Olahraga Metaverse

KINI Indonesia telah memiliki grand design olahraga nasional (DBON) yang dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 86 Tahun 2021. DBON merupakan rencana induk yang memuat arah kebijakan pembinaan dan pengembangan olahraga nasional dalam lingkup olahraga pendidikan, rekreasi olahraga, olahraga prestasi, dan industri olahraga.

Salah satu tujuan utamanya adalah meningkatkan budaya olahraga di masyarakat. Artinya ke depan masyarakat akan lebih terpacu untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan olahraga agar memiliki kesehatan fisik yang baik.

Sebenarnya banyak sekali definisi tentang olahraga.olahraga). Namun hampir semua definisi menghubungkannya dengan aktivitas fisik. Kamus Cambridge mendefinisikan olahraga sebagai ‘setiap jenis aktivitas fisik yang dilakukan orang untuk menjaga kesehatan atau untuk kesenangan’. Sedangkan Perpres Nomor 86 Tahun 2021 mendefinisikan olahraga sebagai segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, dan mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial.

Aktivitas fisik dalam olahraga merupakan hal yang nyata, dan berdampak besar bagi kesehatan pelakunya, baik jasmani, rohani, maupun sosial. Namun, saat ini kita dihadapkan pada tantangan untuk mengubah konsep olahraga yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Setidaknya dalam satu dekade terakhir, praktik e-sports (esports) berkembang sangat pesat. Bahkan, sekarang sudah banyak bermunculan atlet-atlet esports diakui secara profesional.

Selain itu, beberapa universitas asing bahkan memiliki jurusan esports (tingkat sarjana), misalnya di University of California-Irvine (Amerika), Staffordshire University (UK), Akademi Informatika (Singapura) dan lain-lain. Yang dipelajari bukan hanya dari segi teknologi, tapi juga dari aspek sistem permainan, manajemen bisnis dan lain sebagainya.

Akankah konsep olahraga virtual berhenti di sini? Tentu saja tidak. Esports hanyalah bentuk awal dari konsep olahraga virtual. Kedepannya bisa kita bayangkan bagaimana kegiatan olahraga yang akan dilakukan di dunia metaverse yang saat ini sedang dikembangkan oleh Mark Zuckerberg sebagai transformasi dari Facebook. Konon, dunia maya ini akan sangat mirip dengan kehidupan nyata kita. Kita bisa bertemu, bekerja, bermain, termasuk berolahraga, yang semuanya dilakukan oleh avatar kita sendiri. Kita bisa memilih (membeli) merek pakaian olahraga, sepatu olahraga, hingga peralatan yang digunakan.

Singkat cerita, dunia metaverse dalam bentuknya yang paling ekstrim, akan bergerak (pemindahan) manusia kehidupan nyata ke dunia avatar. Apalagi jika generasi baru nanti (gen alfa ke bawah) akan benar-benar berasumsi bahwa metaverse– atau teknologi serupa – adalah dunia nyata mereka. Saat itu, konsep olahraga akan berubah total. Olahraga tidak lagi memiliki makna fisik dan sosial. The ‘laybacks’ akan berada di puncak populasi.

Akibatnya, krisis kesehatan fisik dan mental akan menjadi masalah besar bagi setiap negara. Apalagi jika tidak dibarengi dengan solusi yang sama-sama futuristik. Obat untuk ‘kecanduan’ metaverse tidak mungkin datang dari perusahaan yang menciptakannya. Seperti saat kita kecanduan bermain Facebook, Zuckerberg tidak memberikan penawarnya sama sekali.

Obat dari ketergantungan pada pesona teknologi sebenarnya datang dari manusia itu sendiri, sebagai pengguna. Tidak mudah, apalagi melepaskan diri dari teknologi yang dirancang dengan sistem mudah digunakan, dimana pemakainya dimanjakan dengan berbagai kemudahan penggunaan.

Olahraga hibrida

Lalu apa solusinya? Pertama, tentu saja, yang terpenting adalah kebijaksanaan (kebijaksanaan) setiap manusia dalam menggunakan teknologi digital seperti metaverse. Kedua, pembentukan kebiasaan baru, di mana masa depan manusia harus membiasakan hidup di ‘alam alam’ sekaligus, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Selama ini kita mengenal istilah ‘hybrid’, atau ‘omni’ (saluran omni), yang intinya adalah suatu metode kegiatan yang menggunakan dua saluran sekaligus. Saya kira ini yang bisa kita terapkan, bukan cara-cara yang saling menggantikan, apalagi saling mengganggu. Semuanya bisa diposisikan saling melengkapi.

Begitu juga dalam olahraga. Sepertinya tidak mungkin untuk kita hindari, apalagi berkelahi, fenomena olahraga virtual, dan sebaliknya. Biarkan keduanya berjalan sesuai tujuan dan manfaatnya masing-masing. Tren olahraga masa depan adalah olahraga hybrid.

Ini juga bisa menjadi masukan untuk implementasi DBON ke depan. Saat ini konsepnya seratus persen masih membicarakan olahraga fisik. Ke depan, tidak menutup kemungkinan dunia olahraga virtual akan menjadi tren besar yang memaksa pemerintah untuk memikirkan dan membuat regulasi terkait yang relevan.

Konsep olahraga terus berkembang, terutama dalam konteks ilmu olahraga. Olahraga dapat dilihat dalam berbagai disiplin dan dimensi. Hal inilah yang harus disadari, dan dipersiapkan untuk terus melakukan pembaruan dalam perkembangan olahraga nasional sesuai dengan perkembangan zaman.

Related Post