Puisi Tiara Asyfia Sidik

(1)
Sebagai
bubuk dandelion
hanyut terbawa angin
menjauh dari orang tua
tidak pernah salah, selalu bertemu
tempat baru, tumbuh seperti harapan.

(2)
Seorang anak sedang mencari
kebahagiaan di bibir pagi hari,
takdir membawa elegi dingin
dia tahu; akan sangat jauh, tapi
masih berjalan dan berharap
temukan gurun yang penuh kehangatan.

Bumi berputar
cahaya pemandu
kesunyian hati
ikuti jalan yang sejuk dan teduh
membawa, membawa harapan.

(3)
aku tenggelam
mencapai akar air bernyawa
berawan sebelum menghilang; sabar,
berjuang mencari pemenang.

2021

(1)
jadi begitu
sungai di matamu
membawa naungan,
mengalir seperti harapan.

Putar, tenang, riak, arus
membayangkanku dalam riakmu
peradaban yang dilukis dari sisi kremlin
dengan berani menyambut hangatnya matahari.

(2)
Di taman gorky
enak tanpa pengekangan
senang, sedih langsung hilang
secangkir kopi setia menemani.

Berjalan di taman gorky
infiltrasi detik
sangat merindukanmu,
pelopor.

2021

Harapan
seperti ombak laut jepang
takdir inkarnasi yang luas, penuh kejutan.

hembusan angin
seperti duri langkah
mulai ribut di sini
matahari tidak pernah mengkhianati.

2021

(1)
gambar
disimpan
kabut sunyi
Anda menunggu
pagi datang, saya menemukan
bulan purnama tertutup embun.

(2)
Sepotong jejak
direkam di dinding
memahat setiap saat
ketika para pemimpin berkumpul
jabat tangan yang kuat, saya menggaruk tapal Anda.

(3)
Saya tidak merasa kedinginan
menari di lautan es yang keras
tertawa, serotonin bergegas
gores cerita kita, selamanya
gabungkan harapan dalam kerinduan sebelum dihancurkan.

2021

Tiara Asyfia Sidik, lahir di Semarang, 14 April 1992. Suka menulis puisi dan menekuni dunia fotografi. Memenangkan kompetisi peneliti muda di Pacific State Medical University, Vladivostok, Rusia. Ia adalah alumnus Magister Kesehatan Masyarakat, Far Eastern Federal University, 2017-2020. Puisi Tiara termasuk dalam antologi puisi Doa Tanah Air: suara siswa dari Tanah Pushkin yang akan segera diterbitkan. Sekarang, tinggal dan bekerja di Jakarta.

Related Post