Pendidikan untuk Semua

EDUCATION for All (EFA) adalah gerakan global yang diprakarsai oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dengan tujuan utama untuk memenuhi tujuan semua anak, remaja dan orang dewasa dalam mengejar kebutuhan belajar mereka. UNESCO menargetkan program EFA selesai pada 2015. Namun, keberhasilan program ini perlu kita koreksi pada 2022, tujuh tahun setelah itu.

Di Indonesia, PUS tentunya telah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah sejak pertama kali disepakati pada tahun 2000 melalui Deklarasi Dakkar. Oleh karena itu, pemerintah telah menyiapkan rencana pelaksanaan program PUS 2000-2015. Setiap tahun, kemajuan pelaksanaan PUS di Indonesia dan negara-negara anggota UNESCO terus dipantau dan hasilnya dilaporkan melalui: Laporan Pendidikan untuk Semua Pemantauan Global (EFA-GMR). Program prioritas tersebut meliputi 6 (enam) program PUS, yaitu Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Program Pendidikan Dasar, Program Pendidikan Kecakapan Hidup, Program Kesetaraan, Program Pengarusutamaan Gender, dan Program Peningkatan Mutu Pendidikan.

PUS ini merupakan perwujudan Pasal 31 UUD 1945 bahwa ‘Setiap warga negara berhak atas pendidikan’. Kata ‘setiap’ di awal pasal menunjukkan bahwa tidak ada satu pun warga negara Indonesia yang tidak mengenyam pendidikan yang layak. Oleh karena itu, pemerataan pendidikan bagi semua lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, ras, agama, golongan, pendidikan merupakan hak warga negara tanpa terkecuali, baik dalam bentuk pendidikan formal maupun nonformal.

Inti dari tujuan PUS

Esensi PUS adalah mengupayakan agar setiap warga negara dapat memenuhi haknya untuk memperoleh layanan pendidikan. Belajar untuk semua adalah suatu bentuk pembelajaran yang melibatkan semua usia, baik itu orang dewasa, orang tua, maupun anak-anak, yang bertujuan untuk lebih memahami sesuatu. Dalam hal ini hakikat pendidikan adalah proses pembelajaran sebagai upaya mengembangkan aktivitas dan kreativitas siswa dengan interaksi yang menghasilkan pengalaman belajar. Pengalaman untuk memahami bagaimana segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bekerja sebagai sarana untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1985, tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berilmu, sehat jasmani dan rohani, berakhlak mulia, mandiri, berakhlak mulia, dan berakhlak mulia. kepribadian yang kuat, dan bertanggung jawab. melawan bangsa. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Keduanya searah, yaitu pendidikan bertujuan menjadikan manusia Indonesia sebagai manusia seutuhnya, lahir dan batin, dalam mencapai kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan dapat dikatakan berhasil dan mencapai tujuannya jika ada perubahan. Perubahan tersebut merupakan perubahan tingkah laku, yang memiliki beberapa aspek, yaitu pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, keterampilan, penghayatan, emosional, hubungan sosial, fisik, karakter, dan sikap (Hamalik, 2008:30). Dalam pendidikan, peserta didik dibimbing untuk aktif, inovatif, dan kreatif dalam merespon materi. Oleh karena itu, belajar merupakan upaya mempengaruhi emosi, intelektual, dan spiritual seseorang agar mau belajar atas kehendaknya sendiri karena belajar merupakan suatu proses yang berujung pada perubahan (Fathurrohman dan Sulistyorini 2012: 6-7).

Melihat ke depan

Pertanyaannya, sudahkah pemerintah memberikan pendidikan yang layak bagi semua warganya? Apakah persamaan hak pendidikan bagi warga negara ini telah terpenuhi secara adil? Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.

Tidak hanya Indonesia, semua bangsa di dunia berusaha semaksimal mungkin untuk menjamin pendidikan bagi setiap warga negara. Namun, meskipun negara-negara ini terus berupaya untuk memastikan pendidikan untuk semua, kendala masih ditemukan. Beberapa kendala, misalnya, masih ada jutaan anak di dunia yang tidak memiliki akses pendidikan dasar. Jutaan orang dewasa buta huruf baik di negara industri maupun negara berkembang. Lebih dari sepertiga orang dewasa di dunia tidak memiliki pengetahuan tertulis, keterampilan, dan teknologi baru yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan membantu mereka beradaptasi dengan perubahan sosial dan budaya. Bahkan jutaan orang telah memenuhi persyaratan untuk pendidikan, tetapi mereka tidak memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang penting.

Selain permasalahan di atas, masih banyak permasalahan lain yang menghambat upaya pemenuhan kebutuhan belajar sebagai kebutuhan dasar. Kemunduran ekonomi, pertumbuhan penduduk yang cepat, kesenjangan ekonomi antar negara, konflik dan perang saudara, dan berbagai bentuk kejahatan dan kekerasan telah menyebabkan penurunan besar dalam pendidikan dasar di banyak negara berkembang. Di beberapa negara lain, meskipun pertumbuhan ekonomi telah berhasil membiayai perluasan pendidikan, jutaan anak tetap berada dalam kemiskinan, tidak dapat bersekolah atau buta huruf.

Melihat kondisi di atas, tidak ada konsekuensi lain bagi pemerintah dan komunitas pengajar untuk melakukan berbagai upaya agar komitmen pencapaian PUS dapat tercapai dengan baik. Upaya tersebut antara lain menyediakan dan meningkatkan dana pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan, serta meningkatkan mutu pendidikan dengan cara melatih dan merekrut guru yang profesional agar semua siswa mendapat kesempatan belajar di kelas.

Selain itu, mendorong pemerintah untuk menetapkan dan mengukur standar minimum pembelajaran dan menjangkau semua anak dengan mengembangkan strategi baru untuk menjangkau anak-anak konflik, di daerah terpencil, dan dari kelompok terdiskriminasi. Ini juga memperluas kesempatan pendidikan di semua tingkatan dan mendorong pemerintah untuk menyediakan setidaknya 20% dari anggaran nasional untuk pendidikan dan menghilangkan biaya yang membuat begitu banyak anak putus sekolah.

Masih banyak kendala untuk mencapai program PUS. Namun, tidak ada tujuan mulia tanpa hambatan untuk mencapainya. Lima negara dengan gelar pendidikan terbaik saat ini, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Kanada, dan Prancis, dapat menjadi contoh utama bagaimana suatu negara dapat berhasil dalam memberikan pendidikan bagi warganya (https://www.usnews.com/news/best-countries/best-countries-for-education). Karena pendidikan adalah paspor masa depan, dan hari esok hanya milik mereka yang mempersiapkan diri hari ini.

Related Post