Pendidik Berlabel Predator Seksual

Orang tua mana yang bisa menahan emosinya ketika putri kesayangannya menjadi korban kekerasan seksual? Orang tua mana yang mampu menahan diri untuk tidak melampiaskan emosinya kepada para pelaku kekerasan yang sangat layak disebut sebagai predator.

Jadi, jika nanti Herry Wirawan berhadapan dengan kemarahan orang tua siswa, itu bisa dimaklumi. Pemilik Pondok Pesantren Tahfiz Madani di Bandung, Jawa Barat, itu melampiaskan nafsu pada santrinya. Total 12 mahasiswi yang menginap menjadi korban dari perilaku biadab hewan Herry.

Akibat perbuatan bejat 12 siswi tersebut, lahirlah sembilan bayi. Aku tidak tahu harus menyebut apa pria bejat ini. Pasalnya, dia mengambil tindakan dari 2016 hingga 2021.

Andai saja tidak ada mahasiswi yang mengungkap kejadian biadab ini, mungkin perilaku biadab tersebut akan terus dilakukan. Betapa tidak, hingga lima tahun Herry melakukan aksi tersebut di berbagai tempat, mulai dari kamar hotel hingga apartemen. Parahnya lagi, seperti diungkapkan Kepala Kejaksaan Tinggi Jabar Asep N Mulyana, Kamis 9 Desember 2021, dia menduga herry menggunakan dana bantuan mahasiswa untuk menyewa hotel dan apartemen.

Herry bukan satu-satunya yang pantas dicap sebagai predator. Seorang guru agama sekolah dasar di Cilacap, Jawa Tengah, M, pernah mencabuli 15 muridnya dengan menjanjikan nilai bagus di mata pelajaran agama bagi murid yang menjadi korban perbuatan bejatnya.

Ada apa dengan dunia pendidikan ini? Bahkan mereka yang memiliki label agama telah berubah menjadi predator yang mengerikan. Seharusnya tidak ada permintaan maaf untuk predator seperti ini.

Yang pasti, bukan agama yang salah, melainkan para pelakunya yang menggunakan agama sebagai tameng untuk menutupi perbuatan bejatnya. Herry adalah seorang pengurus pondok pesantren, sedangkan M adalah seorang guru agama.

Dalam konteks ini, kita dapat memahami bahwa masih banyak orang tua yang menutup-nutupi kejadian tersebut karena merasa hal tersebut merupakan aib. Mereka memilih untuk tetap tak berdaya, meski jiwa dan raga mereka hancur. belum lagi masa depan putri-putri kesayangan mereka.

Guru, dosen, atau pendidik seolah memiliki kekuatan untuk mempermainkan nasib anak-anak yang diasuhnya. Ketika siswa diancam dengan nilai jelek, tentu tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan pendidik yang biadab itu.

Apalagi jika dia adalah orang yang paham agama, bukan tidak mungkin mengeluarkan satu ayat dari kitab suci untuk membenarkan perbuatannya yang terkutuk itu. Apa yang bisa dilakukan siswa? Mereka seperti ditusuk hidungnya karena takut dianggap sebagai siswa yang durhaka karena menolak permintaan sang pendidik.

Ancaman seperti itu harus diusut tuntas. Tidak ada permintaan maaf. biarkan mereka membusuk di penjara. Jika hanya divonis 15 tahun penjara, jelas tidak adil. karena setelah penjara mereka menjadi orang bebas.

Tapi, bagaimana dengan trauma seumur hidup korban? Bukankah itu menjadi pertimbangan bagi para penegak hukum untuk membuat para pemangsa tidak bisa bergerak lagi. Wacana kebiri kimia yang sempat mengemuka beberapa waktu lalu harus diwujudkan dalam kasus predator.

Di sisi lain, RUU tentang tindak pidana kekerasan seksual harus segera disahkan. DPR tidak boleh menutup mata hanya karena masih ada perbedaan pandangan. Haruskah kita menunggu kasus kekerasan seksual muncul kembali, lalu RUU ini akan dibahas lagi? Itu sangat naif.

Yuk, kita renungkan kembali para korban predator ini. Kasus seperti ini bisa terjadi pada siapa saja. Jadi jangan tutup matamu dengan sejuta dalih. Publik pasti marah, bahkan sangat marah melihat kelambanan Senayan dalam menanggapi masalah ini. harus menunggu Herry lain muncul agar semuanya bisa bergerak? Haruskah kasus ini menjadi viral dan kemudian bertindak?

Related Post