Unggah Konten, Unduh Cuan

Unggah Konten, Unduh Cuan

Tanda Atta Hali­lintar, Ria Ricis, mematok Young Lex mungkin sudah tak asing di telinga kebanyakan karakter Indonesia. Mereka adalah sedikit meniru sosok yang sukses menjadi miliuner berkat konten-konten yang mereka untuk dan unggah di media baik.

Platform atau pelaksanaan media sosial memang menjadi salah satu alternatif sumber penghasilan baru untuk masyarakat saat ini. Profesi sebagai kreator konten semakin banyak dijadikan pilihan oleh masyarakat. Khususnya kalangan muda untuk mencari penghasilan secara mandiri tanpa terikat sistem kegiatan tradisional di sebuah perusahaan.

Sama halnya dengan para pengguna yang terus berlomba membina konten baru demi menarik total penonton (viewer), perusahaan aplikasi media sosial juga terus bersaing buat meningkatkan jumlah pengguna.

Belum lama, aplikasi Snapchat merilis suatu fitur baru bernama Spotlight. Sifat itu memungkinkan pengguna untuk merekam sebuah video pendek dengan situasi lagu yang sedang populer. Video yang diunggah nantinya akan dapat dilihat meski pengguna tidak saling terkait atau sa­ling mengikuti di akun Snapchat.

Bahkan, pihak Snapchat telah menyiapkan dana hingga US$1 juta per keadaan atau sekitar Rp14 miliar bagi pengguna fitur tersebut. “Sebagai wujud apresiasi dan penghargaan pada kreativitas pengguna Snapchat, Snap akan membagikan dana hingga US$1 juta setiap hari bagi Snapchatters yang memproduksi video terpopuler di Spotlight, setidaknya sepanjang akhir tahun ini, ” bunyi penyataan resmi Snapchat, seperti dilansir The Guardian, akhir bulan lalu.

Artinya, pemilik video singkat Spotlight dengan total penonton terbanyak setiap harinya bakal mendapatkan bayaran dari pihak Snapchat. Penilaian sepenuhnya hanya akan dikerjakan berdasarkan jumlah penonton terbanyak, tak mempertimbangkan jumlah pengikut di akun pembuat video.

Modus tersebut diperkirakan merupakan strategi Snapchat untuk mempersempit ruang persaingannya dengan aplikasi TikTok. Berdasarkan data Statista, Snapchat memiliki pengguna aktif harian kurang lebih 249 juta mulai triwulan III 2020, dengan Amerika Serikat sebagai pasar terbesarnya, disu­sul India. Jumlah tersebut meningkat daripada periode serupa di 2019 yang sebanyak 210 juta pengguna harian aktif. Adapun TikTok mengklaim total pengguna aktifnya telah mencapai 500 juta per 2018, dengan pengaruh pengguna di Tiongkok dan India.

Hingga saat itu pihak Snapchat belum merilis berita secara resmi mengenai sistem penghitungan pembayaran bagi pembuat video Spotlight. Sayangnya, kita yang ada pada Indonesia belum bisa menikmati sifat itu lantaran kini baru diluncurkan di 11 negara, termasuk AS, Kanada, Inggris, Prancis, Australia, dan Jerman, sebelum akhirnya nanti bakal bisa digunakan di seluruh dunia.

Selain Snapchat, YouTube dapat dikatakan sebagai pelopor sistem mo­ne­tisasi platform media sosial. Honorarium akan diberikan YouTube bagi pengguna berdasarkan jumlah penonton tayangan dan pengikut sebuah akun. Mereka secara berkala melakukan penyesuaian kebijakan dalam sistem monetisasi atau konversi aset, yang dalam hal ini buatan penayangan konten, menjadi uang tunai.

Disitat dari laman resmi support Google, YouTube menyusun sistem monetitasi melalui YouTube Relasi Program (YPP). Untuk bisa mendapatkan pendapatan dari iklan, sebuah vi­deo harus mengumpulkan setidaknya 4. 000 jam waktu tonton (watch time) dalam 12 bulan terakhir. Selain itu, setiap akun harus memiliki minimal 1. 000 pengikut atau subscriber.

Terkait buatan AdSense untuk sebuah konten, penyelenggara konten akan mendapatkan bagian 68% dari total biaya iklan yang dikeluarkan pengiklan kepada pihak YouTube. Persentase itu sama rata aturannya untuk semua negara. Namun, besaran nilai yang didapat setiap pemilik akun beragam sesuai jenis iklan yang termuat di konten itu.

Satu diantara kreator Nusantara yang turut memanfaatkan platform media sosial untuk menambah penghasilan yaitu Xaviera Putri. Mahasiswa salah mulia universitas di Korea Selatan ini mengatakan awalnya tak menyangka kalau keisengannya mengunggah kegiatan sehari-hari pada YouTube dapat membuatnya memiliki bayar tambahan.

“Jadi pembukaan upload itu sebenarnya tidak duga kalau banyak yang melihat & jadi subscriber. Sekarang iya telah bisa mendapatkan penghasilan dari YouTube, ” ujarnya, ketika dihubungi, kemarin.

Saat ini, Xaviera sudah memiliki hampir 58 ribu subscribers di akun YouTube miliknya. Setahun terakhir, ia mengunggah invalid lebih 24 konten video. Ia mengatakan cukup puas dengan pola monetisasi yang berlaku saat itu di YouTube.

“Memang bagi sebagian orang tidak semoga untuk bisa dapat penghasilan karena ada syarat-syaratnya, seperti minimum subscriber dan watch time. Jadi dasar harus membuat konten yang sekiranya disukai banyak orang. Juga menjalin relasi dengan subscribers melalui suruhan di komentar, ” jelas Xaviera.

Menurutnya, untuk masa ini YouTube memang masih menjelma platform utama yang bisa dimanfaatkan untuk mencari penghasilan tambahan lewat konten video yang ia bakal. Namun, ia juga tidak merapatkan kemungkinan untuk menggunakan aplikasi lain bila dirasa ada fitur ataupun penawaran reward yang menarik.

“Mau sih nanti mencoba mungkin kalau ada waktu sedia coba-coba buat (konten Snapchat), ” ujar Xaviera.

Tugas

Namun, tidak seluruh orang punya kemampuan untuk membina konten yang asyik untuk ditonton. Tidak sedikit yang mengalami pengganggu. Pada akhirnya mereka memilih untuk tidak menggunakan cara itu sebagai alternatif mencari penghasilan tambahan.

Buat mereka yang getol memakai gawai tapi merasa tidak lihai membuat konten, Google sekarang tengah menguji coba penggunaan Google Task Mate. Itu adalah sebuah fitur yang memungkinkan seseorang mendapatkan bayaran dengan melakukan ‘tugas sederhana’ berbekal telepon seluler yang dimiliki.

Task Mate bakal menayangkan berbagai tawaran pekerjaan daripada beragam perusahaan atau individu yang dapat dikerjakan secara daring. Tiba dari yang paling sederhana kaya mengambil foto sebuah tempat, mengisi survei, hingga transliterasi bahasa.

Setelah tugas komplet serta diverifikasi, ‘honor’ akan diteruskan ke mitra pihak ketiga berdasarkan lupa uang setempat. Menarik, ya? Hendak tetapi, Task Mate hanya mampu diunduh di Play Store secara kode invitasi. Itu pun cuma terdapat di wilayah India.

Sayang sekali sebab sifat tersebut akan memungkinkan semakin banyak orang dapat menghasilkan uang sebab internet. Tentunya tanpa perlu bersusah payah meningkatkan jumlah subscriber serta penonton tayangan yang telah diunggah di media sosial. (M-2)

Related Post