Rupiah Tergerus Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS

rupiah-tergerus-kenaikan-imbal-hasil-obligasi-as-1

NILAI tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (9/3) ini ditutup melemah. Peristiwa itu seiring masih tingginya imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS).

Rupiah ditutup melemah 0, 31% atau 45 poin ke posisi Rp14. 405 per US$, sebab posisi penutupan pada Senin (8/3) lalu sebesar Rp14. 360 per US$.

Kepala Ekonom Batu Bank Josua Pardede menghargai pelemahan rupiah akibat gaya penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia. Tepatnya di tengah tren peningkatan yield US Treasury sebesar 47 bps sejak simpulan Januari 2021.

Baca juga: Lagu Nilai Tukar Rupiah Bersambung

“Peningkatan yield UST tersebut didorong ekspektasi peningkatan inflasi GANDAR dalam jangka pendek. Sependirian dengan ekspektasi pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, ” ungkap Josua saat dihubungi, Selasa (9/3).

Lebih lanjut, Josua berpendapat peningkatan yield US Treasury mendorong koreksi atau pelemahan pasar obligasi global. Itu terindikasi dari keluarnya arus modal asing dari pasar obligasi negara berkembang, termasuk pasar obligasi domestik.

“Pada Februari 2021 yang lalu, kepemilikan asing pada SBN tercatat turun sekitar US$1, 06 miliar. Sementara pada awal Maret 2021 ini, kepemilikan ganjil pada SBN turun kira-kira US$507 juta. Yield SUN dengan tenor 10 tarikh tercatat naik sekitar 18 bps, jika dibandingkan simpulan Februari 2021. Naik sekitar 59 bps jika dibandingkan akhir Januari 2021, ” papar Josua.

Baca juga: Inklusi Keuangan Belum Jangkau Pelosok, OJK: Peluang untuk Fintech

Suasana perekonomian AS yang langsung membaik terindikasi dari gaya penurunan tingkat pengangguran. Berikut, tren inflasi yang diukur berdasarkan perubahan konsumsi yang cenderung meningkat.

Lalu, inflasi tahunan GANDAR pada Februari 2021 dengan akan dirilis Rabu (10/3) waktu setempat. Itu diperkirakan kembali meningkat ke kisaran 1, 7% dari bulan sebelumnya 1, 4%.

“Optimisme pemulihan ekonomi AS juga didukung stimulus fiskal sebesar US$1, 9 triliun, yang diumumkan Sabtu kemarin. Serta, perkembangan vaksinasi di AS, ” tandasnya. (OL-11)

Related Post