Surat Pembaca

surat-pembaca-1

HARIAN Media Indonesia pada tanggal 27 Mei 2021 menurunkan berita berjudul “Pater Otto Harap Pastor Katolik Mampu Berkati Pernikahan LGBT”. Titel berita ini telah menuai kontroversi di ruang umum.

Yang mau saya sampaikan sesungguhnya ialah bahwa berdasarkan perkembangan pengetahuan sekarang mungkin selalu sikap Gereja terhadap teman-teman LGBT akan berubah pada masa depan.

Alasannya, basis argumentasi benar mengapa Gereja Katolik tidak mengakui pernikahan sesama jenis antara lain konsep adat kodrat (ius naturale). Ius naturale adalah ungkapan dibanding hukum Ilahi atau ius divinum. Ergo, bertindak melawan hukum kodrat sama secara melawan perintah atau asas Allah yang artinya dosa. Karena itu praktik pernikahan sejenis dianggap dosa.

Akan tetapi, nyata premis hukum kodrat tersebut bukan sesuatu yang jeblok dari langit, tapi buatan dari pembuktian ilmu wawasan. Untuk mengetahui bahwa objek itu sesuai dengan keyakinan hukum kodrat, para ahli etika juga merujuk pada penemuan ilmu pengetahuan. Dari penemuan ilmu kedokteran kita tahu bahwa homoseksualitas tersebut bukan sesuatu yang ganjil tapi bersifat kodrati. Akan alasan itu WHO pada tahun 1990 sudah menghapuskan homoseksualitas dari penyakit mental. Artinya, LGBT adalah segalanya yang kodrati.

Pernyataan ini saya sampaikan pada tanggal 26 Mei di Maumere dalam suatu seminar ilmiah tentang hak-hak asasi manusia dan beta sampaikan dalam kapasitas aku sebagai seorang intelektual yang mengajar mata kuliah hak-hak asasi manusia di STFK Ledalero.

Terima kasih dan salam.
Otto Gusti
Dosen STFK Ledalero

Related Post