Prakata Sekolah di Zona Kuning Diminta Penuh Kehati-hatiaa

Prakata Sekolah di Zona Kuning Diminta Penuh Kehati-hatiaa

PEMERINTAH akhirnya memberi pelonggaran bagi sekolah pada zona kuning untuk melakukan penelaahan tatap muka. Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum Komisi X Hetifah Sjaifudian memahami bahwa kebijaksanaan empat menteri bersifat multidimensional. Biar demikian, dia menekankan bahwa kesehatan dan keselamatan tetap harus menjadi prioritas.

“Harus tersedia mekanisme dari pemerintah untuk mengatur bahwa memang sekolah yang mau dibuka benar-benar memenuhi daftar kontrol. Jangan sampai itu hanya menjadi formalitas dan di lapangan tidak dilakukan, ” kata Hetifah kepada Media Indonesia, Jumat (7/8).

Menurutnya, perlu juga diadakan sidak untuk memantau berjalannya pembelajaran tatap muka, serta dikenakan hukuman bagi sekolah ataupun pemda yang terbukti belum memenuhi prasyarat namun nekat membuka sekolah. Selain tersebut, Hetifah meminta agar fasilitas PJJ tetap diadakan bagi orang sampai umur yang memilih untuk tidak memurukkan anaknya ke sekolah.

“Misalkan ada sekolah dibuka, akan tetapi sebagian orang tuanya belum enak memasukkan anaknya, mereka juga harus difasilitasi untuk tetap menjalankan PJJ. Misalnya, proses belajar mengajar pada kelas divideokan atau siswa lain bisa mengikuti melalui aplikasi telekonferensi. Jangan sampai karena sekolah dibuka dan mayoritas siswa masuk sekolah, mereka yang memilih untuk tentu di rumah jadi terdiskriminasi, ” imbuhnya.

Menangkap juga: Pemerintah Izinkan Pembelajaran Tatap Muka di Zona Kuning

Kemudian dia menodong para pemerintah daerah, pihak madrasah, dan wali agar menjadikan penelaahan tatap muka sebagai opsi belakang jika pembelajaran jarak jauh betul-betul tidak dapat dilaksanakan.

“Dari pemerintah tidak mewajibkan, akan tetapi membolehkan. Oleh karena itu aku berharap kebijakan dari pemda, besar sekolah, dan garda terakhir yakni orang tua untuk mempertimbangkan masak-masak keputusan ini. Kalau memang masih bisa di rumah, sebaiknya di rumah saja. Tapi kalau memang sulit dengan alasan keterbatasan internet, atau orangtua bekerja, barulah tatap muka ini dipilih sebagai opsi terakhir dengan protokol yang selektif, ” pesannya.

Terpaut kurikulum darurat yang baru selalu diterbitkan oleh Kemendikbud, Hetifah berniat kurikulum adaptif ini dapat dimanfaatkan bukan hanya bagi siswa yang melakukan pembelajaran jarak jauh, akan tetapi juga yang melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah.

“Meski Kemendikbud memberikan opsi buat menggunakan kurikulum sederhana atau langgeng yang biasa, saya sarankan bertambah baik sudah semuanya pakai yang sederhana saja. Yang tatap muka pun di kondisi seperti itu pasti akan stres kalau disuruh mengejar materi terlalu banyak. Guru-guru juga akan sangat banyak bebannya, sebab harus mengajar lebih dari kepala shift, ” tandasnya. (OL-7)

Related Post