Pusat Olahraga Nasional 2022

MELALUI 2022, pemerintah akan melakukan orientasi ‘ketat’ terhadap anggaran olahraga nasional untuk menghasilkan tanggung jawab olahraga yang besar. Istilah tanggung jawab besar dikemukakan oleh Menpora Zainudin Amali dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR akhir Januari 2022. Tanggung jawab besar dimaksud terkait dengan implementasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 86 Tahun 2021 tentang Rancangan Besar Nasional Olahraga (DBON) dan Instruksi Presiden (Perpres) Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Sepak Bola Nasional (PPN).

Ditegaskan pula bahwa seluruh kegiatan dan program olahraga selama tahun anggaran 2022 harus dikaitkan dengan pelaksanaan DBON dan PPN. Prioritas alokasi ini menjadi pilihan karena dua tanggung jawab utama tersebut belum mendapatkan anggaran khusus.

Momentum awal DBON

Sebagai rencana strategis utama, DBON telah berhasil disosialisasikan ke kota-kota besar terpilih di seluruh Indonesia pada akhir tahun 2021. Masyarakat kini memahami bahwa DBON memiliki tiga tujuan utama, yaitu 1) meningkatkan budaya olahraga, 2) meningkatkan kapasitas, sinergi, dan prestasi. produktivitas olahraga, dan 3) meningkatkan perekonomian nasional berbasis olahraga. Kerangka (kerangka) apa yang seharusnya menjadi orientasi bersama, memang harus dimulai tahun ini.

Semua orang akan ‘memandang langit yang sama’ ketika mereka mengambil tindakan untuk berkontribusi mewujudkan tujuan DBON dari posisi masing-masing; pertama, upaya peningkatan budaya olahraga harus dilakukan dengan menumbuhkan angka partisipasi, kebugaran, literasi fisik, dan kecukupan ruang terbuka olahraga dalam satu paket. Formula baru harus ditambahkan untuk membangun pembiasaan, intervensi, dan role model dalam membangun pola hidup sehat aktif sepanjang hayat.

Jalur yang digunakan adalah jalur informal, formal, dan nonformal. Target audiensnya adalah orang-orang berusia 10 tahun ke atas. Tantangan dasarnya adalah tingkat partisipasi bersyarat yang ada yang baru sekitar 32%, sedangkan fitness rate-nya 24%. Tidak cukup hanya dengan menumbuhkannya secara linier dari tahun ke tahun, tetapi harus tumbuh secara eksponensial menuju pencapaian ideal suatu saat nanti di tahun 2045.

Kedua, upaya peningkatan kapasitas, sinergi, dan produktivitas prestasi olahraga dilakukan dengan cara yang sangat spesifik. Kapasitas berorientasi pada kelayakan, kompetensi, integritas, dan dedikasi sumber daya manusia olahraga. Sinergi mengacu pada hubungan integral antara komponen yang berkontribusi pada pertumbuhan yang kuat dari kinerja olahraga. Simbiosis yang dibangun adalah simbiosis mutualisme dan komensalisme, bukan parasitisme. Bekerja sama lebih ditekankan, bukan yang penting bekerja sama. Berikutnya sistem merit seharusnya menjadi ‘kiblat’ di balik semangat sinergi yang terus ditumbuhkan.

Sedangkan esensi dari produktivitas adalah menghasilkan ‘output product’ yang sangat bergantung pada kualitas mentah memasukkan, kualitas input lingkungan dan kualitas transformasi (proses) dari ‘mesin produksi’. Produktivitas olahraga prestasi sebenarnya sangat terbantu dengan adanya kebijakan 14 olahraga prioritas di DBON. Meski mungkin masih ada pro dan kontra, pemberian skala prioritas dapat menyebabkan sistem kerja ‘mesin produksi’ bekerja lebih efektif dan efisien. Informasi tentang sistem promosi dan degradasi untuk 14 olahraga prioritas perlu dikomunikasikan secara transparan kepada publik. Hal ini bertujuan untuk memicu produktivitas prestasi olahraga yang saat ini belum menjadi prioritas.

Ketiga, peningkatan ekonomi berbasis olahraga selalu dikaitkan dengan potensi besar industri olahraga dan wisata olahraga yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ekonomi berbasis olahraga tumbuh di berbagai acara olahraga berjenjang berupa kejuaraan dan festival. Ekonomi olahraga diperlukan untuk menumbuhkan jumlah partisipasi masyarakat dalam olahraga. Partisipasi yang tinggi akan meningkatkan volume permintaan barang dan jasa.

Dari laporan Indeks Pengembangan Olahraga (SDI) 2021 dapat dikatakan perkiraan angka pengeluaran barang dan jasa olahraga bagi masyarakat Indonesia dalam satu tahun adalah Rp 43,8 triliun. Sebuah angka yang fantastis sebagai akibat langsung dari minat kolektif masyarakat terhadap olahraga. Nilai ekonomi bahkan lebih kuat ketika dijelaskan lebih luas di domain lain industri olahraga dan wisata olahraga.

Percepatan sepak bola nasional

Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Sepak Bola Nasional, sepakbola kini menjadi urusan setidaknya 12 kementerian, Kapolri, 34 gubernur, dan sekitar 500 bupati/walikota di seluruh Indonesia. Sebuah ‘formula bukan main-main’ bahkan energi yang sangat ampuh untuk mengakselerasi sepak bola di masa depan. Maju bersama untuk mempercepat sepak bola nasional oleh Agus Kristiyanto (2021) dalam artikelnya yang berjudul Universitas dan Sepak Bola mencakup empat isu inti; Pertama, pengembangan bakat calon pesepakbola. Bakat dalam sepak bola dipahami sepenuhnya baik dalam pendeteksiannya maupun dalam tahap kepanduannya. Jumlah anak berbakat dapat diasumsikan hanya 6%-8% dari total populasi anak.

Beruntung jika yang bertalenta telah berada di lingkungan dan keluarga yang baik Selamat datang anak-anaknya bisa menjadi pemain sepak bola. Artinya, aspek gifted bukan hanya soal pengembangan instrumen, tetapi juga pengembangan pola pikir, iklim apresiasi, dan penguatan akses untuk mendapatkan kesempatan meraih masa depan yang cerah. Bakat harus dibarengi dengan tumbuhnya harapan dan berbagai daya dukung.

Kedua, peningkatan jumlah dan kompetensi wasit dan pelatih sepak bola. Informasi yang sering disampaikan Ketum PSSI misalnya, jumlah sekolah sepakbola (SSB) 5.000, jumlah klub sepakbola tidak kurang dari 950. Namun, jumlah pelatih. yang ada hanya sekitar 7.000 orang. Padahal idealnya, kebutuhan sumber daya manusia tidak hanya untuk pelatih dan wasit, tetapi juga sumber daya manusia terkait lainnya.

Ketiga, pengembangan sistem kompetisi sepakbola yang berjenjang dan berkelanjutan untuk menghasilkan proses mengasah yang mempertajam kinerja prestasi pesepakbola. Secara individu dan kolektif memberikan berbagai pengalaman respon yang memperkuat kematangan kompetisi dan kedewasaan para juara. Kontinuitas dan kualitas persaingan menjadi tantangan tersendiri. Ke depan, persaingan secara bertahap akan diarahkan pada pola industri acara Sepakbola keluar dari kotak.

Keempat, penyediaan sarana dan prasarana stadion sepak bola di seluruh Indonesia yang sesuai dengan standar internasional, dan Pusat Pelatihan sepak bola. Keberadaan stadion sepak bola merupakan magnet bagi sepak bola dalam jangka panjang. Stadion ini merupakan ‘istana suci’ untuk pentas kompetisi tim. Pusat Pelatihan menjadi satu kesatuan syarat keberadaan stadion sepak bola. Menjadi wadah khusus untuk melatih hal-hal spesifik dari para pesepakbola dan sebagai tempat mengevaluasi performa yang tidak mungkin terdeteksi di tengah lapangan.

Tidak berlebihan jika episentrum kebijakan olahraga pada tahun 2022 memang berupa berbagai program dan kegiatan yang berfungsi sebagai pemicu pencapaian DBON dan PPN. Program kegiatan untuk mencapai tujuan dikembangkan sebagai katalisator lahirnya formula anggaran khusus olahraga agar tidak kehilangan momentum terbaiknya. Proses realisasi tujuan DBON dan PPN tidak bisa menunggu lama. Seolah-olah peluit wasit telah ditiup atau suara pistol mulai bergema di langit dan Anda harus mulai berlari, mempercepat, dan menciptakan akselerasi.

Related Post