Pendidikan Dukungan Terbaik

Hal terpenting yang pernah kita pelajari di sekolah adalah kenyataan bahwa hal terpenting tidak dapat dipelajari di sekolah (Haruki Murakami, Apa yang Saya Bicarakan Saat Saya Berbicara Tentang Lari).

Catatan dari Haruki Murakami bisa dijadikan sebagai pengingat bagi kita terkait pendidikan di sekolah. Benarkah banyak hal penting yang tidak kita pelajari di sekolah? Ataukah pihak sekolah ketinggalan mendidik hal-hal mendasar bagi anak-anak?

Situasi pandemi selama dua tahun terakhir semakin membuktikan bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Poin utama yang penting diprioritaskan adalah etos kerja setiap peserta didik untuk tetap semangat menyerap berbagai ilmu. Jangan biarkan anak-anak bersekolah, mereka tidak belajar apa-apa. Mereka secara formal melewati jenjang pendidikan, namun tidak mampu memaknai setiap proses yang ditempuh.

Pengalaman belajar menjadi sangat penting bagi anak ketika mereka kemudian memasuki dunia kerja di masa depan. Waktu yang dihabiskan di sekolah tentunya harus dioptimalkan untuk meningkatkan kapasitas akademik, keterampilan, atau karakter. Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah masih sangat tinggi karena sekolah memberikan ruang kepada anak untuk menempuh tahapan pendidikan yang dapat dilalui. Terjadi pembagian peran yaitu orang tua tidak mampu mendidik anaknya secara langsung, kemudian menyerahkan anaknya ke lembaga pendidikan untuk dididik.

Kegoyahan terjadi dalam situasi pandemi, ketika anak-anak kembali ke rumah dan orang tua kembali disadarkan bagaimana penyerahan kewajiban pendidikan mereka yang semula diberikan kepada sekolah harus dikembalikan kepada mereka. Tidak semua orang tua mampu membelinya. Tidak hanya urusan akademik, namun juga keterbatasan alokasi waktu dan tenaga sangat menentukan.

Keluarga yang mampu secara ekonomi dapat mengalihkan proses pendidikan kepada pihak ketiga, seperti guru privat, lembaga bimbingan belajar, dan bimbingan belajar. Atau ada juga yang mempelajari sistemnya sekolah dirumah dan kemudian mengambil alih proses pendidikan di rumah. Sementara itu, keluarga miskin harus tetap mengandalkan guru dari sekolah. Kebaikan sekolah, meskipun merupakan hak yang harus diperoleh anak, menjadi harapan bagi anak-anak miskin untuk terus belajar.

Ketika sekolah diizinkan untuk melakukan kegiatan belajar tatap muka terbatas (PTMT), kemudian dilanjutkan dengan tersedianya vaksin untuk anak-anak, ada wajah bahagia di wajah anak-anak, orang tua, dan guru. Pembelajaran tatap muka tetap ditunggu, meski di sekolah yang memiliki akses memadai pembelajaran jarak jauh yang mengandalkan teknologi informasi masih bisa dilakukan. Relasi, perjumpaan, dan aspek sosial lainnya ternyata sangat dinanti dan dianggap penting.

Pertanyaan yang kemudian dapat diajukan adalah apakah proses selama dua tahun terakhir ketika sebagian besar kegiatan belajar dari rumah dilakukan, anak-anak kita memiliki pengalaman yang cukup untuk belajar mandiri? Atau justru menunjukkan bagaimana pembelajaran mandiri masih sangat sulit dilaksanakan dan meningkatkan ketergantungan masyarakat pada pendidikan formal? Tentu saja, penelitian yang cukup diperlukan untuk menjawab pertanyaan ini. Jika dicermati secara singkat, tampaknya tingkat ketergantungan terhadap lembaga pendidikan formal masih tinggi. Selain itu, kemandirian anak untuk belajar masih sangat rendah.

Berikan pilihan

Pilihan orang tua dan anak terhadap jenis pendidikan yang mereka tempuh tentunya akan bergantung pada berbagai kondisi yang mereka hadapi. Pilihan tersebut sangat bergantung pada kondisi sosial, ekonomi, serta pengetahuan orang tua terkait pendidikan. Bagi keluarga kelas menengah ke atas, tradisi melakukan tes psikologi untuk anak usia dini merupakan hal yang lumrah. Anak-anak justru diperiksa kemungkinan bakat dan kecerdasannya.

Pilihan sekolah kemudian tergantung pada hasil tes. Jelas mereka dapat memilih untuk pergi ke sekolah di mana saja ketika biaya tidak menjadi penghalang. Tentu saja, anak-anak miskin hanya mengandalkan sekolah umum di dekat rumah mereka. Atau sekolah swasta yang juga sangat minim di lingkungan mereka. Semakin miskin, semakin terbatas pilihannya.

Dalam situasi pandemi, tantangan bagi keluarga miskin berlipat ganda. Studi Morgan (2020) di Amerika Serikat menyatakan bahwa tantangan bagi siswa dari keluarga berpenghasilan rendah selama pandemi semakin besar. Mulai dari pemenuhan pangan, akses teknologi, hingga keterbatasan pendampingan dari orang tua. Kondisi ini menyebabkan pembelajaran online menjadi kurang efektif.

Sementara itu, studi Greenhow, Lewin, dan Willet (2021) melalui penelitiannya membandingkan respon terhadap kebijakan pendidikan di Amerika Serikat dan Inggris. Ketiganya menunjuk pada ketegangan antara pedagogi digital, aturan sistem dan keterampilan digital guru, dan pengalaman yang berbeda bagi siswa. Selain itu, penelitian ini menjelaskan tentang pergeseran pembagian kerja dan meningkatnya tanggung jawab orang tua dalam mengelola pembelajaran anak. Catatan lain dari penelitian ini adalah bahwa kesetaraan digital yang berlaku di kedua negara (akses teknologi dan dukungan sosial) justru merugikan siswa dari keluarga berpenghasilan rendah.

Uraian kedua kajian tersebut tentunya menjadi bagian penting dari perumusan kebijakan pendidikan di Indonesia. Ada banyak variabel penting yang perlu diukur ketika pemerintah berupaya mewujudkan kebijakan pendidikan. Pendidikan bagi keluarga miskin menjadi prioritas utama karena merekalah yang paling terkena dampak situasi pandemi.

Kemampuan untuk belajar mandiri adalah bagian dari budaya. Budaya dibangun melalui proses bertahap. Anak-anak dari keluarga miskin yang tidak terpapar kebiasaan belajar karena keterbatasan pendampingan dari orang tuanya tentu memiliki keterbatasan imajinasi dalam melaksanakan pembelajaran mandiri. Belum lagi ketika berbicara tentang apa yang harus dipelajari, materi mana yang diprioritaskan, keterampilan apa yang harus diperkuat. Sementara itu, anak-anak dari keluarga berkecukupan sudah memiliki pola yang jelas terkait pendidikan yang harus ditempuh, bahasa yang dipelajari, keterampilan yang harus diperkuat.

Pada titik ini, pendidikan harus berpihak pada orang miskin. Jika negeri ini masih mengharapkan kejayaan bangsa di masa depan, tidak ada tawar menawar dalam hal ini. anak dari keluarga miskin harus mendapat perhatian ekstra. Disajikan dengan berbagai buku berkualitas, akses internet dan fasilitas ICT, serta guru-guru unggulan. Imajinasi terkait masa depan yang lebih baik hanya dapat diperoleh melalui proses pendidikan yang berkualitas. Dukungan terbaik untuk pendidikan harus diberikan, jangan sampai Anda menghabiskan waktu di sekolah dan ternyata Anda tidak mendapatkan apa-apa. Semoga tidak.

Related Post