Warung Kopi Hingga Tiktok Jadi Kunci Sosialisasi Kepresidenan G-20

Setelah Indonesia resmi ditunjuk sebagai Presidensi G-20, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa acara ini diharapkan dapat memberikan hasil yang nyata dan menciptakan terobosan bagi pemulihan ekonomi nasional dan dunia. Menjadi tantangan bagi praktisi komunikasi untuk mendorong pembahasan agenda G-20 ke dalam bicara tentang kota.

Ada tiga pendekatan yang menjadi kunci komunikasi publik dalam Kepresidenan G-20 Indonesia saat ini. Pertama, semiotika dan filosofi logo Kepresidenan G-20 Indonesia yang sudah cukup dikenal masyarakat. Kedua, narasi agenda G-20 yang mudah dipahami semua kalangan. Ketiga, mendorong diskusi ke akar rumput melalui penggunaan media baru.

Semiotika budaya berbicara dan lahirnya kehidupan baru

Logo G-20 kepresidenan Indonesia mengusung makna harapan dan optimisme awal kehidupan yang lebih baik, sesuai dengan agenda dan semangat kepresidenan. Sembuh Bersama, Pulihkan Lebih Kuat atau ‘Pulihkan Bersama, Pulihkan Lebih Kuat’. Logo G-20 mengambil inspirasi dari unsur wayang dengan dalang yang memegang kendali dalam menentukan alur narasi. Gunungan melambangkan babak baru kehidupan dan Kawung sebagai penanda kedamaian. Kesenian tradisional Indonesia ini bahkan telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai mahakarya warisan dunia.

Sejak Indonesia dilantik sebagai Kepresidenan G-20, wayang, gunungan, dan kawung tampak meramaikan jalan protokol dan setiap sudut kota. Terlihat dari bandara tempat kedatangan delegasi, jalan tol, hingga berbagai tempat umum dipenuhi spandukpapan reklame, sampai papan reklame Kepresidenan G-20 Indonesia.

Pesan Indonesia untuk pemulihan ekonomi dunia

Indonesia menegaskan, pemulihan ekonomi dunia hanya bisa tercapai jika semua negara anggota bersatu karena situasi pandemi. Untuk itu, diperlukan strategi komunikasi dan kolaborasi untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan dengan menjembatani dialog antar negara. Baru-baru ini, pelaksanaan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (FMCBG) pertama di Jakarta, menunjukkan kemampuan komunikasi Indonesia dalam menampung aspirasi anggota, menciptakan dialog yang efektif, dan mewakili suara kelompok rentan yang dituangkan dalam rumusan komunike. .

Tidak bisa dipungkiri G-20 merupakan forum yang pembahasannya sulit dijelaskan dengan mudah dan banyak yang mengatakan terlalu elitis. Namun, seorang komunikator perlu memastikan bahwa pesan dan narasi dari agenda ini relevan dengan kehidupan masyarakat. Tiga topik utama dibahas di lebih dari 150 pertemuan pada akhir tahun. Kemudian, ditambah dengan berbagai kondisi global saat ini, salah satunya isu geopolitik terkini seperti krisis Rusia-Ukraina, pendekatan yang lebih membumi dan mudah dipahami menjadi suatu keharusan.

Beberapa contoh yang dilakukan pada pertemuan FMCBG di Jakarta beberapa waktu lalu adalah pameran produk UMKM dengan peserta yang mendapatkan fasilitas ekspor dan kredit ultramikro (UMi). Selain itu, terdapat coffee corner yang menyajikan berbagai kopi lokal berkualitas yang dapat dinikmati secara gratis oleh delegasi dan peserta di area acara. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk menjelaskan perkembangan UMKM di Indonesia, selain itu produknya juga bisa dibawa sebagai oleh-oleh oleh para delegasi.

Tak kalah menarik ketika komunitas selam Kementerian Keuangan melakukan penanaman mangrove dan mengibarkan bendera G-20 di bawah laut sebagai simbol komitmen terhadap alam. Atau saat acara olah raga bersama di GBK dan dilanjutkan dengan pelepasan burung ke alam terbuka, sebagai tanda komitmen delegasi G-20 untuk bersama-sama mengawal pemulihan kesehatan dunia guna mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan. Hal-hal sederhana seperti itu menjadi bagian dari strategi komunikasi yang efektif untuk mendorong acara G-20 yang lebih membumi.

Memperkuat narasi di kalangan akar rumput

Menurut kajian Universitas Indonesia, acara G-20 dapat meningkatkan konsumsi domestik hingga Rp 1,7 triliun, meningkatkan produk PDB sebesar Rp 7,43 triliun, dan melibatkan sekitar 33 ribu pekerja di berbagai sektor. Peluang ini perlu dipahami oleh masyarakat sebagai nilai manfaat G-20 bagi kehidupan mereka. Praktisi komunikasi perlu membangkitkan semangat dan mengedukasi publik dengan menggemakan dampak ekonomi dari Kepresidenan G-20 Indonesia. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kesadaran sampai ke tingkat akar rumput.

Data BPS menunjukkan bahwa generasi muda (milenial dan gen Z) mendominasi penduduk Indonesia lebih dari 50%. Kelompok ini merupakan komunitas yang perlu dirangkul untuk menggemakan narasi G-20 secara lebih luas. Pada FMCBG pertama, Kementerian Keuangan memulainya melalui kegiatan diskusi partisipatif dan dinamis dengan komunitas penulis muda yang tersebar di seluruh Indonesia. Antusiasme seperti inilah yang diharapkan dari masyarakat akar rumput.

Komunikasi berkelanjutan hingga akhir masa kepresidenan

Acara FMCBG terakhir merupakan tahap awal komunikasi publik yang perlu dibangun secara kolaboratif hingga puncak acara KTT G-20 di Bali, November 2022. Kegiatan komunikasi harus dipadukan dengan strategi komunikasi yang efektif dan terukur agar pemahaman dan partisipasi publik agenda-agenda yang dibahas di G-20 dapat ditangkap dengan baik oleh masyarakat luas. Ini seperti, mulai dari kedai kopi pinggir jalan hingga platform TIK tok yang digandrungi anak muda, dapat membantu menggemakan semangat G-20 untuk mempublikasikan rasa bangga atas kepercayaan yang telah diberikan kepada Indonesia sebagai Presidensi G-20 kali ini.

Related Post