Pendidikan Literasi Iklim

Masalah perubahan iklim dalam dua dekade terakhir telah menjadi wacana global dan telah menyentuh hampir semua aspek kehidupan sosial, ekonomi dan budaya, termasuk dunia pendidikan/kurikulum. Dampak perubahan iklim merupakan sesuatu yang nyata dan bahkan telah dirasakan oleh masyarakat Planet Bumi, terutama dalam aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya, kesehatan dan lingkungan. Berbagai bencana berupa suhu ekstrim yang mengakibatkan kekeringan, kebakaran hutan, bencana alam, banjir dan tanah longsor.

Semua ini terjadi sebagai akibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari perubahan iklim dan pemanasan global. Sayangnya, meski perubahan iklim telah menjadi ancaman serius dan nyata, kesadaran masyarakat akan masalah ini masih rendah, terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, bahkan perubahan iklim dianggap ‘kurang populer jika dibandingkan dengan isu lain, seperti korupsi. , pemilu, terorisme dan pengungsi’. (Putrawidjaja, 2008; Wahyuni, 2017).

Peran lembaga pendidikan

UNESCO, melalui program Pendidikan Perubahan Iklim untuk Pembangunan Berkelanjutan, menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan sebagai agen perubahan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman generasi muda dalam ‘literasi iklim’ dan dampak destruktif pemanasan global terhadap kehidupan. Salah satu strategi yang ditempuh untuk mewujudkan harapan tersebut adalah dengan mengintegrasikan isu-isu terkait perubahan iklim ke dalam kurikulum sekolah (Satia Zen, 2022).

Untuk itu, menurut Satia Zen (2022), diperlukan tenaga pendidik (guru) yang memiliki kesadaran dan kemampuan merancang kurikulum (lokal), yang mampu merespon dampak perubahan iklim dan pemanasan global sesuai kebutuhan dan kondisi sekolah. Upaya tersebut perlu dilakukan agar isu perubahan iklim dan pemanasan global menjadi bagian dari kesadaran generasi muda masa kini dan masa depan, yang ke depan diharapkan mampu membentuk perubahan perilaku dan gaya hidup yang nyata dan relevan dengan kondisi mereka sehari-hari.

Sebagai langkah awal, Sukma Foundation bersama Tampere University (TAU), Finlandia, dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Indonesia sepakat untuk membangun kemitraan dalam konsorsium untuk mengembangkan kurikulum pendidikan dengan perspektif perubahan iklim. . Kurikulum tersebut nantinya dapat digunakan di lembaga pendidikan (sekolah menengah) dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK)/perguruan tinggi. Kemitraan dilakukan untuk merumuskan kurikulum yang berorientasi pada perubahan iklim pada tingkat pendidikan persiapan atau calon pendidik di perguruan tinggi (lembaga pendidikan pendidikan), dan untuk mengembangkan kapasitas pendidik (guru) di sekolah.

Selain itu, proyek ini akan membantu tenaga kependidikan (guru) dalam mengintegrasikan topik perubahan iklim dan pemanasan global ke dalam kurikulum sekolah. Proyek ini akan melibatkan calon pendidik, pendidik, mahasiswa, dan dosen pengajar di Finlandia dan Indonesia. Proyek ini dimulai pada 2021 dan akan berakhir pada 2023.

desain kurikulum

Untuk mencapai maksud dan tujuan di atas, proyek menggunakan pendekatan naratif (Ropo, 2019). Dengan pendekatan naratif, proyek ini bertujuan untuk mendorong calon pendidik (guru) di perguruan tinggi/LPTK dan pendidik (guru) di sekolah menengah untuk memiliki kemampuan mengintegrasikan ide-ide lokal ke dalam mata pelajaran yang diajarkan sehingga masalah perubahan iklim menjadi konkrit dan nyata. untuk siswa. (murid).

Ini juga membantu mereka mengkonseptualisasikan fenomena dalam konteks mereka. Pada tataran metodologis, proyek ini juga bertujuan untuk menerapkan pendekatan naratif agar calon pendidik dan pendidik (guru) melihat perubahan iklim dengan cara yang berfokus pada tanggung jawab dan efikasi diri, baik dalam mitigasi maupun adaptasi.

Hasil dan dampak kemitraan

Hasil terpenting yang diharapkan dari proyek ini, antara lain, pertama, pengembangan bersama modul pembelajaran yang terkait dengan pendidikan perubahan iklim. Modul-modul tersebut akan diujicobakan dan diajarkan kepada calon pendidik (guru), pelatihan pra-layanandan pendidikan (guru), pelatihan dalam jabatan. Terkait modul, konsorsium berencana mengembangkan setidaknya 3 hingga 5 modul pembelajaran.

Kedua, konsorsium berharap—dengan kolaborasi—dapat menciptakan inovasi dan pemikiran inovatif tentang perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, dan pendidikan secara umum. Pemikiran inovatif juga diharapkan meluas ke sistem pendidikan, isu kesetaraan dan keadilan, dan etika global. Singkatnya, pendidikan perubahan iklim akan memperluas cakrawala berpikir peserta dan pendidik/instruktur dan program aksi.

Ketiga, konsorsium juga mengharapkan—dari kerjasama yang telah dibangun—menghasilkan proyek penelitian dan publikasi bersama. Itu adalah bagian dari hasil yang sangat penting karena mitra bertujuan untuk mengembangkan pemahaman mereka tentang teori kurikulum dan menciptakan pengetahuan baru terkait pendidikan. Narasi, pendekatan otobiografi untuk konstruksi pengetahuan (pembelajaran), akan diadopsi dalam upaya untuk meningkatkan pemahaman peserta tentang isu-isu kompleks yang terkait dengan narasi identitas pribadi, sosial dan budaya, dan gaya hidup.

Keempat, konsorsium berharap bahwa proyek ini akan memperkuat jaringan internasional tentang pendidikan perubahan iklim di mata pelajaran yang berbeda. Untuk itu, para pihak yang bermitra akan tetap menjaga kerjasama yang telah dibangun terbuka untuk mengundang peneliti dan guru baru, dan berbagi keahlian, hasil dalam upaya untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Kelima, konsorsium berharap ada mahasiswa doktoral yang tertarik dengan topik pendidikan perubahan iklim. Jika itu terjadi, maka akan membuka peluang kerjasama dalam pengawasan/pembinaan di bidang kajian dan pelatihan kurikulum pendidikan perubahan iklim.

Keenam, proyek ini akan berdampak pada pendidikan sekolah di kedua negara, Indonesia dan Finlandia. Dampaknya akan diwujudkan melalui pelatihan bersama yang akan ditawarkan dengan membuka sumber belajar berbasis proyek yang dimiliki oleh masing-masing pihak, yang dapat digunakan guru dalam proyek sekolah yang berbeda, misalnya proyek berbasis fenomena.

Yayasan Sukma saat ini mengelola sembilan sekolah dari tingkat SD, SMP, hingga SMA yang tersebar di Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen, dan Kota Lhokseumawe, Aceh, serta dua sekolah untuk tingkat SMP dan SMA di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Keterlibatan Yayasan Sukma dalam proyek kerjasama internasional ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah. Proyek ini telah membuka peluang bagi guru dan manajemen sekolah untuk mendapatkan pengalaman tambahan dalam penelitian dan pengembangan kurikulum pendidikan perubahan iklim melalui pendekatan naratif. Pengalaman ini tentunya akan memperkuat motto Sekolah Sukma Bangsa, Sekolah yang belajar.

Related Post