Tali Kemuliaan Tasbih untuk orang Mesir

Bulan suci Ramadhan memperkuat semangat keagamaan kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Salah satu wujud upaya peningkatan keimanan dan ketakwaan ini dilakukan dengan menghidupkan kembali sunnah Nabi. Salah satu sunnah adalah dzikir.

Hal ini mengacu pada QS al-Ahzab ayat 41 yang artinya ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu mengingat Allah dengan mengingat sebanyak-banyaknya’. Selain itu, hal ini juga berdasarkan hadits HR Muslim: 373 yang artinya ‘Aisyah bersabda: Rasulullah selalu berdzikir kepada Allah di setiap kesempatan’.

Salah satu media dalam menghitung zikir adalah tasbih. Kita tentu sangat familiar dengan tasbih atau subhah. Seutas biji-bijian atau pernak-pernik yang digunakan untuk menghitung zikir. Penggunaan tasbih di Mesir sudah menjadi tradisi tersendiri. Tradisi ini berkembang khususnya di kalangan Huseiniyyah, yaitu kelompok pecinta Sayyidina Husein bin Ali. Penyematan gelar Huseiniyyah di Mesir juga terbagi menjadi dua kelompok, yaitu masyarakat yang mengandalkan keterikatan garis keturunan dengan Imam Husain yang didominasi oleh kelompok Sunni, dan masyarakat yang mengandalkan rantai keterikatan teologis atau ilmiah yang didominasi oleh kelompok Syiah.

Tasbih bagi masyarakat Muslim Mesir merupakan sesuatu yang melekat dan tidak dapat dipisahkan dari mereka. Posisi tasbih seperti handphone bagi masyarakat Indonesia. Kehadiran tasbih sangat penting dan membuat pemiliknya tidak nyaman jika tertinggal.

Uniknya, cara pandang tentang kejayaan tasbih ini tidak hanya tertanam di kalangan agama, tetapi juga mencakup komunitas Muslim Mesir, khususnya para penganut tasawuf. Bahkan, kita bisa melihat fenomena unik di mana banyak wanita Mesir yang belum mengenakan kerudung, atau mungkin kerudung tidak menutupi rambut mereka, berjalan di tengah Kairo dengan gelang tasbih di tangan mereka.

Namun, tentu saja posisi tasbih menjadi isu kontroversial bagi masyarakat Muslim Mesir. Sebagian kalangan menolak penggunaan tasbih dalam dzikir. Komunitas Salafi, misalnya. Mereka menganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah karena tidak dicontohkan oleh Nabi. Penolakan ini juga datang dari beberapa komunitas tasawuf di Mesir seperti komunitas tarekat Naqsbandiyyah. Para penganut Naqsbandiyyah berpendapat bahwa penggunaan tasbih dikhawatirkan akan merugikan para jamaah Allah karena pemujaan tasbih yang berlebihan.

Penolakan tasbih didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab yang berbunyi, “Hendaklah kamu selalu mengagungkan (dzikir), mengamalkan dzikir dan mengamalkan taqdis (yaitu berdzikir dengan menyebut keesaan dan kesucian Allah). lupakan tauhid. Hitunglah dzikir dengan jarimu, karena Allah akan bertanya tentang jarimu dan kamu akan diminta untuk berbicara.” (HR.Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Berdasarkan hadits, penggunaan jari dalam menghitung dzikir lebih dianjurkan, karena sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi. Selain itu, penggunaan tasbih dikhawatirkan dapat mendistorsi keimanan karena dianggap sesat dan menimbulkan ketergantungan pada tasbih tersebut. Sedangkan tasbih dianggap sebagai sunnah yang mulia bagi mereka yang menganjurkan penggunaan tasbih. Penggunaan tasbih dinilai dapat meningkatkan keimanan karena tasbih dapat mengingatkan penggunanya untuk berdzikir, puji Tuhan.

Kesadaran akan pentingnya dzikir juga dianggap mampu menghindarkan seseorang dari perilaku buruk. Bagi mereka, orang yang selalu mengingat Allah akan takut dan malu ketika melakukan kesalahan. Keutamaan diperbolehkannya menggunakan tasbih didasarkan pada ketentuan Nabi. Ketentuan ini tertuang dalam HR At-Tirmidzi yang meriwayatkan bahwa sahabat Nabi Abu Shofiyyah menggunakan kerikil dalam menghitung zikirnya, dan Nabi tidak melarangnya.

Tasbih bagi umat Islam Mesir sangat dimuliakan. Wujud dari pengamalan tasbih ini ditunjukkan dengan berbagai cara, seperti kedekatan tasbih dengan penggunanya. Bagi yang mengagungkan tasbih, gelang tasbih tidak akan terlepas sedikitpun dari tangan pengguna.

Selain itu, ada juga sebagian orang yang membuat tasbih dari barang berharga. Tidak tanggung-tanggung, beberapa manik-manik di Mesir terbuat dari mutiara dan permata. Hal ini menunjukkan bahwa status sosial masyarakat Mesir dapat ditunjukkan melalui tasbih mereka. Tasbih tidak lagi berperan sebagai alat hitung zikir tetapi lebih dari itu, tasbih digunakan sebagai fashion atau busana bagi masyarakat Mesir.

Related Post