Transisi Energi Setengah Hati

MENJADI negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kelebihan dan kekurangan yang mempengaruhi cara hidup masyarakatnya. Dengan luasnya laut Indonesia, jelas bahwa kita adalah salah satu negara dengan kekuatan maritim terbesar di dunia. Keanekaragaman flora dan fauna laut Indonesia, serta letak kepulauan Indonesia yang strategis menjadikan Indonesia sebagai negara yang disegani di bidang maritim.

Selain itu, iklim tropis juga memungkinkan keanekaragaman flora dan fauna kepulauan Indonesia yang juga menjadi perhatian dunia – hal yang menyebabkan penjajahan Indonesia pada abad ke-17 hingga ke-19. Namun seiring dengan perkembangan zaman, Indonesia menghadapi tantangan baru. Industrialisasi merupakan tantangan yang masih menjadi tanda tanya bagaimana cara mengatasinya. Indonesia sudah menjadi negara konsumen.

Itu bisa dilihat dari sekian banyak memulai Indonesia bergerak di bidang jasa, yang hanya mendistribusikan produk jadi kepada masyarakat luas. Masih sangat jarang– atau bahkan hampir tidak ada– memulai bergerak di bidang produksi barang atau industri manufaktur. Ada beberapa alasan mengapa ini terjadi. Mulai dari rumitnya perijinan, permodalan yang terlalu tinggi dan berisiko, serta yang banyak tidak disadari adalah masih terbatasnya pasokan energi listrik di Indonesia untuk industri manufaktur.

Indonesia masih cukup tertinggal dalam hal industri manufaktur. Hal ini terlihat dari banyaknya impor barang jadi dari luar negeri ke Indonesia. Bahkan, bahan baku untuk beberapa produk tersebut berasal dari Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia perlu meningkatkan industri manufakturnya. Salah satu faktor yang mendasarinya adalah pasokan listrik yang memadai untuk keperluan industri. Hingga saat ini, lebih dari 70% total energi nasional dihasilkan oleh pembangkit listrik dengan emisi karbon tinggi, yaitu batubara dan gas.

Penggunaan batu bara dan gas masuk akal mengingat seluruh rangkaian proses pembangkitan listrik menggunakan batu bara dan gas telah dibangun selama puluhan tahun. Hal ini membuat energi yang dihasilkan menjadi murah. Energi murah menjadi kata kunci pembangkit listrik di Indonesia. Dengan ukuran sebesar itu, tidak heran jika Indonesia menjadi salah satu negara dengan emisi karbon per kapita tertinggi di dunia.

Dengan gerakan pengurangan emisi karbon di seluruh dunia, Indonesia berada di bawah tekanan negara-negara tetangga untuk turut berpartisipasi dalam gerakan pengurangan emisi karbon. Hal ini tentunya akan menjadi perubahan sistemik yang pada akhirnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Transisi dari energi dengan emisi karbon tinggi dan energi rendah karbon merupakan topik yang menantang untuk diterapkan oleh para pembuat kebijakan.

Energi terbarukan

Untuk melakukan transisi tersebut, pembuat kebijakan membuat visi bauran energi nasional, yang intinya adalah memadukan sumber energi listrik dengan sumber energi listrik emisi karbon tinggi dan sumber energi listrik rendah karbon sesuai dengan kemampuannya saat ini. Visi utamanya adalah menghapus pembangkit listrik dengan emisi karbon tinggi dan menggantinya dengan energi rendah karbon.

Indonesia telah merumuskannya sejak pertengahan tahun 2000-an, dengan visi yang ambisius yaitu merencanakan bahwa pada tahun 2025, 23% sumber listrik nasional akan berasal dari energi terbarukan. Para pembuat kebijakan telah mengambil segala cara yang dapat mereka pikirkan untuk mencapai target-target ini. Namun hingga tahun 2020, kontribusi energi terbarukan masih di kisaran 15%. Ini jauh di bawah target yang ditetapkan oleh pembuat kebijakan. Transisi setengah hati ini akhirnya membuat Indonesia di jalur tidak memenuhi target dan hanya akan menjadi mimpi.

Hal ini membuat Indonesia masih bergantung pada sumber energi listrik dengan emisi karbon tinggi untuk keperluan industri. Padahal, sudah banyak penelitian yang dilakukan oleh anak bangsa – terutama yang sedang menempuh pendidikan di luar Indonesia – yang dapat berkontribusi untuk meningkatkan bauran energi. Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) adalah salah satu jenis energi bebas karbon yang paling populer di seluruh dunia.

Banyak negara telah menerapkan dan banyak penelitian oleh anak bangsa membahas bagaimana Indonesia dapat meningkatkan bauran energinya dari sumber energi bebas karbon. Teknologi semikonduktor yang semakin maju, serta penyimpanan energi menjadikan PLTS sebagai andalan sumber energi bebas karbon.

Dengan masifnya pembangunan PLTS di seluruh dunia, harga pembangkitan listrik oleh PLTS telah mampu menandingi pembangkit dengan emisi karbon tinggi. Namun permasalahan limbah semikonduktor dari panel surya PLTS yang belum dimanfaatkan masih menjadi titik kelemahan PLTS yang masih perlu dibenahi. Jika masalah sampah ini diselesaikan, tidak ada alasan PLTS dengan sistem penyimpan energi dapat menjadi sumber energi rendah karbon yang dapat diandalkan.

Teknologi lain yang potensinya masih belum termanfaatkan adalah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Pembangkit listrik tenaga nuklir selalu menjadi ‘pilihan terakhir’ untuk menggunakan energinya tanpa jelas apa definisi dari ‘pilihan terakhir’ itu. Teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir saat ini berkembang sangat cepat dibandingkan dengan reaktor lama yang digunakan di Fukushima, Jepang– yang telah menjadi titik nol kecelakaan reaktor nuklir di era modern– atau bahkan di Chernobyl, Ukraina.

Pembangkit listrik tenaga nuklir dapat dikategorikan sebagai sumber energi bebas karbon karena: jejak karbon menghasilkan jauh lebih sedikit daripada pembangkit listrik dengan emisi karbon tinggi. Selain itu, pembangkit listrik tenaga nuklir juga merupakan salah satu teknologi teraman dengan jumlah kematian paling sedikit dibandingkan dengan energi yang dihasilkannya.kematian per terawatt-jam). Hal ini akibat banyaknya parameter keselamatan dan keamanan yang harus dipenuhi untuk membangun PLTN.

Namun perlu disadari bahwa persepsi publik tentang nuklir masih berkutat dengan bom Hiroshima-Nagasaki, Chernobyl, atau Fukushima. Hal ini harus menjadi perhatian para peneliti nuklir di Indonesia agar dapat meyakinkan masyarakat tentang keselamatan PLTN dengan mengungkap semua fakta dan mitos tentang PLTN. Ini bukan lagi masalah teknis, tapi masalah komunikasi publik.

Namun pada akhirnya, sebagian besar masyarakat Indonesia hanya memahami harga energi listrik yang mereka gunakan. Dengan demikian, pertimbangan ekonomi harus selalu menjadi dasar penentuan kebijakan pemanfaatan sumber daya listrik di Indonesia. Di sisi lain, Indonesia perlu meningkatkan kemampuan infrastrukturnya dengan tetap memperhatikan emisi karbon Indonesia yang saat ini sedang menuju ke arah yang tidak terduga.

Bauran energi memang cara yang paling mungkin dilakukan. Namun penerapan energy mix ini juga harus diperhatikan secara serius. Target yang realistis dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat saat ini harus menjadi dasar penentuan visi bauran energi nasional yang dapat dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Related Post