retired. Hulu ledak yang sudah pensiun dan tidak ada lagi di gudang, tetapi tetap utuh untuk menunggu pembongkaran. Kedua, persediaan. Hulu ledak yang digunakan untuk potensi penggunaan pada kendaraan pengiriman militer, termasuk hulu ledak aktif dan tidak aktif. Ketiga, nuklir untuk pengembangan strategis, seperti hulu ledak pada rudal balistik.

Berikut daftar kepemilikan senjata nuklir di beberapa negara di dunia per Agustus 2020; Rusia memiliki total 6.375 senjata nuklir dengan 2.060 senjata pensiun, 4.351 dalam persediaan, dan 1.326 dalam pengembangan strategis. AS memiliki total 5.800 senjata nuklir dengan 2.000 senjata pensiun, 3.800 dalam persediaan, dan 1.373 dalam pengembangan strategis. Tiongkok memiliki total sekitar 320 total hulu ledak. Prancis memiliki total sekitar 290 total hulu ledak nuklir, Inggris memiliki sekitar 215 hulu ledak nuklir di mana diperkirakan 120 dikerahkan dan 95 dalam persediaan. 

Menurut Merdeka.com (5/1/2022) di samping data tersebut, ada juga negara lain yang memiliki senjata nuklir yaitu India sekitar 156 hulu ledak nuklir, Israel (sekitar 90), Pakistan (sekitar 165), dan Korea Utara (sekitar 40-50). Iran disinyalir juga memiliki senjata nuklir, namun tidak ada data dari berbagai media yang memberitakannya. Data-data tersebut di atas pasti hanya perkiraan saja karena bersifat top secret. 

 

Jika kita simak tujuh ledakan terbesar dari AS dan Uni Soviet (sekarang Rusia) dalam percobaan bom atom, tentu sekarang kekuatan bom nuklir kedua negara itu kekuatannya ribuan kali dari bom yang dijatuhkan di Horoshima dan Nagasaki. Daya rusaknya juga sudah berlipat ganda. Menurut Kompas.com (8/10/2021), jika kita mencoba Tsar Bomba yang memiliki daya ledak sebesar 50 megaton jatuh di atas kawasan Monas melalui Nukemap, dampak yang dihasilkan sangat destruktif. Nukemap adalah salah satu proyek dari Prof Dr Alex Wellerstein, seorang ahli sejarah tentang ilmu pengetahuan dan nuklir dari Stevens Institue of Technology, New Yersey, yang menginformasikan tentang ledakan nuklir.

Tak hanya Jakarta saja yang kena tapi juga melebar ke Jawa Barat dan Banten. Ledakan kuat yang dihasilkan Tsar Bomba menimbulkan tekanan udara sebesar 20 PSi (pounds per square inch/besaran tekanan yang memiliki satuan pound di setiap inci kuadrat luas suatu bidang) yang mencakup area 294 kilometer persegi. Dampak ledakan sangat hebat karena kawasan tersebut yang mencakup Ancol, Pluit, Kedoya Selatan, Pengadegan, dan Kelapa Gading Timur, akan luluh lantak. 

Dampak ledakan juga terasa pada daerah yang lebih luas hingga mencapai area seluas 9.270 kilometer persegi yang mencakup Kota Bogor di selatan, Karawang di timur, Pulau Panggang di timur, dan Kecamatan Balaraja di Barat, kota satelit di sekitar Jakarta seperti Bekasi, Depok, Tangerang Selatan, dan Tangerang bakal menerima efek ledakan moderat dengan tekanan 5 PSi. Korban tewas akibat Tsar Bomba 50 megaton diperkirakan sebanyak 10,387 juta orang dan korban luka sekitar 7,3 juta orang. 

Star Bomba yang meledak pada 30 Oktober 1961, pasti sudah ketinggalan dibandingkan bom/rudal nuklir baik buatan AS, Rusia, dan negara lain saat ini karena perkembangan teknologi yang luar biasa. Daya ledak, kehancuran, korban jiwa serta kerusakan lingkungan pasti luar biasa. Bayangkan bagaimana jadinya dunia ini bila 13.500 hulu ledak nuklir meledak di berbagai belahan dunia. Dipastikan dunia akan hancur lebur (kiamat). 

Global Challenges Foundation, sebuah organisasi dengan misi mengurangi isu-isu global yang dihadapi semua orang, membuat laporan tahunan berjudul Risiko Bencana Global. Dalam menyusun laporannya, peneliti lembaga ini meninjau berbagai makalah dan berkonsultasi dengan ahlinya. Terkait hal itu ada delapan skenario yang diduga bisa menyebabkan kiamat, salah satunya perang nuklir sebagaimana dilansir Newsweek, Rabu (31/10/2018). 

Para ahli memperingatkan di masa depan kemungkinan akan ada perang nuklir yang lebih dahsyat dibanding beberapa dekade lalu. Sesaat setelah pemboman Hiroshima yang menewaskan 150 ribu orang (data penulis di atas sebanyak 140 ribu orang), dunia hidup dalam bayang-bayang perang yang berbeda dari sebelumnya. Senjata tercanggih di masa depan mungkin dapat melenyapkan 80%-90% isi bumi, termasuk manusia. Apa yang ditunjukkan oleh temuan baru ini kerusakan lingkungan bisa lebih parah dan berlangsung lebih lama. 

Ilmuwan memperhitungkan kerusakan dari efek pemanasan awal ledakan nuklir serta hilangnya lapisan ozon dari dampak berikutnya. “Diduga ozon akan hancur setelah perang nuklir dan itu akan menghasilkan peningkatan sinar ultraviolet di permukaan bumi,” kata ilmuwan iklim Alan Robock, dari Universitas Rutgers, New Jersey seperti dikutip Science Alert, Jumat (15/10/2021). Perang global/nuklir akan menyebabkan hilangnya lapisan ozon rata-rata 75% selama 15 tahun. 

Kemudian asap akan menghalangi sinar matahari pada awalnya. Dalam beberapa tahun berikutnya, semburan sinar ultraviolet yang lebih kuat akan menghantam permukaan bumi akibat rusaknya lapisan ozon. “Ledakan awal, melalui reaksi kimia akan berkontribusi pada hilangnya ozon,” katanya. Dampak mengerikannya, akibat radiasi nuklir akan membuat manusia menderita karena kanker kulit, rusaknya lahan pertanian hingga kelangsungan hidup seluruh ekosistem. 

“Kondisi akan berubah secara dramatis, dan adaptasi yang mungkin berhasil pada awalnya tetapi tidak akan membantu saat suhu memanas kembali dan radiasi ultraviolet meningkat,” kata ilmuwan atmosfer Charles Bardeen dari National Center for Atmospheric Research(NCAR) di Colorado, AS. Menurut liputan6.com seperti dikutip dari listverse.com pada Selasa (27/6/2017), akan terjadi 10 bencana dahsyat jika perang nuklir pecah, yaitu; 1. Turun hujan hitam pekat; 2. Denyut elektromagnetik padamkan daya listrik; 3. Kabut asap halangi sinar matahari; 4. Terlalu dingin untuk menanam pangan; 5. Sobeknya lapisan ozon; 7. Makanan kemasan yang aman; 8. Resapan radiasi kimia dalam tulang; 9. Hadirnya badai besar; 10. Manusia akan mengintas. 

Semua dampak tersebut hanya akan dirasakan pada manusia yang tidak/belum mati akibat perang nuklir. Mempelajari akan semua dampak itu pada manusia setelah terjadi perang nuklir tidak ada harapan hidup, karena dia akan mengalami penderitaan berkepanjangan. Dari pertemuan Presiden Putin dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, 7 Februari 2022 di Moskow, ada 5 catatan penting. Salah satunya ialah ancaman Presiden Putin bila Ukraina diterima menjadi anggota NATO, serta Ukraina tetap menuntut Krimea adalah wilayahnya, maka akan terjadi perang nuklir. 

Itu artinya Rusia akan menyerbu Ukraina dan kemungkinan beberapa negara NATO serta dukungan AS akan terlibat dalam perang ini. Jika perang nuklir terjadi, Presiden Macron menyatakan bahwa tidak ada negara yang menang dan itu dibenarkan oleh Presiden Putin. Juga jika perang benar-benar terjadi, kemungkinan bukan hanya AS dan sekutunya di Eropa yang berperang dengan Rusia, tapi solidaritas negara-negara yang bersimpati akan terseret dan diseret, karena berbagai kepentingan dan pertimbangan. 

Kemungkinan yang bersamaan, juga terjadi perang nuklir di Timur Tengah karena ketegangan antara Israel dan Iran, di laut Cina Selatan duet Tiongkok dan Korea Utara melawan Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Australia yang didukung AS. Akibat perang ini, negara-negara yang tidak terlibat perang nuklir pasti akan merasakan dampak penderitaan berkepanjangan. Paling enak yang mati langsung pada saat perang.

  

Menyadari akan dampak perang nuklir ini, Sekjen PBB Antonio Guterres pada Hari Internasional untuk Penghapusan Total Senjata Nuklir (27/9/2021), menyatakan senjata nuklir harus dilenyapkan dari dunia dan era baru dialog, harapan, dan perdamaian harus dimulai. Mengatasi ancaman senjata nuklir “Sudah menjadi tugas utama PBB sejak awal. Meski secara keseluruhan jumlah senjata nuklir menurun selama beberapa dekade, namun sekitar 14 ribu senjata di seluruh dunia masih ditimbun. Kondisi itu membuat dunia menghadapi ‘tingkat risiko nuklir paling tinggi’ dalam hampir empat dekade. Kini saatnya untuk mengusir ancaman ini selamanya, melenyapkan senjata nuklir dari dunia kita,” kata Guterres, 

Indonesia sebagai negara yang terikat dengan perjanjian internasional, tidak memiliki senjata nuklir karena menjadi anggota NPT, CTBT (comprehensive test ban treaty), dan SEANWNFZ (Southeast Asian Nuclear Weapons Free Zone). Indonesia tetap konsekuen untuk patuh pada perjanjian tersebut. Kenyataan membuktikan Indonesia terus berjuang agar perjanjian-perjanjian itu dilaksanakan secara konsekuen dan konsisten oleh negara-negara anggota. 

Karena itu dunia mengakui Indonesia dalam kepeloporannya di dunia internasional melalui berbagai pertemuan tingkat tinggi, yang selalu menekankan agar negara-negara tetap patuh pada NPT, CTBT, SEASWNFZ serta perjanjian internasional lainnya. Melihat ketegangan di tiga belahan dunia, apakah Indonesia dengan politik luar negeri bebas-aktif mampu berperan untuk mengurangi ketegangan tersebut? Ini suatu tantangan sekaligus peluang.

Kita berharap agar kiamat dunia bukan karena perang nuklir rancangan manusia, tapi kehendak Tuhan dengan caraNya sendiri. Tapi kalau memang perang nuklir ini rancangan Tuhan untuk terjadi menuju dunia kiamat, tidak ada pilihan lain bagi kita selain pasrah dan bersiap diri. 

Related Post