Wajah Baru KRL Commuter Line

Dahulu kala, ayam, ikan, dan terkadang kambing, dijejalkan ke dalam gerbong kereta. Hewan-hewan itu berbaur dengan ribuan penumpang lainnya, beberapa di antaranya tumpah ke atap. Pemandangan ini umumnya rutin terlihat pada pagi dan sore hari dalam perjalanan kereta api Jabotabek. Para pedagang ternak menggunakan moda transportasi ini untuk berbisnis di ibu kota.

Namun, itu dulu, dalam urutan masa lalu. Sekarang, jika Anda bepergian dengan kereta api jalur komuter (tidak lagi disebut kereta api Jabotabek), tempat wisata yang biasa kita jumpai adalah para pekerja kantoran, mahasiswa, dan anak muda dengan gadget terbaru. Gerbongnya bersih, dingin, harum, dan dilengkapi dengan satpam berseragam rapi. Intinya, jauh lebih nyaman dibandingkan di era 1980-an dan 1990-an.

Mengubah wajah perkeretaapian di Indonesia, khususnya yang menghubungkan beberapa daerah penyangga ibu kota, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi saat ini, memang tidak mudah. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari penertiban penumpang, sistem penjualan tiket, hingga berbagai fasilitas penunjang di stasiun. Semua itu dilakukan di bawah naungan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) sejak tahun 2008. KCJ dibentuk sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2008 dan Surat Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor S-653 /MBU/2008 tanggal 12 Agustus 2008. Pada tahun 2017, KCJ berubah nama menjadi PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang merupakan salah satu anak perusahaan di lingkungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang mengelola KA komuter Jabodetabek dan sekitarnya.

Kini, harus diakui kehadiran KA jalur komuter sangat membantu mobilitas penduduk di daerah tersebut. Dengan tarif Rp 3.000 untuk 25 kilometer pertama dan Rp 1.000 untuk kilometer berikutnya, biaya yang dikeluarkan sebenarnya relatif murah. Apalagi beberapa di antaranya sudah terintegrasi dengan Trans-Jakarta. Untuk menuju tempat kerjanya di sekitar Jalan Sudirman atau Tanah Abang, misalnya, warga yang tinggal di apartemen Kalibata hanya perlu membayar Rp. 4.000 dibandingkan, misalnya, jika mereka harus naik taksi atau ojek. on line. Selain pasti lebih mahal, kemungkinan besar Anda akan terjebak macet.

Sekarang, tarif kereta jalur komuter diusulkan naik dari Rp. 3.000 hingga Rp. 5.000. Kenaikan ini hanya berlaku untuk tarif 25 kilometer pertama, sedangkan kilometer berikutnya tetap Rp 1.000. Rencana kenaikan tarif itu akan berlaku April mendatang. VP Corporate Secretary KAI Commuter Anne Purba mengatakan alasan usulan kenaikan tersebut setelah melalui berbagai kajian yang dilakukan oleh berbagai lembaga berupa survei mengenai kemampuan membayar (kemampuan membayar/ATP) dan kesediaan membayar (kesediaan untuk membayar/WTP) pengguna terhadap tarif KRL jalur komuter Jabodetabek. Hasil kajian berbagai lembaga tersebut, kata dia, menunjukkan ATP dan WTP pengguna KRL lebih tinggi dari tarif yang berlaku saat ini.

Rencana ini menuai pro dan kontra. Ada yang berpendapat kenaikan tarif ini tidak tepat di tengah kondisi ekonomi yang sulit akibat pandemi. Namun, terlepas dari polemik tersebut, upaya PT KCI terus meningkatkan pelayanan, termasuk rencana kenaikan tarif, dengan melibatkan para pemangku kepentingan, patut diacungi jempol. Mereka juga rutin menggelar Focus Group Discussion (FGD), termasuk yang digelar Rabu (12/1), untuk mendapatkan masukan dari masyarakat, pemerhati, dan akademisi. Kegiatan ini juga termasuk pertemuan dengan perwakilan masyarakat pengguna KRL dari berbagai daerah.

Apapun keputusannya nanti, cara-cara tersebut sangat terpuji karena merupakan bentuk good governance/tata kelola perusahaan. Jangan seperti dulu, semprot dengan pewarna cair dan pasang kawat berduri di bagian atas gerbong hanya untuk menertibkan penumpang yang naik di atap. Selain tidak efektif, mereka adalah cara fasis. Apalagi sekarang era milenial, bukan saatnya menggunakan pendekatan ala kolonial.

Related Post