Utak-atik Kulit Singkong Jadi Bioplastik

Utak-atik Kulit Singkong Jadi Bioplastik

I Gede Kesha Aditya Kameswara ialah mahasiswa program studi kimia, fakultas sains dan matematika (FSM), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, angkatan 2016. Beberapa waktu lalu, ia mengharumkan nama Indonesia dengan meraih medali perak dalam ajang Thailand Inventors Day 2020 yang berlangsung di Bangkok International Trade and Exhibition Center.

Medali itu diraih Kesha bersama dua rekan setimnya, yaitu M Sulthan Arkana dari fakultas serupa, dan Pambayun Pulung Manekung Stri Sinandang dari prodi hubungan internasional, fakultas ilmu sosial dan ilmu komunikasi (fi skom) UKSW. Medali tersebut menjadi ganjaran keberhasilan tiga serangkai itu membuat bioplastik, inovasi yang tercetus dari keresahan mereka terhadap sampah plastik konvensional.

Tak ingin menambah jumlah polusi limbah tersebut di laut, mereka lantas membuat bioplastik yang 34, 56% materinya dapat terurai dalam waktu tiga hari setelah dipakai.

Kepada Media Indonesia, Kesha menceritakan kisah di balik pembuatan bioplastik tersebut. Berikut ialah kutipan wawancara via telepon, Jumat (27/3).

Boleh dijelaskan apa itu bioplastik?
Bioplastik ialah plastik yang berdasarkan bahan renewable. Ada beberapa kriteria untuk bioplastik. Pertama, bioplastik dari bahan renewable, tapi tidak degredable. Misalnya, dia dibuat dari asam laktat, tapi materinya tidak bisa terurai di alam. Kedua, plastik dari bahan renewable dan bisa degredable. Jadi, dia dibuat dari bahan terbarukan, tapi juga bisa terurai di alam.

Bagaimana awal mula tercetus ide membuat bioplastik?
Idenya pertama kali muncul saat kami kumpul-kumpul. Kami punya keresahan yang sama terhadap plastik, membaca-baca laporan dari United Nations, kalau tidak salah soal World Economic Outlook. Jadi, di sana dikatakan bahwa sampah plastik itu dewasa ini telah membunuh kurang lebih 1 juta burung di laut. Lalu, dikatakan juga ada 500 mamalia laut yang mati setiap tahunnya. Jika diteruskan, di 2050 katanya kita akan menemukan lebih banyak plastik di laut ketimbang ikan.

Dari masalah itulah kami akhirnya memikirkan apa yang dapat kami lakukan untuk mengurangi sampah plastik di laut tiap tahunnya. Ketemulah bioplastik ini.

Bagaimana proses pembuatannya?
Awalnya kami studi literatur dulu. Dari jurnal, buku, banyak yang mengatakan bahwa membuatnya menggunakan asam laktat. Kita coba. Cuma saat itu apa yang kita kerjakan ternyata cukup mahal, sementara sedari awal, kami juga memikirkan bagaimana meringankan ongkos produksi.

Lalu, karena mahal itu, kami memikirkan cara untuk memanfaatkan bahan lokal. Dari situ akhirnya kami menemukan kulit singkong yang ternyata kandungannya bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan bioplastik, namanya polisakarida.

Polisakarida ini ketika kita sintesis sifatnya mirip plastik. Kekakuannya, fleksibilitasnya, terus juga waktu kita uji, kekuatan daya tariknya sampai 15 megapascal. Kalau plastik biasa itu 25 sampai 35 megapascal.

Memang masih ada gap sekitar 10 sampai 20 megapascal, tapi kita sedang berusaha terus supaya paling tidak bisa mendekati plastik konvensional.

Bagaimana pengembangannya saat ini?
Untuk saat ini kami belum berlanjut. Sementara itu, kami sedang studi literatur dulu di rumah masing-masing karena kondisi kampus saat ini sedang menghentikan perkuliahan dan laboratorium terkait dengan virus korona.

Kami terus mengakses buku dan jurnal supaya materi kami jadi lebih sempurna. Kami juga melihat bagaimana kegagalan-kegagalan yang pernah dilakukan sebelumnya supaya nantinya bisa menjadi lebih baik.

Pengalaman di Thailand Inventors Day 2020 kemarin bagaimana sampai akhirnya berhasil meraih medali perak?
Kemarin itu sebenarnya boleh dibilang accidentally. Jadi, kemarin itu saya penelitian sekaligus untuk bahan skripsi. Sudah berjalan sekitar delapan bulan. Nah, dari dosen menyarankan agar ini diikutkan sekalian untuk lomba tingkat nasional.

Ketika saya mengulang satu mata kuliah, saya bertemulah dengan adik tingkat saya, Sulthan Arkana. Kami ngobrol-ngobrol dan ternyata kami punya keresahan yang sama. Selain itu, ada juga teman kami, namanya Pambayun Pulung Manekung atau biasa dipanggil Lulung.

Saya ngobrol-ngobrol sama Sulthan soal plastik, rupanya sampah plastik ialah masalah internasional, maka kami ajaklah Lulung agar mengerti bagaimana international policy-nya seperti apa. Setelah lama mengobrol, kita buatlah proposal lomba lalu kita kumpulkan ke panitia. Habis itu ternyata kita lolos, dapat letter of acceptance, dan kita infokan ke dosen hingga akhirnya didukung penuh untuk berangkat ke Thailand.

Di Thailand, seperti apa proses kompetisinya?
Sangat kompetitif, di sana kami ketemu banyak universitas ternama. Awalnya agak ragu juga untuk dapat medali. Kampus sebenarnya tidak menuntut banyak dari kami, jadi kami berangkat tanpa beban, tetapi syukurnya kami dapat mempersembahkan satu medali.

Ketika berkunjung ke stan kami dan melihat presentasi kami, para juri juga memberi apresiasi. Dia mengatakan kalau karya kami ini potensial sekali, terlebih di Thailand itu ternyata juga banyak singkong. Indonesia dan Thailand ialah produsen singkong terbesar di dunia.
Maka dari itu, mereka berharap temuan kami bisa segera dikomersialisasi, selain juga ditransfer ke sana teknologinya.

Jenis singkong apa yang digunakan untuk bioplastik ini?
Yang kami ambil ialah limbah, kulit singkong dari salah satu pembuat oleh-oleh khas Salatiga, namanya Singkong D9. Nah, kulit atau limbah dari pembuatan getuk itu kami cuci agar sianidanya hilang. Kami rendamkurang lebih semalam, setelah itu kami proses polimerisasi.

Nah, setelah proses polimerisasi ini, granulnya kami ambil untuk diolah menjadi bioplastik. Granul adalah serbuk kecil yang kami ambil sebagai bahan. Secara keseluruhan, proses dari pengambilan limbah, perendaman, lalu sampai akhirnya menjadi bioplastik itu butuh waktu
kurang lebih dua hari.

Setelah itu bisa langsung dipakai?
Belum, untuk saat ini bentuknya baru lembaran. Namun, terdekat kami ingin membuatnya jadi kantong plastik (keresek) yang biasa dipakai ke pasar. Ini yang paling konsumtif. Terlebih, kami belum memiliki pengolahan limbah yang baik.

Nah, persoalan ini yang ingin coba kami jawab. Kami berharap penelitiannya berjalan terus dan kami kemarin juga sempat mencoba membuat aplikasi untuk plastik yang kami keluarkan. Memang plastik ini seandainya dibuang bisa langsung busuk, tetapi kemarin kami coba buat aplikasi dengan memanfaatkan teknologi blockchain supaya bisa memantau ke mana persebaran bioplastik kami.

Jadi, setelah selesai diproduksi bioplastiknya, kami scan, lalu diberikan ke konsumen untuk dibawa ke rumah masing-masing. Nah, di rumah, mereka bisa scan juga lewat aplikasi yang kita kembangkan, jadi kita bisa tahu persebarannya.

Harapannya, nanti kita juga bisa memberi semacam insentif bagi mereka yang bersedia mengumpulkan limbah dari bioplastik kami.

Sudah ada SDM untuk membuat aplikasi itu juga?
Iya, kemarin kami juga menggandeng satu orang lagi dari Fakultas Teknik Elektronika UKSW. Memang ekonominya sirkular sekali yang kami harap ini, dari proses produksi sampai nanti reproduksi lagi bisa berputar terus.

Nantinya, kami juga ingin merambah inovasi lain dengan membuat botol plastik dan plafon atau interior mobil. Kemarin sudah mencoba membuat untuk plafon itu. Belum 100% sama, tetapi sudah mendekati. Ke depan, kami memang ingin merambah ke dunia otomotif. (M-2)

Related Post