Pers di Tengah Pandemi

Petugas kesehatan dan jurnalis merupakan profesi garda terdepan di tengah pandemi COVID-19. Dokter, perawat, dan petugas ambulans berperan dalam menyelamatkan hidup kita dari penyakit ini. Sementara itu, pers membantu mengungkap kabut misteri seputar epidemi ini. Mereka harus menjelaskan secara jelas kepada masyarakat agar dapat mengetahui dan memahami fenomena penyakit tersebut. Selain melawan berita bohong yang berseliweran di media sosial, di drama global ini mereka juga harus bertarung dengan para penggemarnya. belpemimpin populis seperti Donald Trump dan Presiden Brasil Jail Bolsonaro, dan sejumlah pemberi pengaruh biaya, yang membuat suara para ahli kesehatan hampir tidak terdengar.

Kita mungkin masih ingat ketika pandemi ini dimulai dua tahun lalu, para tenaga kesehatan harus berjuang tanpa dibekali alat pelindung diri (APD) yang memadai. Mereka bahkan terpaksa merawat pasien dengan jas hujan plastik. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Menurut perkiraan WHO, ada sekitar 80.000 hingga 180.000 tenaga kesehatan di seluruh dunia yang meninggal akibat COVID-19 pada periode Januari 2020 hingga Mei 2021. Sebuah organisasi nirlaba di bidang kebebasan pers yang berbasis di Jenewa, The Press Emblem Campaign (PEC ), pada Jumat (7/1) lalu, lebih dari 1.400 jurnalis di seluruh dunia meninggal akibat COVID-19 selama setahun terakhir.

Ketika program vaksinasi di Indonesia dicanangkan awal tahun lalu, wajar jika pemerintah menempatkan para pejuang di garis depan (petugas kesehatan dan jurnalis) sebagai prioritas utama agar semakin banyak yang terpapar dan mati. Peran jurnalis sangat vital di tengah wabah ini, meski umumnya mereka tidak mendapatkan perlindungan asuransi yang memadai. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi organisasi profesi, baik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Asosiasi Jurnalis Independen (AJI), maupun industri pers, untuk lebih memperhatikan kesehatan dan keselamatan jurnalis.

Peringatan Hari Pers di Kendari, Sulawesi Tenggara tahun ini yang akan dihadiri oleh Presiden Jokowi pada 9 Februari, juga dapat menjadi momentum untuk mengingatkan kembali fungsi dan peran jurnalis/wartawan khususnya dalam mengatasi pandemi yang masih jauh. dari akhir. Perjuangan masih panjang. Semua pihak harus bekerja sama untuk keluar dari krisis ini. Apalagi Indonesia akan segera menjadi tuan rumah KTT G-20 yang salah satunya juga akan membahas penanganan COVID-19. Indonesia harus menjadi contoh yang baik di mata dunia internasional.

Selain mengedukasi masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan, selama ini pers berperan mengawasi berbagai penyelewengan terkait penanganan wabah, seperti menggelembungkan harga obat, mempermainkan vaksin dan masker palsu, serta melanggar proses karantina. Para pemenang Adinegoro, ajang bergengsi bagi pers tahun ini, secara umum juga membahas dan mengangkat isu-isu tersebut, seperti bahaya masker medis palsu yang beredar di masyarakat dan mereka yang mempertaruhkan nyawa melawan beratnya pandemi. Tulisan atau laporan tersebut penting untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi bangsa ini untuk segera bangkit dan keluar dari krisis. Selamat Hari Pers!

Related Post