Sekularisasi Iman

Maraknya kasus pelecehan seksual turut andil dalam krisis keimanan dan hilangnya keyakinan terhadap agama. Isu-isu lain, seperti pernikahan sesama jenis, berkontribusi membuat agama tertentu kurang diminati. Negara-negara yang dulunya sangat Katolik, seperti Irlandia, kini sangat sekuler dan pragmatis.

Selain masalah-masalah yang disebutkan di atas, sekularisasi telah membuka jalan bagi de-Kristenisasi skala besar. Saat ini, ada krisis besar seputar identitas Eropa dan tempat agama di ruang publik. Iman terkikis. Fenomena ini merupakan bagian dari lintasan panjang kebangkitan sekularisme. Demikian ulasan cendekiawan Prancis Olivier Roy dalam bukunya, Apakah orang Eropa Kristen?

Sedikit demi sedikit, definisi yang berbeda tentang peran seksual, keluarga, reproduksi, dan orang tua direkonstruksi. Masyarakat sekarang diatur oleh nilai-nilai baru. Masyarakat dibentuk oleh individualisme, kebebasan, dan valorisasi keinginan. Tentu saja ini mencerminkan perubahan sosial dan perjuangan panjang kesetaraan. Idealnya, ruang untuk diskriminasi tidak boleh ada.

Di negara-negara Barat, iman tidak lagi menjadi pusatnya. Banyak orang mungkin masih mengidentifikasi diri sebagai orang percaya. Namun, mereka menolak ajaran fundamental agama. Hanya sedikit yang mengikuti ajaran agama atau mengikuti ritual keagamaan. Jumlah orang yang ingin hidup selibat sebagai pendeta di gereja Katolik semakin berkurang.

Di Australia, agama Kristen (Katolik, Anglikan, Protestan) masih menjadi agama mayoritas penduduk. Sekitar 12 juta orang mengidentifikasi diri sebagai orang Kristen. Namun, jumlah itu semakin berkurang. Pada tahun 2003, 68% orang menyebut diri mereka Kristen. Pada tahun 2020, angka itu turun menjadi 44%. Pada saat yang sama, mereka yang tidak beragama melonjak dari 26% menjadi 45%.

Para pemimpin gereja kulit hitam di AS dulunya sangat terkenal. Salah satunya adalah Martin Luther King Jr. Ini adalah representasi dari harapan dan perjuangan kaum tertindas. Saat itu, gereja menjadi tempat lahirnya gerakan hak-hak sipil yang menuntut kesetaraan. Minoritas menolak menjadi korban rasisme dan diskriminasi.

Namun, harapan untuk kesetaraan kini semakin redup. Beberapa orang menyindir bahwa harapan hanya milik orang-orang tertentu. Ada pesimisme dan keputusasaan. Namun, mungkinkah pesimisme hanya sebuah teater? Artinya, pesimisme performatif atau mungkin bagian dari sikap politik.

Jika demikian, tentu mencerminkan sesuatu yang lebih mendasar dan berbahaya. Sesuatu yang melemahkan ikatan tradisi dan keluarga, komunitas dan keyakinan. Ini mempengaruhi perubahan sikap dan persepsi tentang kehidupan. Sosiolog Phillip Rieff berpendapat bahwa manusia telah menukar tatanan suci dengan tatanan sosial.

Sekularisme, tantangan iman

Roy menjelaskan tantangan sekularisme terhadap iman. Tantangan itu melahirkan Eropa modern. Komunitas Ekonomi Eropa telah dibuat. Pada tahun 1960-an sebuah revolusi sosial muncul. Ada juga Konsili Vatikan II. Tentu saja gereja didorong untuk beradaptasi dengan dunia abad kedua puluh. Abad sekuler. Gereja secara bertahap menjadi lebih sekuler dan pragmatis daripada di era sebelumnya.

Pencerahan abad ke-17 menempatkan akal di atas iman. Pemikir, seperti Rene Descartes, Immanuel Kant, dan David Hume, berusaha mendefinisikan kembali moralitas dan etika. Mereka mengajukan pertanyaan kritis tentang kebenaran dan kemanusiaan. Gereja ditantang.

Benih-benih yang ditaburkan pada masa Pencerahan, tentu saja tidak serta merta disamakan dengan anti-agama, dan telah melahirkan para filosof, seperti Friedrich Nietzsche. Nietzsche menyatakan bahwa Tuhan telah mati dan manusia adalah pembunuhnya.

Ahli teori kritis – terutama aliran Frankfurt – muncul di antara dua Perang Dunia. Para filsuf Marxis dan Freudian, seperti Walter Benjamin, melihat sejarah sebagai malapetaka tanpa akhir. Selain itu, Theodor Adorno yang karena pesimismenya menolak gagasan kemajuan manusia, justru memberi sedikit ruang bagi penciptaan keindahan dan puisi.

Sedangkan Max Horkheimer berpendapat bahwa hilangnya agama justru mengikis makna. Dia dengan tegas menolak filsafat tanpa teologi. Mereka semua adalah pemikir besar pada masa itu. Namun, sebagian besar filsuf kontra-pencerahan berkontribusi menciptakan zaman pesimisme dan keputusasaan.

Krisis nilai

Ketika agama Kristen surut di Eropa, jumlah pemeluk agama Kristen justru meningkat di beberapa negara lain, seperti di Afrika, Amerika Selatan, dan Pasifik. Kekristenan juga berkembang pesat di China meskipun negara tersebut dikuasai oleh Partai Komunis.

Dalam bukunya, The Vanishing: Senja Kekristenan di Timur Tengah, jurnalis veteran Janine Di Giovanni mencatat akhir dari Kekristenan. Para fundamentalis yang kejam telah menganiaya komunitas Kristen. Dia mengatakan mereka telah dibawa ke ambang kepunahan.

Di Mesir, Kristen Koptik menghadapi diskriminasi hukum dan sosial. Di Gaza, yang pada abad ke-4 seluruhnya beragama Kristen, kini tersisa kurang dari 1.000 orang Kristen. Janine Di Giovanni memang telah meliput zona konflik terburuk di dunia. Dia telah melihat terlalu banyak perang dan penderitaan. Oleh karena itu, bukunya harus dibaca sebagai buku tentang bagaimana orang berdoa untuk kelangsungan hidup di masa yang paling bergejolak. Sungguh kontras. Eropa mengalami de-Kristenisasi. Sementara itu, di Timur Tengah, umat Kristen berjuang untuk mempertahankan iman mereka.

Dalam masyarakat yang pluralis, sekuler, dan demokratis, peran agama, terutama dalam kehidupan bermasyarakat, selalu diperebutkan. Namun, bukan pemisahan formal gereja dan negara yang menantang apa yang Olivier Roy sebut sebagai fenomena pergeseran iman sebagai episentrum dan fokus kehidupan sosial dan budaya.

Masyarakat modern tampaknya terobsesi dengan perang identitas yang beracun. Obsesi itu seperti kanker yang memakan demokrasi itu sendiri. Muncul banyak pesimisme dan keputusasaan. Krisis hari ini bukan hanya krisis nilai, tetapi krisis referensi. Manusia saat ini semakin miskin karena krisis ini.

Di Indonesia, ketika seorang pejabat tidak dengan tulus mengucapkan selamat hari raya agama lain, itu adalah contoh kecil dari krisis nilai keikhlasan. Pragmatisme mungkin dipertaruhkan dalam pilihan ucapan selamat. Pragmatisme dapat dilihat sebagai bentuk sekularisasi iman–upaya untuk membebaskan negara atau masyarakat dari pengaruh iman atau agama. Kaum pragmatis pandai menggunakan agama untuk kepentingan politik sekuler.

Related Post