Pengembangan Kota Kreatif Berbasis Lingkungan Berkelanjutan di Kota Padang

LINGKUNGAN mempengaruhi pengembangan kota kreatif melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara sinergis multistakeholder (hexa helix) dilakukan secara masif dan berkelanjutan. Teori baru ini lahir dalam penelitian disertasi yang berjudul Pengembangan Kota Kreatif Berbasis Lingkungan Berkelanjutan di Kota Padang.

Ada empat tujuan penelitian; 1. Menganalisis sistem pengelolaan kota kreatif, 2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kota kreatif, 3. Membangun model pengembangan kota kreatif berbasis lingkungan yang berkelanjutan dan, 4. Mengetahui efektivitas pengembangan kota kreatif berbasis lingkungan yang berkelanjutan model. Penelitian terkait kota kreatif ramah lingkungan belum ada di Indonesia, dan Padang sebagai ibu kota provinsi Sumatera Barat memiliki tanggung jawab besar sebagai model bagi 18 kota kabupaten lainnya.

Padang memiliki potensi untuk berkembang menjadi kota kreatif berbasis lingkungan yang berkelanjutan, namun sistem pengelolaannya masih belum optimal. Sebagai kota terbesar di pesisir barat pulau Sumatera, kota ini memiliki potensi unggulan yang tersebar di 11 kecamatan dan 104 kelurahan. Melalui rencana kerja tersebut, pemerintah kota memiliki target untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah administrasi Kota Padang. Dalam mencapai target tersebut, diperlukan dukungan dari pemangku kepentingan kota untuk mewujudkan kota yang tumbuh dengan lingkungan yang berkelanjutan dan kota yang hidup selaras dengan dinamika lingkungan yang berkelanjutan.

Lingkungan memegang peranan penting dalam kehidupan makhluk hidup, terutama manusia sebagai makhluk sosial. Unsur lingkungan terdiri dari unsur abiotik, biotik, dan sosial budaya. Menurut UU no. 32 Tahun 2009, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan segala benda, kekuatan, keadaan, makhluk hidup, termasuk manusia dan tingkah lakunya yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.

Ilmu lingkungan pada prinsipnya mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah lingkungan, termasuk perubahan lingkungan, pelestarian fungsi lingkungan, dan pengelolaan lingkungan. Tentunya salah satu fokus dan kajian dalam ilmu lingkungan adalah pencemaran dan kerusakan lingkungan. Yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di luar suatu makhluk hidup dimana lingkungan mempunyai pengaruh terhadap makhluk hidup tersebut.

Istilah lingkungan juga mengalami relativitas ruang lingkup. Bisa luas dan bisa sempit tergantung pembahasan yang akan dipelajari. Lingkungan terdiri dari beberapa bidang kajian yang bila dilihat dari interaksi yang terjadi antar komponennya dapat dibagi menurut jenis ekosistemnya. Kita mengenal ekosistem pesisir, ekosistem hutan dan ekosistem perkotaan. Ini tetap menjadi subjek ilmu lingkungan. (Dewata dan Danhas, 2018).

Dalam perkembangannya, kota dan lingkungan saling terkait dalam pertumbuhannya. Peran lingkungan dapat membantu pertumbuhan kota-kota di Indonesia, khususnya kota-kota kreatif. Pemahaman terhadap lingkungan, kualitas SDM dan sinergi multistakeholder merupakan bagian dari prasyarat kota kreatif. Dalam pelaksanaannya, diperlukan strategi pengelolaan yang efektif dan efisien dalam pengembangan kota kreatif yang ramah lingkungan.

Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan kualitas hidup generasi sekarang dan yang akan datang.

Pengembangan kota kreatif diharapkan dapat mendorong pemerataan pembangunan daerah dengan mempercepat pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan menggali potensi dan keunggulan daerah. Harapan ini sejalan dengan gol ke-11 tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang digagas oleh UNDP, yaitu mewujudkan kota yang inklusif, aman, nyaman dan berkelanjutan.

Definisi kota kreatif masih sangat beragam. Beberapa memahami kota kreatif dengan kerajinan yang mereka miliki di daerah mereka. Yang lain mengidentifikasinya dengan suatu wilayah. Pemahaman yang sama terhadap keragaman definisi tersebut sangat diperlukan sebagai landasan untuk memperoleh konsep pengembangan kota kreatif yang ideal, sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif penggerak perekonomian dan solusi permasalahan kontekstual sesuai karakter dan dinamika di Indonesia.

ICCN Indonesia Creative Cities Network (2017), memaparkan prasyarat dalam praktik kota kreatif, yaitu; sumber daya manusia, infrastruktur digital (TIK), ruang kreatif, bisnis dan asosiasi, sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan, potensi unggulan lokal, pengetahuan iptek, seni dan budaya. Mengacu pada prasyarat di atas, Kota Padang telah memenuhi kriteria sebagai kota kreatif, namun belum optimal dalam setiap indikatornya, terutama sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.

Sumber daya manusia (SDM) sangat fundamental dalam pengembangan kota kreatif. Sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan perlu dimaksimalkan antara pemerintah dengan akademisi, bisnis, komunitas, media dan agregator sebagai spiral 6 di kota kreatif.

Kebaruan adalah unsur kebaruan atau temuan dari suatu penelitian. Penelitian dikatakan baik jika menemukan unsur-unsur temuan baru sehingga memiliki kontribusi baik bagi ilmu pengetahuan maupun bagi kehidupan. Kebaruan atau output dari penelitian ini adalah model dan modul untuk mengembangkan kota kreatif berbasis lingkungan yang berkelanjutan. SIRAH Framework adalah model pengembangan yang dirancang. Modul ini juga memiliki fitur kanvas strategi dan TOR (kerangka acuan) untuk fasilitator dalam pendampingan bertukar pikiran dan merumuskan program dan aktivasi.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian gabungan (metode campuran) untuk mengembangkan, menghasilkan produk baru dan menguji validitas produk pada manajemen tingkat atas. Responden sebanyak 52 orang, terdiri dari akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, media, dan aggregator yang merupakan perwakilan multistakeholder (hexa helix) di kota Padang. Pemilihan responden dan kuisioner juga telah melewati tahapan validator di bidang ilmu lingkungan, kota kreatif, inovasi, dan bahasa.

Pengukuran studi analitik menggunakan metode analisis PLS-SEM dengan STATA. Model pengembangan yang digunakan adalah model ADDIE karena dapat membantu merancang model dan melakukan evaluasi. Model ADDIE memiliki lima tahap, yaitu analisis (analisis), desain (desain), perkembangan (perkembangan), penerapan (penerapan), dan evaluasi (evaluasi).

Hasil penelitian menunjukkan; 1. Padang sebagai kota terbesar di pesisir barat pulau Sumatera dengan 11 kecamatan dan 104 kelurahan, berpotensi untuk berkembang menjadi kota kreatif berbasis lingkungan yang berkelanjutan. Potensi yang ada saat ini dapat ditingkatkan melalui optimalisasi sistem pengelolaan kota kreatif yang berwawasan lingkungan, 2. Lingkungan mempengaruhi perkembangan kota kreatif melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui sinergi multistakeholder (heksa heliks) yang dilaksanakan secara masif dan berkelanjutan. Hasil uji kecocokan model menunjukkan R-kuadrat sebesar 0,972 dan dapat dikatakan model sangat baik karena sesuai dengan indikasi cocok model nilai mendekati 1 berdasarkan parameter model SEM,

3. SIRAH Kerangka merupakan model pengembangan kota kreatif berbasis lingkungan berkelanjutan di kota Padang, dengan modul sebagai panduan dan dilengkapi dengan model kanvas strategi yang dapat digunakan dalam merancang percepatan program unggulan pemerintah kota Padang agar lebih fokus. 4. Model pengembangan ini telah diterapkan ke salah satu perwakilan multistakeholder (hexa helix) dan penilaian ahli mendapatkan tanggapan umpan balik. Evaluasi dilakukan melalui pengisian formulir dan dapat dinyatakan bahwa model ini efektif digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan kota kreatif berbasis lingkungan yang berkelanjutan di kota Padang.

Selanjutnya, Pemkot Padang dapat mengimplementasikan model dan modul pembangunan ini secara masif dan berkelanjutan. Pemerintah melalui BAPPEDA Kota Padang sebagai pengambil kebijakan dalam membuat rencana strategis dalam mengimplementasikan model pembangunan ini agar dapat dikaitkan dengan program unggulan yang ada dan dapat dimodifikasi lebih lanjut.

Melalui SKPD/OPD terkait, pemerintah dapat mengimplementasikan model pembangunan ini dalam sosialisasi dan sosialisasi program kepada multistakeholder di Kota Padang. Peneliti selanjutnya dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi. Orang-orang bisnis sebagai bagian dari multistakeholder dapat menjadi bagian dari mendukung program pembangunan kota yang berkelanjutan secara lingkungan.

Agregator dapat menjadi fasilitator dalam mengaktifkan program kota kreatif berbasis lingkungan yang berkelanjutan. Media tersebut dapat menjadi platform komunikasi sehingga pengembangan kota kreatif berbasis lingkungan yang berkelanjutan di Kota Padang dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia.

Related Post