Pentingnya Pengetahuan dan Kesadaran Mitigasi Gangguan

pentingnya-pengetahuan-dan-kesadaran-mitigasi-bencana-1

LETAK geografis dan geologis Indonesia menjadikan wilayah-wilayah Indonesia menyedihkan akan berbagai jenis bencana. Kurang bencana yang sering terjadi dalam Indonesia antara lain gempa dunia, tsunami, tanah longsor, dan banjir.

Oleh karenanya, desain penanganan dan upaya mitigasi yang tepat dengan melibatkan kerja sama dan kolaborasi baik pemerintah maupun masyarakat sangat diperlukan.

“Pemasyarakatan pengetahuan mitigasi bencana tersebut penting untuk dapat menjangkau umum, ” ujar Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI Mila Kencana keterangan pers, Sabtu (30/1).

Peneliti Geoteknologi LIPI Eko Yulianto mengatakan bencana alam seperti gempa dan tsunami ialah bagian dari siklus bumi, jadi tidak dapat terhindarkan. Maka dibanding itu, siaga bencana harus dipahami oleh semua masyarakat.

Menurutnya, tsunami dan gempa ialah peristiwa berulang. Oleh karena itu, bencana tsunami dan gempa periode lalu pun dapat menjadi sumber pengetahuan dan peringatan dini untuk peristiwa tsunami yang dapat terjadi di masa mendatang.

“Bencana itu benar-benar berkaitan dengan perilaku manusia. Kita yang memasang apakah sebuah ancaman alam hendak berubah menjadi sebuah bencana, ataupun hanya menjadi ancaman saja, ” terang Eko.

Terkait dengan korelasi gempa dan tsunami, Eko menjelaskan tidak semua gempa berkekuatan besar dapat memicu tsunami. Di sisi lain, gempa berkekuatan kecil pun dapat memicu tsunami jika berlangsung cukup lama.

“Keterampilan untuk melakukan penyelamatan mandiri berbasis guncangan gempa menjelma hal yang wajib dimiliki di setiap orang. Yang harus diperhatikan merupakan lamanya guncangan, ” jelasnya.

Baca juga: Mitigasi Bencana, Banjarnegara Andalkan Alat Deteksi

Dia menambahkan beberapa hal penting yang harus dilakukan saat proses evakuasi tsunami yaitu mengabaikan harta benda, melarikan diri tanpa kendaraan, menjauhi sungai dan jembatan, serta berlindung pada pohon, bangunan tinggi atau tanah. Selain itu, pembangunan kontruksi panti dan gedung harus dilakukan secara mempertimbangkan faktor-faktor kebencanaan.

Sementara itu, Peneliti Limnologi LIPI Iwan Ridwansyah mengatakan dalam upaya pengurangan risiko bencana, perencanaan peraturan ruang wilayah juga merupakan hajat vital, terutama untuk mitigasi petaka hidrologi seperti banjir. Dia menekankan perencanaan tata ruang wilayah kudu melibatkan kolaborasi multisektor dan berbasis kebencanaan.

“Pembangunan perlu memperhatikan aspek sumber daya cairan dan faktor-faktor kebencanaan. Bagaimana peraturan ruang kota, bagaimana waduk dibangun, bagaimana bendungan dibangun. Supaya bencana seperti banjir dan longsor sanggup diantisipasi, ” tutur Iwan.

Senada dengan Iwan, Penyelidik Geoteknologi LIPI Adrin Tohari serupa menyatakan permasalahan kebencanaan yang harus diselesaikan antara lain regulasi metode ruang yang berkaitan tentang kerentanan lereng, tingkat pengetahuan masyarakat & pemerintah daerah terhadap bencana longsor, serta sistem peringatan dini.

“Sistem peringatan dini tindakan tanah perlu diperkuat, masih penuh wilayah dengan risiko tinggi tetapi belum memliki sistem peringatan, ” ungkapnya.

Adrin kendati menyebutkan dalam upaya pencegahan dan mitigasi bencana, LIPI telah memajukan teknologi stabilisasi lereng berbasis drainase siphon bernama The Greatest LIPI (Technology of Gravity-driven Groundwater Extraction for Slope Stabilization). Teknologi ini dikembangkan untuk membantu mencegah risiko terjadinya longsor.

Buat membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat mau terjadinya bencana longsor, LIPI kendati telah mengembangkan teknologi pemantauan intimidasi longsor berbasis nirkabel, yaitu LIPI WISELAND. LIPI WISELAND atau Wireless Sensor Network for Lanslide Monitoring yang dikembangkan melalui kolaborasi secara Pusat Penelitian Fisika LIPI, terdiri dari tipe stationary untuk menjangkau daerah yang luas, tipe mobile untuk memonitor langsung di lokasi, dan tipe personal stand-alone untuk kebutuhan personal memantau ancaman tanah longsor di sekitar rumah susunan. (OL-5)

Related Post